Sepakbola

Tim Sepakbola Khusus Pemain LGBTQ di Meksiko Berjuang Melawan Homofobia

Zorros Club de Futbol Gay didirikan 2013 dengan agenda melawan kebencian terhadap penyuka sesama jenis yang masih merajalela di Meksiko.
03 Juni 2017, 9:00am
Foto dari Zorros Club de Futbol Gay.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Apabila anda pernah menonton pertandingan timnas Meksiko, entah secara langsung atau lewat TV, anda pasti akan ingat teriakan komentator. Setiap kali kiper lawan hendak mengambil tendangan gawang, para penonton senyap seketika sebelum volume stadium mulai kembali naik.

Oooooooooooooooh…

Kiper maju ke depan dan menendang bola jauh ke atas.

Putoooo!

Puto merupakan salah satu kata paling kasar di Bahasa Spanyol. Artinya? Gigolo, tapi mungkin bahkan lebih kasar daripada memanggil seseorang "homo". Tidak ada alasan untuk menggunakan kata kasar ini, namun kata ini telah menjadi bagian dari kultur sepakbola Meksiko. Perlu diingat kata-kata semacam ini juga sering terdengar di negara-negara Barat lainnya, termasuk Amerika Serikat.

Penggunaan kata ini menjadi alasan kenapa Zorros Club de Futbol Gay eksis. Di negara seperti Meksiko, homofobia masih menjadi bagian dari konstruksi sosial, sebuah tim sepakbola berisikan pria-pria homoseksual bukanlah sekedar tempat aman untuk bermain, atau sekedar bentuk support system pribadi, namun menjadi sesuatu yang lebih besar: sebuah pernyataan politik, dan bentuk serangan balik terhadap prasangka zaman purbakala.

"Masalah ini sangat sulit diatasi," kata Nicolas Pineda, salah satu pendiri Zorros. "Masalah ini lumayan parah. FIFA pernah mendenda Federasi Sepakbola Meksiko akibat teriakan-teriakan berbau machoisme di acara olahraga, dan Federasi merespon dengan mengatakan ini adalah 'sesuatu yang normal' di Meksiko. Ini jelas salah. Kalau mereka tidak mau mengakui ini adalah sebuah masalah, kita tidak akan bisa maju ke depan dan memberantas isu ini."

Teriakan puto ini bertahun-tahun terus dibela oleh mereka-mereka yang seharusnya lebih sadar diri tanpa alasan yang jelas. Sama seperti banyak kata hinaan lainnya, kata puto dianggap tidak kasar karena sangat umum diucapkan. Berarti semua yang umum gak mungkin menyinggung ya? Oh gitu.

Dalam iklim olahraga yang penuh dengan perilaku bigot, Zorros muncul di 2013, dengan nama awal Tri Gay, semacam timnas gay Meksiko—timnas Meksiko sendiri dijuluki "El Tri"—yang berpartisipasi di 2012 International Gay and Lesbian Football Asocciation's World Championships di Meksiko. Kini, Zooros memiliki tiga tim yang berisikan 7 orang dalam satu tim, memainkan sepakbola bertempo cepat dalam lapangan Astroturf berukuran kecil yang tersebar di berbagai penjuru kota Meksiko. Semua tim mereka aktif berpartisipasi dalam liga khusus gay yang melibatkan ibukota Meksiko dan daerah sekitarnya karena mereka tidak akan diterima dengan baik oleh tim-tim liga reguler.

Dari 26 Mei hingga 4 Juni, Zorros akan melakukan pertandingan debut internasional mereka, menerobos batas negara ketika hubungan politik dengan AS sedang kurang baik untuk ikut berpartisipasi dalam World OutGames 2017 di Miami.

Klub Zorros terbentuk pada 2013. Foto dari arsip tim.

Mengingat kebanyakan anggota tim adalah anak-anak kampus yang berkantong kering, Zorros memulai penggalangan dana online. Mereka berhasil mencapai target mereka sebesar $1.000—menutupi biaya setiap anggota. Sayangnya, beberapa pemain ditolak visanya—kemungkinan karena dianggap tidak memiliki tabungan bank yang cukup dan dianggap berisiko menjadi pekerja ilegal di AS—mereka terburu-buru mencari empat pemain pengganti untuk melengkapi anggota.

Identitas donatur penggalangan dana juga menyadarkan tim akan realita yang sesungguhnya. "Kebanyakan orang yang menolong kami itu justru bukan warga Meksiko," jelas Pineda. "Ini membuat kami agak berkecil hati."

Kebanyakan dana sumbangan datang dari AS. Sebuah tim dari Florida bahkan menawarkan sumbangan air minum dan perlengkapan sepakbola. Ini adalah gestur yang hangat, namun juga menunjukkan betapa jauhnya perjalanan Zorros sebelum mereka bisa diterima oleh negara asalnya.

Biarpun Zorros belum banyak mengalami insiden buruk di Meksiko, mereka berusaha menghindari kejadian-kejadian semacam ini. "Kami pernah mengalami masalah dua tahun lalu ketika bertanding melawan tim heteroseksual, dan mereka menghina kami," jelas Pineda. "Ini semua gara-gara kultur machoisme. Kami sering menjadi korban perundungan di media sosial. Machoisme adalah masalah di Meksiko, tidak hanya dalam sepakbola, tapi semua olahraga."

Kini, Zorros mulai mendapatkan perhatian dari media Meksiko. Seksi komen di halaman media sosial mereka menjadi bukti kebencian yang kerap mereka terima.

Tim Zorros berharap bisa meraih medali di gelaran World OutGames yang digelar di Miami.

