Big Mac Merevolusi Pemahaman Manusia Tentang Makanan
Fast Food Week

Big Mac Merevolusi Pemahaman Manusia Tentang Makanan

Kami mewawancarai chef, jurnalis, bintang youtube, hingga jubir McDonald untuk memahami arti penting burger ukuran besar itu yang mengubah industri kuliner global.
26 Juli 2017, 10:50am

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES US.

Saat itu 1967. Ronald Reagan belum lama terpilih sebagai gubernur California, Jimi Hendrix sibuk menyulut gitarnya dengan api, dan Dr. James H. Bedford menjadi orang pertama yang dibekukan secara kriogenik. Kultur tandingan anti-perang mencapai puncaknya di Amerika Serikat dan generasi muda Amerika merayakan "Summer of Love."

Sementara itu, di sebuah kota kecil bernama Uniontown, Pennsylvania, seorang pemilik waralaba McDonald, Michael "Jim" Delligatti diam-diam merilis produk cheeseburger ke pasar Amerika yang nantinya menjadi produk budaya penting, sama pentingnya dengan semua kejadian di atas.

Dengan cara menumpuk dua potong daging sapi, sehelai keju "cheddar campuran", acar, bawang bombay, gunung selada, "saus spesial," dan potongan roti ketiga yang revolusioner, Delligatti menciptakan fondasi bagi makanan cepat saji. Bahan-bahan ini, diabadikan lewat sebuah jingle iklan, memiliki makna signifikansi yang besar. Kini, dampak dari Big Mac sangat terasa nyata.

Kami mewawancarai koki, jurnalis data, bintang YouTube, dan McDonald tentang masa lalu, masa kini dan masa depan sebuah produk hamburger yang menjadi ikon makanan Amerikana dan industri makanan cepat saji.

Big Mac Supernova

Big Mac awalnya tidak disebut sebagai Big Mac. Awalnya, produk ini dinamakan The Aristocrat, mungkin karena status "mewahnya" di menu McDonald. Tidak heran, pemilihan nama yang elitis ini gagal memenangkan hati konsumer yang seharusnya menjadi sasaran produk. Tidak lama kemudian namanya diganti menjadi "Blue Ribbon Burger," yang sayangnya kurang nikmat diucapkan.

Akhrinya, Esther Glickstein Rose, seorang sekretaris periklanan McDonald berumur 21 tahun lah yang muncul dengan istilah "Big Mac" di 1967. Ketika seorang eksekutif perusahaan yang sedang stres meminta dia muncul dengan nama produk sebelum sebuah meeting, tanpa sengaja dia mengeluarkan moniker dwisuku yang justru menjadi raksasa branding nantinya. Tentu saja, seirama dengan acara TV Mad Men, dia ditertawakan semua orang dan barulah 17 tahun setelah itu, McDonald menyadari kontribusi penting Esther.

Dua tahun setelah pergantian nama produk, Big Mac bisa ditemukan di setiap menu McDonald dan berkontribusi 19 persen terhadap penjualan total jaringan waralaba resto itu.

"Big Mac adalah produk legendaris dengan sejarah yang menarik, tapi yang paling penting adalah rasanya," jelas Dan Coudreaut, Koki Eksekutif McDonald dan Wakil Presiden Inovasi Kuliner. Bagi Coudreault yang bertugas mengawasi penciptaan karya kuliner baru dari dapur uji coba McDonald, Big Mac merupakan produk yang penting bagi brand McDonald.

"Big Mac memiliki rasa klasik tidak kenal waktu yang diinginkan semua orang di dunia—kombinasi bahan makanan yang unik namun juga pas. Selama 50 tahun, kami telah menyajikan Big Mac dan hingga sekarang ini masih menjadi salah satu hamburger terpopuler dari menu. Bulan Maret kemaren, penjualan Big Mac melonjak dua kali lipat akibat promosi Big Mac dan kami mendapatkan respon yang positif dari konsumer Millennial."

