Piala Dunia 2018

Fans Piala Dunia Sering Sembarangan Cium Reporter Perempuan, dan Itu Enggak Lucu

Jurnalis olahraga yang sedang meliput di Rusia mengalami langsung sisi buruk festival sepakbola dunia yang indah ini. Ironisnya, banyak yang memaklumi aksi itu sebagai becandaan belaka
27.6.18
Reporter olahraga dari Brazil, Julia Guimaraes, dilecehkan pada saat liputan siaran langsung. Dicuplik via Twitter

Saat Piala Dunia dimulai dan para penggemar sepakbola dari seluruh dunia datang untuk mendukung tim favorit mereka, kita mulai melihat sisi suram yang tak asing-asing amat dari olahraga yang indah ini: pelecehan seksual oleh para penggemar terhadap wartawan olahraga perempuan.

BBC melaporkan bahwa peliput olahraga asal Brasil, Julia Guimaraes sedang melaporkan dalam suatu siaran langsung, di luar pertandingan Jepang vs Senegal pada Minggu lalu saat seorang laki-laki mendekati dan mencoba menciumnya. Dalam sebuah rekaman yang disebarkan di Twitter, Guimaraes menghindari ciuman tersebut sebelum memprotes pelakunya, laki-laki yang tampaknya berusia akhir 20-an atau awal 30-an.

Iklan

“Heh, jangan kayak gitu!” ujar Guimaraes saat laki-laki itu sudah keluar dari bidikan kamera. “Jangan pernah lakukan ini lagi, OK?”

Lalu kita mendengar suara laki-laki berucap, “Maaf ya,” saat Guimaraes terus mencecar penyerangnya. “Saya tidak mengizinkan kamu melakukan itu,” ujarnya sambil menggelengkan kepala. “Jangan pernah lakukan itu, OK? Ini gak sopan, dan gak benar. Jangan pernah lakukan lagi.”

Guimaraes setelah itu mencuit bahwa insiden serupa telah terjadi saat dia sedang melaporkan pertandingan Rusia vs Mesir sebelumnya. Dia mendeskripsikannya sebagai “mengerikan,” kepada situsweb olahraga asal Brasil, Globo Sport. Dia juga bilang bahwa insiden itu membuatnya merasa “putus asa dan sedih.” “Bedanya, kali ini saya berani merespon,” ujarnya. “Tapi, sangat menyedihkan bahwa orang-orang enggak paham mengapa orang-orang seperti itu merasa berhak melakukan pelecehan.”

Guimaraes bukan satu-satunya reporter olahraga yang membahas soal pelecehan yang dialaminya saat meliput. Pada bulan Maret, 52 reporter olahraga perempuan meluncurkan kampanye #DeixaElaTrabalhar [“Let her work” atau “biarkan dia bekerja”] untuk menyorot betapa seringnya mereka mengalami pelecehan selama siaran langsung. “Saat kamu menyalakan kameranya, mereka mulai mencoba mencium dan memeluk dan memegangmu,” ujar jurnalis Bibiana Bolson dari Espn dalam video kampanye mereka, yang disebar secara luas di media sosial Brazil. “Itu adalah pengalaman yang benar-benar mengerikan.”

Fenomena jurnalis perempuan dilecehkan saat bekerja semakin marak dengan adanya Piala Dunia tahun ini—seorang koresponden Kolombia untuk kanal Jerman, Deustche Welle, di Spanyol juga dirogoh awal minggu ini saat siaran langsung. Seorang laki-laki mendekati Julieth Gonzalez Theran, mencium pipinya, dan memegang payudaranya. Setelah menyelesaikan liputannya, Theran membicarakan insiden tersebut di media sosial. “Kami tidak pantas diperlakukan begini,” tulis Theran, yang meminta diperlakukan dengan hormat.

“Kontak seksual tanpa izin atau yang tidak diinginkan, termasuk ciuman dan sentuhan, adalah serangan seksual,” ujar Jen Calleja, salah satu direktur kampanye anti-pelecehan Good Night Out. “Orang-orang berkomentar bahwa mereka menganggap ini hanya ‘becandaan’. Tapi mereka tidak berhak menentukan ini adalah apa, sang target pelecehan lah yang bisa menentukannya.”

Calleja bilang bahwa perhatian yang tidak diinginkan bisa sangat mengerikan dan membingungkan, terutama bagi penyintas penyerangan seksual. “Melihat seseorang mendekatimu tiba-tiba di ruang publik, terutama sebagai perempuan muda, bisa menjadi sangat mengerikan berdasarkan pengalaman-pengalaman diserang dan dilecehkan terdahulu,” ujarnya. “Adalah hak setiap reporter untuk tidak dilecehkan atau diserang saat bekerja.”