Menyambangi Sebuah Bar di Tokyo yang Dikelola Oleh Para Biksu Buddha
Jepang

Menyambangi Sebuah Bar di Tokyo yang Dikelola Oleh Para Biksu Buddha

Selama 17 tahun, Vowz Bar menggabungkan minuman cocktail dengan filosofi Buddha.
14 Juli 2017, 8:43am

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

"Terima kasih semua buat yang sudah datang. Teks malam ini diterjemahkan dari Sansekerta asli," ujar seorang biksu paruh baya sambil tersenyum hangat. "Maaf ya teksnya hanya tersedia dalam bahasa Jepang."

Sang biksu botak berdiri di depan sebuah tempat sesaji Buddha sederhana dan mengenakan jubah berwarna coklat kopi polos. Setelah membagikan selebaran ke belasan pengunjung, dia berlutut dan mulai menyanyikan lagu pujian dengan khidmat dalam suara baritone yang bergema, mengundang lainnya untuk turut serta. Beberapa ikut bernyanyi dan lagu tersebut bertambah keras. Saya tidak bisa berbahasa Jepang tapi mencoba mengikuti dengan suara yang tipis. Nyanyian tersebut terdengar semakin kuat dan terus naik hingga akhirnya berhenti secara tiba-tiba. Sebuah bel dibunyikan dan sang biksu membiarkan situasi sunyi senyap ini bertahan selama beberapa waktu.

"Arigatou gozaimashita."

Setelah itu, dengung percakapan kembali terdengar dan para pelanggan kembali menyeruput minuman mereka. Berjalan dengan malu-malu ke arah counter, sang biksu kini terlihat sedang menuangkan sake dingin sambil tersenyum hangat. Lucunya, saya sedang tidak berada di sebuah kuil Buddha, tapi di sebuah bar kecil di daerah Yotsuya di Tokyo. Selama 17 tahun terakhir, Vowx Bar telah menyajikan minuman cocktail yang disertai dengan filosofi Buddha bagi mereka yang bersedia menerima.

Tokyo memang tidak pernah kekurangan bar dan restoran bertema yang ajaib. Mau makan bareng ninja? Bisa. Mau minum alkohol menggunakan jarum suntik di ruang emergency penjara yang mengerikan? Bisa. Mau berasa kayak karakter di film Twilight dan minum cocktail bernama Blood Clot di Cafe Vampire? Sabi. Mau nonton cewek-cewek seksi berbikini berantem melawan cyborg di Robot Restaurant? Monggo. Nah, yang membedakan Vowz Bar dari berbagai cafe atau bar di Harajuku dan Shibuya adalah bagaimana tempat ini tidak terasa seperti gimmick murahan yang ditujukan untuk menarik turis. Biarpun istilah "bar biksu" terdengar seperti oksimoron dan mencurigakan, para biksu Buddha yang bekerja di sini memiliki misi yang tulus. Semua orang boleh datang, tapi bar ini memang lebih ditujukan bagi penduduk lokal dibanding warga asing yang penasaran.

Yoshinobu Fujioko di pintu depan Vowz Bar. Semua foto oleh penulis.

"Hari gini, orang muda sudah tidak pernah pergi ke kuil," kata Yoshinobu Fujioka, seorang anggota dari sekte Jodo Shinshu. Sebagai salah satu anggota paling awal, lelaki karismatik berumur 30an ini sudah terlibat dengan ajaran sekte semenjak 2001. "Kami ingin menyebarkan ajaran Buddha ke orang-orang, itulah sebab kami memulai bisnis ini."

Bagi banyak pemeluk Buddha, meminum alkohol merupakan isu yang problematik. Aturan nomer 5 di Buddhisme memperingatkan pemeluk bahwa efek jahat dari alkohol dapat mengeruhkan pikiran manusia atau menjadi distraksi. Namun sama seperti agama lainnya, aturan spesifik agama Buddha bervariasi dari satu sekte ke sekte lainnya. Beberapa sekte menjauhkan diri dari seks, alkohol dan daging sapi, sementara sekte lainnya cenderung lebih bebas. Sekitar 10 biksu yang terlibat dengan bar ini datang dari tradisi yang berbeda-beda, tapi semuanya berada di sisi yang lebih liberal.