Lalu kenapa juga hamburger yang diciptakan di tahun 60an masih digemari oleh anak-anak muda AS yang akrab dengan makanan dengan citarasa dahsyat macam Warhead Juniors Extreme Sour, taco Doritos Locos, dan Mountain Dew? Coudreault mengatakan ini karena harmoni kombinasi bahan makanan Big Mac yang terbukti tidak kenal masa.

"Pasti karena rasa mustard dan acaranya," jelas Coudreault. "Big Mac berhasil menjaga rasa sausnya dengan sempurna, dan potongan selada memberikan rasa renyah ketika anda menggigit hamburger. Sausnya memiliki berbagai citarasa—manis, asin, asam, pahit dan umami. Pokoknya kesempurnaan yang hakiki. Tidak ada rahasia seputar saus kami. Silakan cek video saya di YouTube!"

Iya deh, Dan, terserah apa kata elo.

Bao Down

Coudreault bukanlah satu-satunya koki yang mengambil inspirasi dari Big Mac. Salah satu fakta ajaib tidak terbantahkan tentang Big Mac adalah rasanya yang unik, sehingga berhasil direplika sebanyak 2,4 juta kali setiap tahunnya di seluruh dunia. Popularitas dan "faktor X" Big Mac inilah yang menimbulkan ketertarikan dari banyak koki di dunia.

"Selama bertahun-tahun, Big Mac mengingatkan saya akan makanan Cina," kata koki dan pemilik Restoran Dai Lo, Nick Liu. "Saya gak tau persis apa yang mirip. Tapi, tiba-tiba koneksi itu muncul."

Big Mac Bao Bun di Restoran Dai Lo Kota Toronto. Foto oleh Luis Mora.

Bagi Liu, koneksi itu adalah roti bakpau kukus Cina dibandingkan dengan roti wijen yang digunakan untuk Big Mac, keduanya makanan pokok di masa kecilnya. "Bagi saya, rasanya nostalgik sekali, dan mengingatkan saya akan Kakek; Beliau mengajak saya ke McDonald dan saya bersemangat membeli Big Mac. Rasanya sangat spesial dan saya cinta McDonald," ujarnya mengenang.

"Sewaktu kamu masih kecil, pasti suka McDonald! Gak usah sok-sokan benci deh sekarang."

Kesadaran inilah yang mendorongnya menciptakan menu bakpao Big Mac di Dai Lo, menu yang saking populernya harus ditarik dari pasaran karena dia takut Dai Lo hanya akan dikenal karena produk ini. "Saya sadar bahwa kalau saya bisa merasa seperti ini, orang lain akan merasakan perasaan yang sama, jadi kalau saya menciptakan produk yang nostalgik, orang lain juga akan merasakan nostalgia yagn serupa," jelas Lui, menambahkan bahwa biarpun dia sudah tidak lagi memakan Big Mac, dia masih menghormati produk hamburger tersebut.

"Menurut saya konyol orang mengatakan 'Ah! McDonald! Bla bla bla ini, bla bla bla itu!" karena semua orang juga makan kok! Pas kamu masih kecil, pasti suka McDonald! Gak usah sok-sokan benci deh sekarang."

Burgernomics

Dekade 1980-an, seiring anak muda seperti Nick Liu hobi melahap Big Mac, hamburger ini tersebar luas di AS dan Kanada (dan negara lainnya) hingga signifkansi budaya produk ini bisa dirasakan di luar ranah makanan cepat saji.

James Fransham adalah jurnalis data untuk majalah The Economist. Ketika ditanya apa itu seorang "jurnalis data," dia menjawab, "Saya bekerja dengan angka, kamu bekerja dengan makanan." Ya okelah penjelasannya.

