Fighting Words

Jangan Anggap Enteng Pestisida Beracun dalam Tubuhmu

PBB menyatakan industri pestisida multinasional "mengelak" dari tanggung jawab atas kerusakan lingkungan dan gangguan kesehatan publik.
8.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Fighting Words adalah salah satu rubrik Tonic (situs kesehatan VICE), memuat opini provokatif tentang isu-isu yang jarang dibahas dalam topik kesehatan, kebugaran, olahraga, dan pangan.

Pada 1962, Rachel Carson menerbitkan buku berjudul Silent Spring. Buku ini menyingkap fakta maraknya gangguan kesehatan dan kerusakan lingkungan jangka pangka panjang yang disebabkan penggunaan pestisida kimia di lahan-lahan pertanian. Berkat buku tersebut, penggunaan pestisida diatur lebih ketat—namun dalam beberapa kasus malah lebih longgar. Selain itu, beberapa lembaga sengaja didirikan mengawasi aturan penggunaan pestisida. Meski ada kemajuan, nyatanya praktik mengkhawatirkan seperti ditulis Carsol masih mudah ditemui dalam di berbagai negara.

Iklan

Pestisida berbahaya yang disemprotkan pada dekade 60-an mungkin tak lagi beredar di pasaran. Namun, pestisida model lama ini cuma diganti pestisida lainnya yang tak jauh berbeda. Intinya, bungkus boleh beda, isinya masih sama-sama berbahaya bagi kesehatan manusia.

Glyphosate, contohnya, adalah salah satu senyawa kimia yang digembar-gemborkan sebagai alternatif "yang lebih aman" dari jenis pestisida berbahaya. Pestisida itu dipasarkan oleh korporasi internasional Mosanto dengan merek Roundup (dan sering jadi bahan utama pestisida lainnya). Ada lagi glyphosate, "senyawa kimia yang paling banyak digunakan" dalam sejarah pertanian manusia". Glyphosate nyaris ditemukan d mana-mana—dalam aliran air, dalam makanan seperti roti dan tepung, serta dalam minuman seperti bir. Lebih dari 2.000 orang yang dites di Jerman, 99,6 persennya memiliki kandungan glyphosate dalam urin mereka.

Pada 2015, badan kanker Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikan glyphosate sebagai karsinogen. Meski European Food Safety Authority (EFSA) dan European Chemicals Agency (ECHA) belum kunjung mengaitkan Glyphosate dengan kanker, EFSA menyatakan bahwa senyawa ini menyebabkan gangguan jangka panjang pada kesehatan unggas dan mamalia. Sementara itu, ECHA mengatakan bahwa glyphosate berbahaya bagi hewan laut. Kendati belum ada cukup bukti, beberapa penelitian mengungkap bahwa paparan glyphosate bisa mengganggu kemampuan reproduksi dan sistem hormon manusia.

Iklan

Temuan ini tak begitu mengejutkan karena herbisida, insektisida, dan fungisida memang didesain sebagai cairan kimia yang berbahaya bagi beragam organisme (ingat akhiran "-cide" artinya secara harfiah dalam Bahasa Latin adalah "pembunuh"). Parahnya, kita tak pernah paham betul betapa berbahayanya glyphosate ketika pertama kali diperkenalkan pada publik di dekade 70-an. Kala itu, glyphosate digadang-gadang sebagai pengganti yang jauh lebih aman dari bahan kimia lainnya seperti 2,4,5-T dan 2,4-D.


