Sains

Hewan Platipus Lebih Aneh Dari yang Kalian Kira, Bulunya Bisa Menyala Dalam Gelap

Bulu platipus memiliki sifat biofluorescent saat terpapar sinar UV. Udah gitu doi mamalia tapi bertelur. Platipus layak menyandang predikat sebagai salah satu hewan paling aneh sedunia.
4.11.20
Platipus hewan mamalia paling aneh sedunia karena bertelur dan bulunya menyala dalam gelap
Bulu platipus disinari cahaya tampak (kiri) dan UV (kanan). Gambar: Mammalia 2020

Platipus menyandang predikat sebagai salah satu hewan paling aneh sedunia. Hewan semi-akuatik ini memiliki taji berbisa dan paruh mirip bebek. Platipus masuk kelas mamalia, tapi bertelur. Dan kini, ditemukan keunikan lain darinya. Saat terkena sinar ultraviolet, bulu platipus akan memancarkan cahaya dalam gelap.

Sebagaimana dijelaskan dalam studi yang diterbitkan di jurnal Mammalia, ini pertama kalinya monotremata — ordo dari mamalia yang berkembang biak dengan cara bertelur — “melakukan biofluoresensi di bawah sinar ultraviolet”.

Iklan

Biofluoresensi terjadi ketika hewan menyerap energi dengan panjang gelombang cahaya pendek dan memancarkan kembali cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang, menyebabkan perubahan warna. Proses ini berbeda dari bioluminesensi, kemampuan biologis untuk memendarkan cahaya setelah mengalami reaksi kimia.

Cahaya berpendar ini telah diamati pada burung, serangga, makhluk laut dan tanaman, tapi sebelumnya hanya terlihat pada dua keluarga mamalia yakni oposum dan tupai terbang. Ilmuwan sangat jarang meneliti mamalia yang memiliki sifat biofluorescent karena keberadaannya begitu langka. Platipus mengubah pemahaman para ilmuwan.

Tim peneliti yang dipimpin oleh Paula Spaeth Anich, associate professor prodi sumber daya alam di Northland College, terinspirasi mengamati sifat biofluorescent pada platipus setelah mereka tidak sengaja mendeteksi sinar merah muda pada bulu tupai terbang New World. Saat itu, mereka tengah mempelajari lumut dengan blacklight.

Mereka menyinari tiga ekor platipus yang diawetkan dengan UV dalam ruangan gelap. Dari situ, mereka menemukan bulu hewan ini juga bisa memancarkan cahaya.

“Berawal dari rasa penasaran, kami akhirnya menyinari platipus di Museum Field dengan UV,” Anich menyatakan. “Kami ingin tahu sejauh mana sifat biofluorescent ini ditemukan dalam keluarga mamalia.”

“Monotremata diperkirakan bercabang dari garis keturunan marsupial-plasenta lebih dari 150 juta tahun lalu,” lanjutnya. “Sangat menarik ketika mengetahui kerabat jauhnya juga memiliki bulu biofluorescent.”

j_mammalia-2020-0027_fig_001.jpg

Platipus jantan di Museum Field disinari cahaya tampak dan UV dengan dan tanpa filter lensa kuning. Gambar: Mammalia 2020

Anich dan rekan-rekan melihat cahaya kehijauan hingga cyan pada Tasmania jantan dan betina di Field Museum of Natural History, Chicago, serta Tasmania jantan dari daratan Australia yang disimpan di Museum University of Nebraska State. Meskipun usia jantan di Museum Field tidak diketahui, dua spesimen lainnya masing-masing berusia lebih dari satu abad. Betina di Chicago ditemukan pada 1889, sedangkan jantan Nebraska pada 1909.

Ditemukannya sifat biofluorescent pada hewan macam platipus dan tupai terbang menunjukkan adanya kemungkinan jumlah mamalia yang memiliki sifat ini lebih banyak dari perkiraan. Ilmuwan menduga adaptasi ini mungkin memainkan banyak peran pada spesies lain, seperti memikat mangsa, seleksi seksual, komunikasi intraspesies, dan kamuflase. Akan tetapi, belum jelas mengapa platipus mengembangkan sifat ini.

“Meski semua spesimen platipus yang diamati melakukan biofluoresensi di bawah sinar UV, kami tidak dapat mengambil kesimpulan tentang fungsi ekologinya dikarenakan jumlah sampel yang sangat sedikit,” tulis tim Anich.

“Spesies jantan dan betina melakukan biofluoresensi pada pola dan intensitas yang sama. Oleh karena itu, tampaknya sifat ini tidak dimorfik secara seksual,” mereka menambahkan. “Kami yakin tak semua spesimen di museum memiliki bulu bercahaya seperti yang telah kami amati.”

Peneliti berspekulasi platipus memancarkan cahaya untuk melindungi diri dari predator yang sensitif terhadap UV, tapi kebenarannya perlu dibuktikan dengan mengamati platipus di alam bebas.