LGBTQ

Reaksi Komunitas LGBTQ Asia Saat Paus Fransiskus Dukung Pasangan Sejenis Berkeluarga

Akankah pernyataan Paus mempermudah hidup kelompok LGBTQ di negara-negara yang mempersekusi orientasi seksual mereka? Berikut pengakuan narasumber dari Indonesia, Filipina, hingga Brunei.
23.10.20
Paus Fransiskus melambaikan tangan saat menemui jemaat di Vatikan pada 14 Oktober 2020. Foto: Alberto Pizzoli / AFP
Paus Fransiskus melambaikan tangan saat menemui jemaat di Vatikan pada 14 Oktober 2020. Foto: Alberto Pizzoli / AFP

Paus Fransiskus secara terbuka mengakui hak pasangan homoseksual untuk berkeluarga. Pernyataannya menggemparkan dunia, mengingat Gereja Katolik Roma selama ini terkenal menolak keras homoseksualitas.

Sri Paus menyatakan dukungan bagi kelompok LGBTQIA+ dalam film dokumenter yang dirilis 21 Oktober kemarin. Sebenarnya dia pernah mengatakan hal serupa beberapa tahun lalu, tetapi ini pertama kalinya dia bersuara sejak diangkat jadi pemimpin Gereja Katolik pada 2013.

“Orang homoseksual pun punya hak untuk menjadi bagian dari keluarga besar umat Katolik sedunia. Mereka semua anak-anak Tuhan dan berhak memiliki keluarga. Tidak boleh ada siapapun yang berhak mengusir atau membuat hidup mereka jadi menderita,” ujar Paus Fransiskus saat diwawancarai oleh Evgeny Afineevsky, sutradara film dokumenter Francesco.

“Saya pikir solusi [bagi pasangan LGBTQIA+] adalah ikatan keluarga sesuai hukum catatan sipil. Dengan demikian, hak-hak mereka di mata hukum tetap terpenuhi. Saya mendukung solusi tersebut.”

Iklan

Pada saat itu, Paus Fransiskus yang masih menjadi uskup agung Buenos Aires mendukung gagasan mengesahkan ikatan keluarga bagi pasangan gay di mata hukum. Namun, publik melihat ini sebagai cara menggagalkan UU perkawinan sesama jenis di Argentina.

Dukungan Sri Paus sontak memicu perbincangan publik, khususnya di kalangan umat Katolik dari komunitas LGBTQIA+ di seluruh dunia. Mereka merenungkan apakah pernyataannya akan menciptakan masyarakat yang lebih inklusif bagi kelompok minoritas seksual.

VICE menanyakan pendapat sejumlah orang queer di Asia yang beragama Kristen, akankah sikap Sri Paus berpeluang membawa perubahan baik di benua ini, yang sebagian besar penduduknya menolak seksualitas yang dianggap berbeda.

Nody Mae Martir dan Rhea Peñaflor, Filipina

rhea (1).jpg

Sebagai bagian dari komunitas LGBTIQ+, kami bersyukur karena Paus Fransiskus telah mengakui hak berkeluarga bagi pasangan sesama jenis di mata hukum. Kami berdua sudah delapan tahun menjalin hubungan dan menikah pada 2017. Akan tetapi, pernikahan kami sebatas perayaan saja karena Filipina belum melegalkan pernikahan sesama jenis.

Gereja Katolik Roma telah mengalami perkembangan bersejarah pertama di bawah kepemimpinannya. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Paus Fransiskus yang menyatakan bahwa kami juga berhak memiliki keluarga. Kami berharap suatu saat nanti keberadaan kami diterima seutuhnya di dunia.

Jose Caniago*, Indonesia

Saya non-biner, tapi ibuku adalah seorang pendeta Gereja Presbiterian. Saya terkesan dengan Paus Fransiskus yang berani membuat pernyataan seperti itu, terlepas dari ajaran Gereja Katolik Roma dan sikap pemimpin gereja terdahulu [yang menolak LGBTQIA+]. Saya yakin gereja sangat tergantung pada jemaat di dalamnya. Gereja bukan sebatas bangunan, sistem kepercayaan atau pihak berkuasa yang membuat undang-undang dan keputusan yang memengaruhi banyak orang queer di lingkungan gereja.

Saya rasa akan ada perubahan yang terjadi, tak peduli sebesar apa. Perjalanan orang queer untuk dilegalkan hubungannya mungkin masih panjang, tapi dukungan dari tokoh berpengaruh seperti Sri Paus jelas akan memicu perbincangan di seluruh dunia.

Masalah utamanya adalah orang-orang, baik itu jemaat maupun pemuka agama, cenderung menutup telinga karena manusia sulit untuk diajak berubah. Mereka lebih suka memusuhi dan membenci apa yang tidak mereka pahami. Inilah mengapa peran Paus Fransiskus sangat penting. Tak peduli apa yang terjadi nanti, pernyataannya tak mungkin bisa diabaikan, khususnya bagi umat Katolik.

