Pandemi Corona

Di Berbagai Negara, Marak Orang Palsukan Hasil Tes Covid-19 Agar Bisa Jalan-Jalan

Tak hanya di Indonesia terjadi pemalsuan hasil tes PCR. Orang-orang dari Amerika, Kroasia, sampai Prancis kepergok mengedit hasil tes PC pakai photoshop.
25.1.21
Pemalsuan hasil tes PCR Covid-19 marak terjadi di E
Foto: JACK GUEZ/AFP via Getty Images

Penyebaran virus Covid-19 kian tak terkendali. Kini bahkan ada varian terbaru yang lebih mematikan dan telah menyebar di lebih 60 negara, seperti Portugal dan Irlandia. Berbagai negara di seluruh dunia mewajibkan tes rapid atau usap PCR sebagai syarat bepergian. Dianggap sebagai ‘standar emas’ pengujian Covid-19, tes PCR mendeteksi materi genetik virus melalui hidung.

Iklan

Hasilnya harus yang paling terbaru, dan tidak boleh lebih dari 72 jam sebelum jadwal penerbangan. Dengan demikian, seseorang harus menjalani tes lagi jika akan mendatangi atau pulang dari suatu daerah. Pada akhirnya, persyaratan yang ribet dan mahal mendorong sejumlah orang untuk memalsukan dokumen mereka, meski praktiknya sudah dilarang keras. (Amerika Serikat bahkan menganggap pemalsuan dokumen sebagai tindak kejahatan.)

Dua narasumber Motherboard yang minta dirahasiakan namanya mengaku pernah mengedit hasil tes mereka.

“Saya mengubah tanggal pakai Photoshop,” ungkap seorang lelaki yang memalsukan hasil tes teman-temannya. “[Hasil] dokumennya berbahasa Prancis, sedangkan mereka ada di Swedia pada hari hasil tesnya ‘keluar’. Tidak ada masalah sama sekali.”

Sementara itu, lelaki lain mengganti tanggal hasil tesnya dengan Microsoft Paint supaya bisa liburan ke Eropa Selatan.

Pekan lalu, 40 wisatawan tertangkap basah menunjukkan hasil tes palsu di Kroasia. Awal tahun ini, remaja asal Belanda yang positif corona ngeyel pergi ke Swiss. Dia ditangkap sebelum naik pesawat begitu kedapatan memalsukan hasil tes.

Kedua narasumber beralasan ingin menghemat biaya. Negara-negara di Eropa memang menggratiskan tes PCR, tapi sebagian besar otoritas kesehatan nasional tidak mau memberikan surat sehat kepada orang-orang yang ingin bepergian. Alhasil, mereka mesti melakukan tes PCR di laboratorium swasta yang biayanya tidak murah. Satu kali tes di Belanda dapat menghabiskan sekitar €100 (setara Rp1,7 juta).

Iklan

“Sebagian besar karena ingin menghemat uang,” bunyi pesan WhatsApp seorang narasumber. “Sebenarnya takut ketahuan, tapi petugas bandara sepertinya tidak menyadari pemalsuan dokumen ini.” 

Admin asosiasi perdagangan Airlines for America mengatakan sejauh pengetahuan mereka, petugas tidak menerima pelatihan khusus untuk memverifikasi keaslian hasil tes penumpang.

Namun, petugas bandara Fiumicino di Roma, Italia, mengklaim setiap bandara, maskapai dan negara memiliki standar pemeriksaan yang berbeda-beda. Di beberapa negara, misalnya, hasil tes akan diperiksa baik pada saat keberangkatan oleh staf maskapai maupun pada saat kedatangan oleh pengawas perbatasan.

Menurutnya, hasil tes palsu mustahil lolos di bandara Fiumicino.

Bandara yang ketahuan gagal memverifikasi keaslian hasil tes dapat dikenakan denda. Akan tetapi, berdasarkan pengakuan dua petugas, sanksi itu tampaknya tidak diprioritaskan di sebagian besar sektor.

Beberapa orang yang memalsukan hasil tesnya merasa tidak bermaksud merugikan orang lain sama sekali. “Saya tak pernah ada keinginan menularkan virus,” tutur narasumber Motherboard, “atau menentang tes [Covid-19].”

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard