Berita

Di Balik Semua Kehebohan, Berikut Analisis Agenda Utama Lawatan Raja Saudi ke Indonesia

Perkara fulus jangan sampai terlupakan, walaupun media sibuk membahas 459 ton bagasi dan kehebohan soal foto Raja Salman bersalaman dengan Ahok.
1.3.17
Foto oleh Rahmat/Humas setkab.go.id

Kunjungan Raja Salman bin Abdul Aziz Al Saud ke Indonesia memicu spekulasi serta meme-meme penuh humor. Kabar yang beredar, pemimpin Arab Saudi yang berusia 81 tahun dan bertahta sejak Januari 2015 tersebut memiliki beberapa agenda utama. Salah satu yang paling penting konon menanamkan investasi di Indonesia senilai US$25 miliar (setara Rp334 triliun).

Pengamat isu-isu Timur Tengah Faisal Assegaf dari situs Al Balad mengatakan bahwa lawatan Saudia Arabia yang pertama ke Tanah Air sejak 1970 ini memiliki tujuan politik, ekonomi dan agama. Menurut Assegaf, secara politik Saudi mencoba menancapkan pengaruh di negara-negara muslim, terutama Indonesia.

Iklan

"Indonesia ini prestisius karena memiliki penduduk muslim terbesar di dunia," kata Assegaf. "Dari peta politik Timur Tengah saat ini, Saudi sedang bersaing dengan Iran dalam hal perebutan pengaruh."

"Saudi sedang mencoba, karena Iran sudah lebih dulu memiliki hubungan dekat dengan Indonesia. Contohnya adalah lawatan Presiden Joko Widodo tahun lalu yang membuka hubungan perdagangan minyak antara Pertamina dengan National Iranian Oil Company (NIOC)," tutur Assegaf kepada VICE Indonesia.

Menurut Assegaf, merebut pengaruh politik harus didahului dengan penanaman modal, namun hal tersebut juga harus melihat fakta-fakta yang ada terkait kondisi perekonomian Saudi yang sedang defisit sejak 2014 menyusul melorotnya harga minyak dunia dari US$90 per barel menjadi US$40 per barel. Karenanya dia mengkritik pengguna media sosial di Indonesia yang berlebihan menanggapi lawatan Raja Salman.

"Glorifikasi penyambutan raja Saudi yang berlebihan menjadi liar sekali. Banyak yang menghubungkan soal Freeport segala. Ini membuat kedudukan Indonesia jadi inferior, padahal posisi kita lebih penting," kata Assegaf.

Soal investasi US$25 miliar menurut Assegaf, masih perlu dikaji lebih lanjut. Karena menurut IMF, Saudi bakal mengalami defisit hingga 2020. Dari catatan IMF, Saudi mengalami defisit US$100 miliar pada 2015 dan US$84 miliar pada 2016.

"Saudi bakal memberlakukan privatisasi di beberapa sektor ekonomi. Ini baru pertama kali karena sebelumnya semua perusahaan dimiliki oleh negara dan investasi dari luar tidak mudah masuk," kata Assegaf.

Iklan

Selain privatisasi, Saudi akan memberlakukan 5 persen pajak pertambahan nilai (VAT) untuk produk minuman ringan dan tembakau pada Januari 2018. Kemudian pemerintah Saudi juga akan menaikkan harga BBM oktan 95 dari 0.6 riyal menjadi 0.9 riyal.

"Jadi banyak sekali agenda perekonomian Saudi Arabia untuk mendongkrak neraca defisitnya. Ini termasuk penjualan obligasi internasional sebesar US$17,5 miliar dan yang saat ini mencuri perhatian, pemerintah Saudi akan menawarkan saham Aramco kepada publik (IPO) pada semester kedua 2018," kata Assegaf.

Menurut kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong, cukup sulit untuk mengajak Saudi Arabia berinvestasi di Indonesia karena negara Petrodollar tersebut terbiasa melakukan kerjasama investasi dengan negara maju.

"Memang diskusi negosiasi antara pertamina dengan aramco masih berjalan terus dan soal Balongan dan Dumai. Saya kira kami tidak bisa membuka negosiasi secara rinci," kata Lembong seperti dikutip Okezone.

Raja Salman dijadwalkan berada di Indonesia dari 1-9 Maret. Delegasi yang datang bersama raja berjumlah 1.500 orang termasuk 25 pangeran dan 10 menteri. Selain membicarakan masalah politik dan ekonomi, Raja Salman juga dijadwalkan akan bertemu dengan tiga ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Kunjungan bersejarah ini memicu banyak sekali respons dari penduduk Indonesia. Media massa maupun jejaring sosial sepanjang hari dipenuhi detail terbaru mengenai kedatangan Raja Saudi serta persiapan pemerintah Indonesia melakukan penyambutan. Rencana Raja Salman berlibur di Bali bersama ribuan orang rombongan diulas khusus.

Rombongan tersebut tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta dengan menumpang tujuh pesawat Boeing dan Hercules. Rombongan Raja Salman disambut oleh Presiden Joko Widodo dan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Foto Raja Salman bersalaman dengan gubernur DKI akrab disapa Ahok itu menyita perhatian tersendiri. Pasalnya, sosok Ahok sedang berlaga dalam pilgub dan sedang menjalani persidangan atas dugaan penistaan agama.

Rombongan tersebut langsung menuju Istana Bogor dan menginap di hotel Raffles, Jakarta. Sekitar 5.000 personel gabungan TNI/Polri dikerahkan mengamankan kunjungan tersebut. Jalanan ibu kota mengalami kemacetan akibat penutupan jalan tol untuk memberi jalan bagi iring-iringan mobil sang raja yang mencapai 4 kilometer.

Raja Salman dijadwalkan akan berlibur di Bali pada 4-9 Maret dan menginap di hotel Saint Regis. Sebanyak 360 mobil mewah dan puluhan bus akan digunakan untuk mengantar rombongan sang raja. Untuk pengamanan pihak kepolisian akan mengerahkan 5.000 aparat keamanan dibantu 30.000 pecalang.