Suara Pencairan Gletser yang Bikin Manusia Tenggelam Kini Bisa Kalian Dengar Sendiri
Ilustrasi oleh Dymphie Huijssen
Lingkungan

Suara Pencairan Gletser yang Bikin Manusia Tenggelam Kini Bisa Kalian Dengar Sendiri

Alat sederhana tersebut dapat merombak cara kita memahami isu perubahan iklim yang mengancam semua negara.
MM
Diterjemahkan oleh Mari Meyer
16 November 2019, 8:39am

Dalam lima hingga 10 tahun mendatang, ilmuwan kemungkinan dapat mengukur perubahan iklim hanya dengan mikrofon. Penelitian Läslo Evers, kepala R&D departemen Seismologi dan Akustik di Royal Netherlands Meteorological Institute, menunjukkan betapa instrumen sederhana bisa mengukur gelombang tekanan yang dihasilkan infrasound ratusan kilometer jauhnya.

Infrasound ialah gelombang bunyi dengan frekuensi di bawah 20 hertz. Saking rendahnya, telinga manusia tidak dapat mendengarnya. Infrasound merupakan suara yang digunakan gajah untuk berinteraksi dan yang dihasilkan pencairan gletser.

Dengan mengukur kecepatan gelombang suara ini, ilmuwan dapat menentukan suhu di laut dalam dan lapisan atmosfer lebih tinggi. Mereka juga bisa menghitung kecepatan pencairan es dengan mendengarkan peningkatan suara yang dihasilkan semua gletser selama periode waktu tertentu.

Dalam tesis PhD-nya, Evers menggunakan perangkat akustik dari era Perang Dingin (ketika mikrofon infrasound dipasang di seluruh dunia guna mendeteksi uji coba nuklir) untuk mengembangkan teknologi inovatif yang dapat mencatat suara keras tiba-tiba atau “spike”. Dengan mengukur dari beberapa stasiun dan hitung-hitungan matang, para ilmuwan iklim dapat mengetahui suhu di daerah yang selama ini sulit dijangkau.

Belum banyak yang mengetahui penelitian Evers, karena menurutnya “bidang keahlian ini masih sangat baru”. Meskipun demikian, alat tersebut berhasil merekam peristiwa luar biasa seperti ledakan meteor raksasa di atas Laut Bering. Tahun lalu, Evers menerbitkan studi yang menjelaskan betapa infrasound dapat memantau peluncuran rudal di Korea Utara secara pasif dan dari jarak jauh.

Saya bertemu langsung dengannya untuk mempelajari teknologi ini lebih dalam lagi.

VICE: Penelitianmu menjelaskan instrumen ini dapat mengukur pencairan gletser dengan bantuan infrasound. Ada hal menarik yang ingin dibagikan kepada kami?
Läslo Evers: Kami memperhatikan keterkaitan sempit antara jumlah gelombang akustik dengan kecepatan pencairan. Temuannya belum 100 persen pasti, tapi kalau ternyata akustik dan pencairan terbukti berhubungan, berarti kita bisa menggunakan alatnya untuk memantau seberapa cepat pencairan es di lokasi yang sulit dijangkau.

Bagaimana tanggapan pakar gletser?
Mereka antusias. Salah satu array kami [perangkat akustik yang berfungsi mengukur jarak sumber suara] terpasang di teluk Greenland dekat gletser. Array dapat digunakan secara jarak jauh, jadi kami mendengarkan aktivitas di sejumlah gletser dalam radius 30-40 kilometer serta mendeteksi rata-rata peningkatan suara. Dari situ, kami menemukan rata-rata tingkat pencairannya.

Alatnya dapat mengukur suhu melalui “media”, seperti udara dan air. Boleh dijelaskan maksudnya apa?
Suhu air dan udara bisa diukur menggunakan mikrobarometer. Suara bergerak lebih cepat pada media hangat daripada dingin. Dengan menggunakan beberapa stasiun pengukuran pada waktu bersamaan, kecepatan suara dapat menentukan suhunya secara akurat. Akan lebih mudah ditebak kalau sumber suaranya konstan.

Kenapa bisa begitu?
Saya ambil contoh pengamatan gunung berapi di Kamchatka yang sudah hampir setahun meletus. Di sana, suaranya konstan. Sumber suara konstan ini lalu menjadi bahan pengamatan kami tentang atmosfer atau lautan. Teknologi ini sangat menarik karena dapat digunakan untuk mengukur bagian atmosfer yang belum pernah tersentuh. Hanya dengan mendengarkan, kita bisa mendapatkan gambaran lapisan atmosfer yang lebih tinggi.

Apakah cara kerjanya sama jika digunakan mengukur bagian terdalam samudra?
Jauh lebih dari itu. Mengandalkan sumber suara [seperti letusan di dalam air] berarti kamu harus menunggu sampai ada yang meledak. Kami tahu suhu laut dalam dengan memperhatikan kebisingan sekitar yang ditangkap array. Bermodal pendengaran, kamu dapat menentukan kecepatan kebisingan sekitar dan suhunya.

Seberapa akurat suhu yang diukur pada laut dalam?
Saat ini, akurat ke desimal. Harus lebih akurat lagi jika ingin mengukur pemanasan global dengan tepat.

Bagaimana caranya?
Menggunakan lebih banyak mikrofon. Semakin banyak data, semakin tinggi tingkat keakuratannya. Kami sedang bereksperimen menggunakannya sekarang. Ada banyak hitung-hitungan juga.

Apakah penelitianmu sudah mulai diketahui ilmuwan iklim lainnya?
Masih tahap awal sekarang, kebanyakan lewat kutipan akademis dan mempresentasikannya di konferensi. Harus sering berdiskusi dengan orang lain karena ada perbedaan bahasa. Saya rasa begitu orang-orang memahami teknologi akustik, kita dapat berkontribusi besar pada pengukuran suhu laut dalam dan lapisan atmosfer lebih tinggi. Selama ini, kita tak begitu mengetahui pengaruh area-area tersebut terhadap cuaca dan iklim Bumi.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Netherlands.