Pernyataan Paus juga akan sampai ke telinga umat Kristen, meski sepertinya pemuka agama sulit menerimanya. Mereka mungkin akan melihatnya sebagai propaganda atau “tanda-tanda kedatangan kedua Yesus”, dan mengajak umat untuk melakukan penolakan. Meskipun begitu, akan ada pergeseran perspektif pada umat Kristen dan Katolik. Yang terpenting, sebagai orang queer, kami sangat bahagia menerima dukungan semacam ini.

Roshane*, Sri Lanka

Otoritas Sri Lanka dikabarkan melakukan pemeriksaan fisik paksa sejak 2017. Hal itu dilakukan sebagai upaya membuktikan perilaku homoseksual. Selain itu, ada juga anggota parlemen Katolik yang menganggap homoseksualitas termasuk gangguan jiwa.

Harapannya, sih, pernyataan Paus setidaknya bisa menciptakan sedikit perubahan di negara yang mengkriminalisasi identitas LGBT.

Saya pribadi tidak yakin dukungan ini akan memengaruhi hukum negara dan mentalitas masyarakat secara luas. Keluarga saya menganut agama Kristen dan mereka sangat religius. Mereka tidak tahu identitas saya sesungguhnya, sehingga saya berharap dorongan dari Paus dapat memudahkan saya kapan pun saya siap mengungkapkan identitasku ke mereka. Orang tua saya tidak bereaksi apa-apa ketika saya menyinggung berita ini. Tapi mau tak mau mereka pasti akan memikirkannya.

S*, Brunei

Saya beragama Katolik di negara mayoritas Islam, dan tak banyak orang gay di sini. Walaupun hukum Syariah tidak berlaku untuk kami, saya kayaknya tidak mungkin bisa mengaku biseksual ke orang banyak. Hanya teman terdekat yang tahu seperti apa saya sebenarnya. Selama ini, saya berpacaran dengan perempuan dan memendam ketertarikan saya pada laki-laki. Sejauh ini memang belum ada yang menerima hukuman mati karena mereka gay, tapi ancaman tersebut tetap menghantui kami. Pengumuman Paus tak berarti apa-apa di sini. Saya yakin pemuka agama akan menganggap seolah-olah dia tidak pernah mengatakan itu.

Navin Noronha, India

IMG-20190930-WA0001.jpg

Paus Fransiskus sudah dari dulu vokal tentang hak-hak komunitas gay, yang saya lihat sebagai upaya memperbaiki reputasi setelah kepemimpinan Paus Benediktus yang kejam. Dia menyambut perubahan, tapi juga sering terlibat dalam sikap homofobia di masa lalu.

Takkan ada perubahan besar karena sebagian besar orang homofobik menganut agama Abrahamik (Yahudi, Kristen dan Muslim). Apalagi, hanya sedikit orang Katolik yang beneran taat. Menurut saya, yang paling penting saat ini adalah mengakui hak-hak kelompok transgender dan mengedepankan suara orang queer yang selama ini tenggelam oleh perdebatan perkawinan sesama jenis.

Indah Andreas*, Indonesia

Banyak pertanyaan yang muncul di kepala setelah mengetahui pernyataan Paus.

Paus Fransiskus bilang orang homoseksual berhak memiliki keluarga di mata hukum. Menurut saya, pernyataan ini masih terlalu luas karena komunitas LGBTQIA+ sangat beragam. Apakah yang diakui haknya cuma orang gay dan lesbian, atau komunitas ini secara keseluruhan? Istilah “civil union” juga ambigu, mengingat dia menentang pernikahan sesama jenis. Di sejumlah negara, hanya kaum heteroseksual yang bisa menikah secara legal. Orang queer hidup dalam ketakutan jika mereka tinggal bersama. Apa kata orang nanti?

Di Indonesia, contohnya, kalian harus siap menghadapi hinaan dan persekusi jika ketahuan “berbeda” dan melawan norma yang ada. Situasinya menjadi lebih sulit apabila kalian berada di lingkungan religius. Ibuku seorang Katolik yang taat, dan menganggap orang gay sudah gila. Mereka harus disembuhkan katanya.

Selama saya masih tinggal di Indonesia, pernyataan Paus takkan berpengaruh apa-apa dalam hidupku. Tapi saya yakin ini membuka peluang bagi komunitas LGBTQIA+ di negara progresif untuk diakui keberadaannya di Gereja dan memiliki keluarga.

Butuh waktu yang sangat lama untuk mengubah sistem Gereja, karena sepanjang pengetahuanku gereja masih kental politik. Banyak pihak yang menentang pandangan progresif Paus Fransiskus. Dukungan ini tak ada artinya jika pemuka agama lainnya tidak setuju dengan Paus. Saya tetap yakin ini akan membuka diskusi lebih lanjut tentang penerimaan LGBTQIA+ di komunitas. Namun, akan lebih baik lagi jika Paus Fransiskus bisa lebih spesifik dalam pernyataannya.

*Nama-nama narasumber telah diubah untuk melindungi privasinya.

Varsha Rani, Anthony Esguerra, Rosa Folia, dan Dhvani Solani berkontribusi dalam laporan ini.