Dalam sebuah survei, beberapa pemain mengaku pernah didiskriminasi di atas lapangan akibat seksualitas mereka. Tidak jarang juga mereka diejek dengan 'gurauan' homoseksual. Jelas saja mereka tidak merasa aman untuk bergabung dengan liga reguler. "Saya tidak suka dengan segregasi," jelas Rod, striker berumur 28 tahun. "Tapi saat ini, ini satu-satunya solusi. Kalau homofobia sudah runtuh, kita semuanya harusnya tidak dipisah-pisahkan."

Zorros harus menghadapi stereotip yang sudah lama mendarah daging. "Banyak atlet percaya bahwa olahraga hanya berhak dilakukan oleh heteroseksual dan melihat kaum LGBT sebagai kumpulan orang yang lebih inferior, tidak layak memainkan olahraga," jelas Alfonso, 26 tahun, bermain sebagai bek.

"Pernah ada pelatih yang berteriak 'Ini dunia laki-laki,'" tambah Freddy, striker berumur 38 tahun.

Di tengah ucapan-ucapan pedas ini, Zorros memiliki fungsi tambahan sebagai penyokong support. "Prinsip utama klub adalah persahabatan," sebut Pineda. "Lebih dari sekedar tim sepakbola, kami berusaha membangun sebuah keluarga, sekelompok orang dengan nilai yang sama." Pemain-pemain Zorros bervariasi secara umur, mulai dari 17 hingga 38 tahun dan berada dalam fase penerimaan diri yang berbeda-beda. Semua orang boleh ikut bermain, dan kemampuannya disesuaikan dengan tiga tim yang tersedia. Pemain juga tidak harus mengaku secara publik bahwa mereka gay. Kalau mereka khawatir masuk ke klub sepakbola gay akan membuka identitas, mereka boleh memilih untuk tidak dimasukkan nama atau fotonya di media sosial guna melindungi privacy.

"Tujuan kami tidak hanya untuk mendapatkan penerimaan di masyarakat Meksiko, tapi juga di kalangan pemain gay yang belum bisa menerima dirinya sendiri," jelas Pineda, yang mengakui seksualitasnya secara publik ketika dia pindah ke Mexico City untuk kuliah ketika berumur 21. "Kami menciptakan lingkungan penuh persahabatan yang aman. Bersama kami, pemain tidak wajib mengaku gay. Yang penting mereka nyaman berada di tengah-tengah tim."

Tujuan utama Zorros adalah untuk membuat pemain merasa aman, nyaman dan disayang. Tim ini merupakan tempat dimana pemain bisa fokus bermain sepakbola tanpa mengkhawatirkan hal lain. "Saya suka sepakbola, dan rasanya lebih aman bermain dengan orang-orang seperti saya," kata Marck Palacios, penyerang berumur 29 tahun.

Namun tidak hanya itu, Zorros juga berambisi besar. Mereka ingin memenangkan medal di World OutGames. Mereka juga ingin berpartisipasi di Gay Games di Paris 2018 dan EuroGames di Roma di 2019.

Ini menjadi hal yang penting bagi Zorros. Mereka ingin bisa sesukses mungkin di kancah internasional, karena kesuksesan—biarpun dalam segmen sepakbola yang niche sekalipun—akan menarik perhatian yang positif. Perhatian ini dapat membantu proses normalisasi homoseksual dalam negara yang masih tergolong homofobik. Normalisasi dapat membawa penerimaan. "Ini akan berdampak positif bagi komunitas," kata Pineda.

Meksiko berevolusi menjadi sebuah negara yang lebih toleran terhadap berbagai orientasi seksual yang berbeda, biarpun perlahan-lahan. Akhirnya, mereka-mereka yang homofobiklah yang harus beradaptasi. "Ini adalah semacam batasan yang sedang berubah, dunia sudah mulai lebih terbuka," kata Alfonso. "Machoisme harus berubah dan mengikuti masyarakat saat ini."

"Ini perubahan yang sulit, tapi biasanya berkembang seiring generasi baru muncul," kata Palacios. "Akan tiba suatu titik dimana masalah ini akan berakhir dan tiba era penuh koeksistensi dan penerimaan."

Untuk membantu mempercepat proses ini, Zorros ingin menghancurkan stereotip, termasuk bahwa lelaki gay tidak atletis. "Dari sisi kami, kami harus membuktikan bahwa kami bisa bersaing dengan siapapun, tidak peduli ras atau orientasi seksual," jelas Sikto Mitre, gelandang berumur 26 tahun. "Gol kami adalah untuk menularkan rasa percaya diri terhadap komunitas LGBT sehingga mereka sadar bahwa sepakbola dan olahraga itu terbuka untuk semua orang."

"Ini akan menjadi bukti bahwa homoseksualitas bukanlah semacam hukuman dari Tuhan, bahwa kami adalah orang normal dan bisa bermain sepakbola melawan siapapun," jelas Ivan, 20 tahun, berposisi sebagai penyerang.

Zorros tidak hanya ingin memenangkan pertandingan sepakbola, mereka ingin meyakinkan negara mereka sendiri, bahwa siapapun bisa memenangkan pertandingan sepakbola.

"Bagi saya, Zorros itu penting karena kami bukan hanya peduli tentang skor pertandingan di papan, tapi juga kaum muda yang ingin membuat perubahan dalam masyarakat dan mulai dari diri sendiri," jelas gelandang berumur 29 tahun, Neth Saucedo. "Perhatian akan membantu kami meningkatkan kesadaran sosial."