Dari sekian banyak angka yang diolah oleh ahli ekonomi dan jurnalis data, salah satunya adalah Keseimbangan Kemampuan Berbelanja (Purchasing Power Parity). "PPP adalah ide yang menyatakan biarpun nilai mata uang dibandingkan satu sama lain, mereka sebetulnya tidak melambangkan biaya tinggal sesungguhnya di suatu negara," jelas Fransham. Mengingat Big Mac bisa ditemukan di mana-mana di pertengahan 80an, editor Economist Pam Woodall menyadari bahwa Big Mac bisa menjadi semacam tolak ukur kemampuan berbelanja masyarakat sebuah negara. Maka dari itu, Fransham mengumpulkan data dengan cara menelpon kantor McDonald di seluruh dunia dan menanyakan harga jual Big Mac masing-masing, dan mentabulasi hasilnya dalam bentuk Indeks Big Mac (BMI) tahunan.

"The Economist tidak pernah menganggap serius BMI. Rupanya malah pembaca yang menanggapinya serius banget."

Katakanlah, harga rata-rata Big Mac di AS itu $5.06 dan $2.15 (atau 130 rubles) di Russia, berarti ruble nilainya lebih rendah sebanyak 57.5 persen, menurut Indeks Big Mac. The Economist menyebut BMI sebagai "panduan ringan yang meneliti apakah sebuah mata uang berada di level yang 'tepat' atau tidak," dan Fransham mengklarifikasi bahwa "Burgernomics" tidak dimaksudkan sebagai alat empirikal ekonomi. Tetap saja BMI menjadi cara yang penting untuk mempopulerkan hasil penemuan akademik ke masyarakat luas, karena semua orang tahu apa itu Big Mac dan harga jual yang pantas untuk produk ini.

"The Economist tidak pernah menganggap serius BMI, tapi justru masyarakat yang melakukan itu. [Big Mac] hanyalah satu produk dan tentu saja tidak bisa menangkap seluruh kompleksitas nilai inflasi barang-barang," jelas Fransham. "Tapi, tetap saja itu cara yang bagus untuk mempelajari prinsip ekonomi. Para pembaca menikmatinya karena itu seru dan penuh permainan kata. Tapi tentu saja anda tidak bisa menentukan kebijakan pertukaran asing menggunakan BMI."

Big Math

Sosok lain yang menerapkan konsep matematika menggunakan Big Mac atas nama edukasi adalah koki dan pemilik Joe Beef, Fred Morin yang pernah mendedikasikan satu halaman penuh berjudul The Art of Living According to Joe Beef menggunakan theorem bumbu Bic Mac.

"Saya berusaha mencari contoh yang bagus tentang penggunaan bumbu yang seimbang sehingga bisa saya pelajari dan ajarkan ke para koki," jelasnya. "Big Mac hal paling mudah yang bisa saya gunakan untuk menjelaskan: Baik pengusaha muda kaya atau anak kampus berdompet tipis pasti kenal Big Mac. Itu produk yang mudah untuk dijadikan referensi."

Morin mengatakan Big Mac adalah contoh sempurna bagaimana penggunaan bumbu bukanlah sekedar pie chart atau sekedar profil rasa. "Ini bukan hanya sekedar menambahkan gula, garam dan keasaman; mereka semua saling berinteraksi. Ketika satu bergerak, yang lain mengikuti. Penggunaan bumbu bukanlah sekedar menambahkan ini atau itu tapi merupakan interaksi yang kompleks."

"Waktu itu ada seorang pelajar yang masuk ke restoran untuk melamar pekerjaan, dia seorang jurusan matematika," ingat Morin. "Mungkin anak-anak matematika tidak akan setuju dengan saya, tapi penggunaan bumbu itu bukan sekedar teori ekonomi semata." Morin meminta sang pelajar membantunya memecahkan angka untuk theoremnya.

Sama seperti BMI, Theorem Big Mac Morin jelas bukan materi akademik serius, tapi bisa menyediakan petunjuk berharga ke dalam campuran kimia bumbu makanan yang kompleks. Kepopuleran Big Mac juga membantu koki muda untuk memahami rasio saus model kuno, jelas Morin.