Baca Juga Tips Menjaga Kebugaran dari VICE Indonesia:


Dengan kata lain, Glyphosate sebetulnya sebelas duabelas dengan senyawa kimia lainnya. Pestisida marak digunakan selama beberapa dekade sebelum kita sadar betapa bahaya kandungan di dalamnya. Seperti 2,4,5-T, 2,4-D, serta pestisida organochlorine atau ganophosphate ketika pertama kali dipasarkan sepanjang dekade 60 dan 70, butuh waktu beberapa dekade sampai manusia benar-benar sadar akan dapat buruk glyphosate bagi kesehatan. Penggunaan DDT begitu populer dua dekade setelah Perang Dunia II, mirip seperti glyphosate saat ini, sampai-sampai muncul dugaan hampir semua orang di Amerika Serikat terpapar DDT. Aliran sungai, burung, serta hewan ternak yang tercemar—disamping kanker—yang terungkap dalam buku Silent Spring memicu kepanikan massal dan pelarangan penggunaan DDT di semua lahan pertanian di AS pada 1972.

Jika kita benar-benar serius menjaga kesehatan tubuh kita dan lingkungan, kita memerlukan perubahan radikal daripada sekadar beralih dari satu pestisida ke jenis racun antihama lain. Mengingat begitu massifnya pemanfaatan pestisida dalam pertanian, perusahan agrokimia multinasional, semisal Monsanto, DuPont, Syngenta, Bayer dan Dow memiliki kekuatan tanpa tanding yang mampu memerangkap kaum petani dalam kontrak mahal yang menjerat, sekaligus menciptakan bisnis agrikultur yang sangat bergantung pada pestisida.

Iklan

Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB menuding industri pestisida global melakukan "penyangkalan sistematis" tentang dampak buruk pada produk mereka pada kesehatan manusia dan lingkungan. Perusahaan-perusahaan tadi dicap "menjalankan siasat pemasaran yang tak etis dan kelewat agresif" serta melobi pemerintah berbagai negara hingga mampu "menghalangi reformasi dan melumpuhkan pelarangan penggunaan pestisida internasional." Faktor yang bikin lebih runyam lagi, beberapa perusahaan argokimia tengah menggagas merger besar-besaran. Dalama beberapa tahun ke depan, tiga perusahan agrokimia raksasa bakal memperkuat cengkraman terhadap segala yang kita tanam dan konsumsi. Para pengambil kebijakan di berbagai negara diperkirakan makin kesusahan mengendus praktik kartel yang akan mengontrol lebih dari 75 persen pasar agrokimia dunia dan 60 persen pasar benih global.

Perihal siapa yang mengontrol makanan kita dan bagaimana kita menanamnya seharusnya menjadi isu kesehatan publik. Di saat bersamaan, pengungkapan fakta baru seputar "Monsanto Papers" menunjukkan bahwa hukum dan perangkap pembuatnya bisa dengan mudah diobok-obok oleh raksasa agrokimia global. Fakta yang tak jauh berbeda dengan apa yang ditemukan Carsol di tahun 1960-an.

Jika kita sungguh ingin melahap bahan makanan yang tak tercemar senyawa kimia beracun, maka kita harus membayangkan ulang cara kita bercocok tanam—ini mungkin terdengar sangat idealis. Namun, tak sedikit petani yang sukses menunjukkan bahwa hal itu bisa dilakukan dan kita sanggup keluar dari lingkaran setan penggunakan pestisida. Pertanian organik memadukan sains modern dan inovasi yang menghormati alam dan keanekaragaman hayati, sembari tetap memastikan hasil panen yang sehat.

Di Benua Eropa, setidaknya muncul satu cerita sukses yang bisa kita replikasi demi mengarahkan industri pertanian menjadi lebih ideal. Sebuah gerakan yang didukung lebih dari sejuta orang sukses mendesak pemerintah negara-negara Eropa melarang penggunaan pestisida. Gerakan itu muncul tepat waktu ketika skema subsidi pertanian Eropa tengah ditinjau ulang. Pada akhirnya, gerakan ini memberikan sebuah kesempatan untuk untuk benar-benar menghentikan pemanfaatan pestisida berbahaya, mengajak petani beralih ke praktek cocok tanam yang lebih ramah, yang tidak membahayakan kesehatan manusia dan planet yang kita cintai ini.

Laura Ullmann bekerja sebagai staf humas di Greenpeace Uni Eropa.