"Tidak ada aturan garis keras di sekte saya," jelas Fujioka. "Biksu boleh makan daging. Kami boleh minum alkohol. Kami bahkan boleh menikah kalau mau. Daijoubu desu—gak papa kok."

Maka dari itu, anda tidak akan melihat orang mabuk-mabukan di Vowz Bar. Mereka dengan santai minum cocktail dengan nama seperti Mugen-Jigoku (Penderitaan Tanpa Akhir di Neraka) atau Gokuraku-Jodo (Surga di Tanah Suci, minuman keras herbal bikinan sendiri dan yakushu atau minuman keras obat yang mengandung kura-kura cangkang lunak atau ular habu. Sama seperti kebanyakan bar di Tokyo, anda akan melihat para tamu merokok. Bagi Fujioka dan rekan-rekannya, hal-hal seperti ini diperbolehkan karena agama bukanlah sekedar praktek masochisme.

"Kami ingin orang ingat bahwa Buddhisme bukan hanya hadir di pemakaman," jelasnya. Melihat berbagai pelanggan multinasional yang memilih menghabiskan malam Minggu mereka mendengarkan nyanyian doa, mungkin usaha kami berhasil. Faktanya, konsep ini sekarang semakin populer di seluruh Jepang. "Ajaran kami mengajarkan cara untuk hidup lebih mudah dan lebih baik."

Ide Fujioka tentang hidup lebih baik menyisakan banyak ruang untuk bersenang-senang, selain tentunya tetap sadar diri. Contoh nyata: Dia adalah satu-satunya biksu yang juga berperan sebagai gitaris dan vokalis utama di sebuah band rock.

"Vowz Band!" teriaknya penuh antusias ketika saya menunjuk ke poster-poster jadwal manggung di tembok bar. "Kami semua ngeband. Kami sering manggung di Tokyo. Kami ingin mengajarkan orang lewat musik kami."

Lirik mereka kerap menampilkan referensi jenaka ke ajaran Buddha dan mereka kadang menggunakan instrumen musik tradisional. Biarpun ada elemen relijinya, musik mereka tidak terdengar seperti lagu pemakaman. Justru mereka terkenal bisa membuat penonton Shibuya bergoyang. Inilah cara mereka untuk menyebarkan pesan ke masyarakat yang semakin sekuler: lewat media yang lebih modern dan mudah dipahami.

Fujioka (kiri) bersama sesama biksu di balik bar.

Biarpun begitu, Fujioka dan rekan-rekannya tidak bermaksud untuk memaksa orang mendengarkan pesan mereka. Semua orang bebas untuk datang dan bertanya apapun di bar. Banyak tamu sedang mengalami perjalanan spiritual atau tertarik untuk belajar lebih banyak, sementara tamu lainnya hanya ingin nasihat hidup. Banyak wanita datang ke bar untuk meminta bantuan soal drama romansa mereka. Banyak juga pelanggan yang datang hanya karena penasaran dengan bar ini, dan kebanyakan dari mereka bukanlah pemeluk agama Buddha.

"Tentu saja ini tidak apa-apa," ujarnya saat saya tanya. "Kebanyakan penduduk Jepang memang seperti ini sekarang. Itulah alasan kami mendirikan bar ini."

Setelah beberapa gelas sake, saya dan teman-teman meninggalkan bar dengan perasaan damai dan sedikit lebih bijaksana. Saya baru sadar bahwa Tokyo mungkin satu-satunya tempat di Bumi dimana melihat biksu ngerock di panggung dan mengocok cocktail tidak terasa aneh sama sekali. Mungkin ini tidak sesuai dengan imej konvensional agama Buddha, tapi Vowz Bar terasa seperti tempat pelarian yang langka di tengah lanskap kota Tokyo yang hingar bingar.