Fotografi

Merekam Festival Tato 'Ajaib' di Thailand

Para perayaan Wai Kru, ribuan umat Buddha di Negeri Gajah Putih mengantre ditato para suhu. Rajah tersebut diyakini dapat memberi nasib baik dan kekebalan bagi pemiliknya.
14.3.18
Semua foto oleh penulis.

Di Thailand, selalu ada satu hari khusus ketika ribuan penganut agama Buddha mengantre ditato tubuhnya. Tato-tato tersebut diyakini dapat memberi kekuatan gaib bagi pemiliknya. Lokasi yang paling ramai dikunjungi dalam momen perayaan Wai Kru—tahun ini jatuh pada 3 Maret lalu—adalah Biara Wang Bang Phra di Kota Nakhon Pathom. Lokasinya berjarak 80 kilometer dari Ibu Kota Bangkok. Dalam upacara Wai Kru, ada ritual khusus merajah tubuh dilakukan para biksu, yang disebut praktik sak yant.

Iklan

Tato tersebut memakai motif kuno geometris yang melambangkan doa-doa dalam ajaran Buddha. Sepanjang ritual, karena ada ribuan orang yang datang, maka proses menggambar tato bisa memicu antrean berjam-jam. Sebagian membuat tato baru, sementara yang lain menajamkan lagi tinta di rajah yang sudah mereka punya. Sebab ada kepercayaan kalau khasiat magis tato sak yant dapat luruh apabila tato di kulit mulai memudar.

Upacara Wai Kru tidak sekadar soal tato. Dalam ritual sehari itu, ribuan umat meminta berkat dari biksu-biksu yang hadir. Mereka juga memberi penghormatan mengenang Luang Pho Poen, seorang biksu legendaris hidup di Abad 20, yang kondang sebagai pakar seni sak yant. Selama ditato, sudah biasa jika ada umat yang kerasukan atau trance. Perilaku mereka saat kerasukan dipengaruhi motif rajah yang ditorehkan ke kulit. Ada yang tiba-tiba menjadi seperti macan, atau meniru gerakan Hanoman, dewa kera dihormati dalam ajaran Hindu.

Tato-tato sak yant diyakini dapat melindungi pemiliknya dari berbagai ancaman, baik fisik maupun ancaman mistis semacam santet. Tato tersebut juga dipercaya bisa mendatangkan nasib baik. Banyak petani di Negeri Gajah Putih meminta rajah sak yant, karena mereka percaya bisa kebal penusukan, peluru, serangan binatang liar, dan macam-macam bahaya lainnya.

Proses menorehkan tato sak yant sangat menyakitkan, karena melibatkan jarum besi sepanjang satu meter. Tiap umat harus ditato oleh seorang ajarn, alias suhu bidang tato sak yant. Sebelum dirajah, umat wajib melakoni beberapa ritual penyucian. Misalnya tidak boleh minum dan melakukan hal-hal maksiat.

Iklan

Tiap motif sak yant punya lokasi khusus di tubuh, tak bisa sembarangan ditorehkan ke kulit. Sesudah selesai menato motif sak yant yang terinspirasi mahluk mitologi atau mahluk dalam kitab kuno bangsa Khmer, maka ajarn akan meniup tato tersebut sambil membacakan mantra, agar si pemilik mendapat kekebalan dan perlindungan.

Sesudah prosesi menato di Wai Kru tuntas, maka umat akan berbaris memberi persembahan atas sak yant yang mereka terima. Persembahan itu meliputi bunga, dupa, dan rokok untuk para ajarn. Uniknya, selama upacaya, tidak banyak suara terdengar. Suasana kuil cenderung senyap. Padahal ada ribuan orang di lokasi. Namun, banyaknya manusia membuat pengelola kuil sulit mengatur perilaku umat yang datang. Ada saja umat yang merokok sembari menunggu giliran ditato atau menunggu kerabatnya selesai dirajah. Padahal ada simbol 'dilarang merokok' besar-besar di berbagai tempat dalam kuil.

Dta, lelaki 28 tahun asal Bangkok, untuk kali keempat mengikuti Wai Kru. Kali ini dia datang untuk menambahkan rajah di tubuhnya. Di dua kesempatan sebelumnya, dia hanya menajamkan tato yang dibuat saat kali pertama mengikuti Wai Kru. "Saya sudah punya dua tato sak yant," ujarnya kepada VICE. "Buat saya penting untuk membuat tato ini, karena dalam setahun hanya di hari inilah tato sak yant yang dibuat dapat memberi kekuatan bagi kita."