fesyen

Bisnis Fesyen Menghasilkan Emisi Gas Rumah Kaca Lebih Banyak dari Industri Penerbangan

Berita buruk lainnya, limbah plastik dari bisnis fesyen juga lebih merusak lingkungan ketimbang limbah industri perawatan kulit.
tempat pembuangan akhir di Australia, via Wikicommons

Kabar tak mengenakkan datang dari kancah fesyen: sebuah laporan baru membeberkan dampak negatif luar biasa dari dunia fesyen terhadap lingkungan. Laporan tersebut yang dikeluarkan oleh The Mac Arthur’s Foundation dan diberi judul A New Textiles Economy: Redesigning Fashion’s Future, dengan gamblang menggambarkan sisi gelap industri tekstil masa kini serta memperkirakan bahwa dampak negatif fesyen bakal makin parah pada 2050 jika tak ada langkah signifikan yang kita ambil. Saat ini, laporan tersebut menduga bisnis fesyen menghasilkan 1,2 miliar ton emisi gas rumah kaca per tahunnya. Jumlah ini jauh lebih tinggi dari jumlah total emisi gas serupa yang dihasilkan penerbangan internasional dan jasa pengiriman di seluruh dunia. Lebih jauh, bisnis fesyen juga lebih merusak lingkungan saat dibandingkan dengan bisnis kosmetik. Jumlah limbah serat plastik mikro industri fesyen yang dibuang ke laut setiap tahun mencapai setengah juta ton. Itu sama dengan 16 kali lebih besar dari jumlah microbead yang disebarkan oleh industri perawatan kulit. Belakangan, makin banyak bukti yang menunjukkan bahwa partikel plastik kecil telah mencemari ikan dengan beragam zat berbahaya. Bagian lain laporan itu menyebutkan bahwa jika tak ada perubahan,industri fesyen bakal menghabiskan seperempat persedian karbon dunia pada 2050. “Industri tekstil bergantung sepenuhnya pada sumber daya yang tak bisa diperbarui..termasuk di antaranya minyak untuk memproduksi serat sintetik, pupuk untuk menanam kapas, dan cairan kimia untuk membuat, mewarnai dan menyelesaikan serat dan tekstil,” tulis Ellen MacArthur, kepala yayasan yang mengeluar laporan tentang dampak bisnis fesyen pada lingkungan tersebut. “Sistem linear industri tekstil yang menghasilkan banyak limbah dan masih digunakan saat ini adalah biang kerok dari pemborosan penggunaan sumber daya alam.” Solusinya? Brand-brand yang saat ini bersaing harus menggalang kerja sama, hal yang sebelumnya tak pernah terjadi dalam sejarah fesyen. “Beberapa tindakan telah dilakukan oleh beberapa brand, pengecer dan organisasi lainnya untuk merombak industri fesyen,” jelas MacArthur. “Meski progresnya lumayan menjanjikan, upaya-upaya ini masih terfragmentasi dan hanya efektif pada skala kecil… industri fesyen membutuhkan kerja sama luas antar pelakunya yang sebelumnya tak pernah terjadi agar kolaborasi untuk melakukan perombakan besar-besaran bisa terwujud.” Kendati begitu, Stella McCartney, yang bekerja bersama MacArthur untuk menyakinkan pelaku bisnis agar mau menelaah isi laporan ini, tetap terlihat optimis. Dalam sebuah rilisan pres, desainer tersebut menyebut temuan ini bisa “memungkinkan kita bekerja sama untuk memperbaiki industri fesyen dan memastikan masa depan planet kita.” Baca keseluruhan laporan di sini.

Iklan