Kisah Ulama Dituduh Netizen Jadi Pelaku Serangan Gedung Parlemen London

Fitnah terhadap Abu Izzadeen adalah bukti persebaran berita palsu dan hoax di Twitter juga menjangkiti warga Inggris.
24.3.17
Abu Izzadeen (kanan). Foto oleh Henry Langston.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Setelah terjadi serangan teror beruntun di Jembatan Westminster Bridge dan Gedung Parlemen Inggris menewaskan tiga orang dan melukai 40 lainnya, pengguna Twitter bergegas menyebar foto terduga tersangka yang mendapatkan perawatan medis. Netizen menyebut sosok pelaku bernama Abu Izzadeen. Faktanya, Abu Izzadeen yang dikenal sebagai ulama berpaham keras, sedang mendekam di penjara akibat dituding melanggar Hukum Terorisme Britania Raya. Kecaman netizen terbukti keliru, setelah kepolisian mengidentifikasi Khalid Masood, 52 tahun, sebagai laki-laki yang dianggap bertanggung jawab atas serangan di Gedung Parlemen.

Abu Izzadeen adalah pria kelahiran Inggris berusia 41 tahun yang masuk Islam semasa muda. Namanya sebelum pindah agama adalah Trevor Brooks. Pada 1990-an awal, sebelum ulang tahunnya ke 18, Izzadeen mengunjungi Masjid Finsbury Park dan amat terkesima dengan dakwah radikal Omar Bakri Mohammed—Sang Ayatullah Totenham. Dia kemudian sering mendatangi pengajian Abu Hamza yang juga cukup militan. Selanjutnya Abu Izaadeen bergabung dengan kelompok jihad mereka yang menuntut pelaksanaan Syariah Islam bagi semua orang. Abu Izzaden secara terbuka mendukung aksi terorisme.

Izzadeen kemudian menjadi anggota penting Al Ghurabaa, kelompok Islamis yang kini dilarang pemerintah Britania Raya. Dia sempat mengunjungi Pakistan sebelum tragedi 9/11 mengisi sejumlah pengajian.


VICE News Menyambangi Abu Rumaysah, Mantan Algojo ISIS


Sejak awal 2000-an, bersama rekan sejawatnya Anjem Choudary, Izzadeen aktif mempromosikan paham Islam fundementalis pada warga Inggris. Awal 2004, menduduki Masjid Regents Park, mendeklarasikan seruan Muslim sejati mesti melawan Amerika. Setelah serangan teroris terjadi di London setahun berikutnya, Abu Izzadeen secara terbuka mengungkapkan harapannya agar "insiden itu membuat orang-orang tersadar."

Pada 2006, selama forum terbuka antara pengangkatan Menteri Dalam Negeri John Reid dan komunitas Muslim, Abu Izzadeen menginterupsi rapat tersebut, berteriak menuding Reid sebagai musuh Islam. Dia kemudian di keluarkan dari ruangan bersama pamfletnya yang berbunyi "John Reid, kamu akan mendapatkan ganjarannya." Tahun selanjutnya Izzadeen ditangkap karena memprovokasi orang-orang untuk melakukan tindakan terorisme di luar negeri dan mendukung penggalangan dana teroris. Dia diputuskan bersalah dan dipenjara selama tiga setengah tahun.

Setelah dibebaskan dari penjara, Abu Izzadeen meneruskan metode dakwahnya di jalan-jalan London dan juga media sosial. Seiring dengan kebangkitan IS, banyak kamerad-kamerad Izzadeen yang dipenjara atau melakukan perlawanan ilegal. Anjem Choudary, mungkin yang paling terkenal dalam kelompoknya, baru-baru ini dipenjara di Britania Raya selama hampir enam tahun karena mengucap sumpah mendukung pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi. Kamerad lainnya yang juga mualaf Inggris, Abu Rumasyah, berhasil bergabung dengan ISIS saat bebas bersyarat dan baru-baru ini diidentifikasikan sebagai salah satu eksekutor militan ISIS.

November 2015, Abu Izzadeen ditangkap di atas kereta rute Hungaria menuju Romania. Ketika diminta menunjukkan berkas-berkas identitas, dia hanya menunjukkan Al-Quran. Uama garis keras ini lantas dideportase ke Britania Raya dan dipenjara selama dua tahun karena melanggar persyaratan pembebasan.

Intinya, Abu Izzadeen memang ulama musuh orang-orang demokratis dan liberal. Dia juga tidak disukai oleh kalangan muslim moderat. Tapi netizen tidak bisa seenaknya berprasangka padanya. Apalagi menuduh dia menjadi pelaku serangan teror di London tiga hari lalu. Tragisnya, media mainstream di Negeri Ratu Elizabeth sempat membeo pada info keliru dari netizen. Channel 4 dan The Independent sempat mengidentifikasi Izzadeen sebagai pelaku. Data yang dipakai hanyalah foto buram seorang laki-laki yang terluka di Twitter dengan warna kulit dan rambut mirip dengan Izzadeen. Channel 4 merilis permohonan maaf, dan Independent telah menghapus artikel tersebut.

Abu Izzadeen bukan sosok pertama yang salah disangka sebagai pelaku teror atau bahkan ditahan karena tindakan teroris yang tidak dia lakukan. Sebelumnya Brandon Mayfield bernasib serupa. Brandon adalah seorang mualaf, gara-gara ada kekeliruan data sidik jari, dia tiba-tiba saja dikaitkan dengan aksi teror bom Madrid tahun 2004. Dia mengalami penyiksaan saat diinterogasi polisi, sebelum akhirnya dibebaskan dengan permintaan maaf dari aparat. Mohamedou Ould Slahi adalah contoh lainnya; dia menjadi tahanan paling sering disiksa di Guantanamo Bay. Dia ditangkap setelah tragedi 9/11, ditahan selama 14 tahun, dan akhirnya dibebaskan karena tidak ada bukti memadai yang mengaitkan dia kepada aksi pembajakan pesawat yang menabrak gedung WTC.

Media sosial adalah alat terbaik menyebarkan berita. Sayangnya media sosial tidak memiliki editor, tidak ada pemeriksa fakta, dan cuma ada sedikit peraturan di samping algoritma dan keyword agar kita terhindar dari kekeliruan data.

Sangat tidak bertanggung kawab menyalahkan seseorang atas sebuah kejahatan tanpa verifikasi memadai. Okelah Izzaden memang punya catatan kriminal. Tapi terburu-buru menuding orang-orang seperti itu, sama saja memancing di air keruh. Kejadian salah tuduh tempo hari menunjukkan banyak orang masih mengedepankan prasangka begitu saja, tanpa mau memastikan lagi kebenarannya.

@thejakewarren