Nama Baik Kampus

Mahasiswa Ramai-ramai Kirim Email Ucapan Ultah Penuh Sarkasme untuk Rektorat UGM

Tahun 2019 jadi dies natalis UGM paling horor buat rektorat. Aliansi mahasiswa terus menekan kampus agar menepati janji soal sistem perlindungan bagi korban kekerasan seksual.
20.12.19
Mahasiswa Kirim Email Ucapan Dies Natalis 2019 Penuh Sarkasme untuk Rektorat UGM
Mahasiswa berunjuk rasa di Rektorat UGM usai kasus Agni terkuak pada 2018. Foto dari arsip VICE.

Kotak masuk surat elektronik Rektor Universitas Gadjah Mada (UGM), Panut Mulyono, pada Rabu (19/12) lalu tampaknya sangat tidak menyenangkan bila dibaca. Emailnya kemungkinan besar dibanjiri ucapan selamat ulang tahun untuk UGM dari mahasiswanya. Memang apa masalahnya mendapat ucapan ulang tahun? Meski sekilas terdengar manis, gerakan kirim email itu sebenarnya dimaksudkan sebagai aksi sarkasme yang mereka lakukan di momen Dies Natalis UGM untuk mendesak pengesahan Peraturan Rektor tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) yang telah dijanjikan kampus sejak 2018.

Iklan

Setelah tagar #UGMBohongLagi berhasil menyita perhatian publik dengan menjadi trending topic, sejak Selasa (18/12) lalu aliansi mahasiswa UGM menambahkan tagar baru bertuliskan #diesnataLIEsUGM. Tagar itu mempertanyakan kaburnya komitmen UGM mencegah kekerasan seksual di lingkungan kampus dengan menyorotinya sebagai ironi di hari ulang tahun universitas tersebut.

Tagar #diesnataLIEsUGM dicetuskan oleh Aliansi Mahasiswa UGM—penggerak utama dalam berbagai aksi melawan kekerasan seksual di lingkungan kampus tersebut—untuk menggenjot partisipasi mahasiswa dalam rangkaian protes yang diberi tajuk “Love Letter for UGM”.

Aliansi Mahasiswa UGM mengajak kawan-kawan mereka mengirimkan ucapan selamat ulang tahun bagi UGM melalui email masing-masing, dari pukul 13.00 hingga 23.59 sepanjang Rabu (19/12) lalu. Tiga alamat email yang dituju para peserta aksi adalah email Rektor UGM Panut Mulyono, email resmi kantor Humas UGM, dan email yang selama ini difungsikan pihak UGM untuk menampung aspirasi warga kampus.

Juru bicara aliansi UGM, Turno, menjelaskan esensi dari aksi “Love Letter for UGM” sebagai bentuk aksi kreatif sekaligus media untuk mereka yang tidak bisa hadir dalam aksi protes langsung. "Mereka bisa tetap berkontribusi melalui aktivisme digital. Kami juga yakin bahwa email-email tersebut akan dilihat oleh pihak UGM," kata Turno pada VICE.

Seruan untuk terlibat dalam aksi ini mereka publikasikan melalui berbagai kanal media sosial. Para mahasiswa yang peduli terhadap isu ini dengan gencar lalu ikut menyebarkannya di berbagai grup internal mahasiswa secara online. Agar seragam, organisasi yang menggagas aksi itu juga menyertakan pranala berisi templat dari email yang harus dikirim oleh setiap orang.

Iklan

Salah satu peserta aksi, Annisa, menuturkan alasan yang menggerakkannya untuk terlibat dalam gerakan “Love Letter for UGM”. "Karena aku sendiri pernah mengalami bentuk pelecehan seksual di lingkungan kampus. Saat itu aku merasa nggak bisa speak up. Jadi, aku berharap aksi ini juga bisa mendorong terbentuknya perlindungan bagi korban kekerasan seksual di kampus," kata Annisa.

Sementara itu, aksi utama dalam gerakan protes mahasiswa UGM pada Rabu (19/12) berlangsung di depan gedung Grha Sabha Pramana (GSP). Ini aksi lanjutan, setelah mahasiswa sempat menggelar demonstrasi dengan topik serupa pada 13 November dan 13 Desember lalu. Agendanya tetap sama: mahasiswa UGM kembali mendesak pengesahan PPKS yang selama ini terkesan diulur-ulur oleh rektorat.

Para peserta aksi yang datang dengan mengenakan dress code batik itu mengirim sebuah karangan bunga besar yang dipenuhi sindiran buat UGM. Menyebut aksi protes itu sebagai acara “perayaan” ulang tahun, mereka sekalian membawa kado berupa pena dan sticky notes untuk kampus mereka. Pemilihan kado tersebut, menurut Turno, memiliki makna di baliknya.

"Nah, jadi pena dan sticky notes itu sebenarnya bentuk simbolis. Pena sebagai tanda agar rektorat segera mengesahkan PPKS, sementara sticky notes untuk memuat tuntutan yang ingin kita sampaikan pada rektorat."

Sempat muncul kericuhan di antara mahasiswa dan satuan keamanan kampus, namun akhirnya pihak rektorat UGM akhirnya bersedia menemui massa siang itu. Hasil dialog dari kedua pihak menghasilkan kesepakatan baru yang berisi komitmen rektorat untuk mengesahkan PPKS selambatnya pada 26 Desember 2019 mendatang usai rapat pleno Senat Akademik.

Beragam aksi ini adalah babak baru lika-liku panjang yang harus dilalui mahasiswa UGM untuk memperjuangkan regulasi perlindungan kekerasan seksual di lingkungan kampus mereka. Pasca mencuatnya kasus Agni, UGM berjanji menyusun regulasi terkait kekerasan seksual.

UGM sempat membentuk tim perumus yang berhasil merampungkan rancangan regulasi itu sejak 29 Mei 2019. Kala itu, dengan menimbang segala prosedur lain yang harus dijalankan, tenggat maksimal pengesahan PPKS disepakati pada saat Dies Natalis UGM 2019. Namun, penetapan aturan tersebut nyatanya tak kunjung terealisasi.

Strategi untuk menyampaikan tuntutan lewat email ini jadi contoh lain bagaimana mahasiswa UGM berupaya untuk mengembangkan gerakan aktivisme hingga ranah digital. Sebelumnya, kampanye melalui penggunaan tagar di media sosial terbukti membantu mereka meraih atensi yang lebih luas dari masyarakat.