"Paul Bocuse menciptakan Saus Choron—béarnaise menggunakan tomat—dan apabila kamu membaca wawancara lama dia, dia berbicara tentang menggunakan banyak cabe rawit juga. Orang mengira sausnya lembut karena menggunakan saus Perancis, tapi karena takaran yang tepat menggunakan garam, merica, tomat dan cayenne, hasilnya jauh lebih kompleks.

Big Maki

Big Mac juga kerap menjadi inspirasi koki-koki modern. Salah seorang penggemar Big Mar yang tidak terduga adalah sushi master Hiroyuki Terada dari NoVe Kitchen and Bar di Miami. MUNCHIES berbicara dengan Hiro beberapa sebelum dia memecahkan rekor dunia Guinness untuk kategori memotong wortel dengan mata dibalut di acara Gordon Ramsay, The F Word.

Di 2015, Terada mengunggah sebuah video ke YouTube berisikan karya seninya mengubah Big Mac menjadi sebuah sushi ornate maki roll. Beberapa orang (di seksi komen video) menuduh sang sushi master merusak reputasinya karena menggunakan produk "kelas bawah" untuk membuat sushi, tapi Terada nampaknya tidak peduli.

Kanal YouTubenya dimaksudkan untuk bersenang-senang, dan bukan pamer skill menggunakan pisau. Jelas ada pasar untuk konten semacam ini karena Terada berhasil mendobrak stereotip dunia perkokian sushi yang kelewat serius dan kuno, mendapatkan lebih dari 770.000 subscriber dan 130 juta view di YouTube. Semua berkat Big Mac.

Terada mengaku menggemari Big Mac dan saus yang digunakan. Jadi memang tidak heran bagaimana akhirnya Big Mac muncul di seri YouTube miliknya, Will It Sushi?. "Big Mac itu unik. Saya suka McDonald. Saya suka Big Mac," jelas Terada.

"Rasanya sih ok aja, tapi bentuknya berbeda. Saya memotong roll sushi menjadi 8 bagian. Mereka terasa seperti hamburger mini," katanya tentang kreasi uniknya. Dia juga menambahkan kentang goreng, alpukat dan sayuran.

Rekreasi ulang Big Mac yang sukses menjadi sensasi online adalah Big Mac tartare dekonstruksi buatan koki Jaimie van Heije, hanya menggunakan bahan makanan dari McDonald.

Namun bedanya, Big Mac karyanya bukanlah karya inspirasional, tapi sekedar bentuk pernyataan. "Saya bukan terinspirasi oleh Big Mac—seseorang menantang saya untuk menciptakan masakan enak menggunakan bahan-bahan Big Mac, kemudian saya jawab, 'Gak bisa, karena saya tidak suka Big Mac dan saya meragukan kualitas bahan-bahannya.'

Tapi setelah mengunjungi pabrik McDonald di Jerman, Van Heije melunak dan bersedia untuk merekonstruksi ulang Big Mac, selama bahan-bahan yang digunakan masih mentah, "Saya membuat tartare untuk menunjukkan bahwa dagingnya masih bagus untuk dimakan mentah." Jadi, Van Heije menggunakan saus reguler Big Mac untuk membumbui dagingnya, menciptakan emulsi wijen, dibuat dari krim dan salada, dan menambahkan kuning telor di atas daging, dan bukan keju seperti biasanya.

Hasilnya merupakan tribut luar biasa bagi masakan cepat saji dan sebuah produk hamburger tanpa cacat.

"Di masa kecil, Big Mac merupakan hamburger bagi orang dewasa, karena tidak tersedia di menu Happy Meal," ingat van Heije. "Saya sudah tidak suka Big Mac sekarang. Rasanya terlalu manis. Membosankan, tidak ada kejutannya. Terlalu enak rasanya."