Ada Apa Dengan Bercinta

Apakah G-Spot Betulan Ada? Kami Berusaha Mencari Jawabannya

Jujur saja, banyak orang sebetulnya tidak yakin G-Spot adalah bagian dari anatomi genitalia perempuan. Peneliti pun terbelah sampai sekarang.
24.7.18
Getty Images/Piotr Powietrzynski

"Ada Apa Dengan ber-Cinta" adalah seri liputan khusus VICE membahas serba-serbi seks yang selama ini dianggap tabu, khususnya di Indonesia, padahal penting sekaligus bikin penasaran. Klik tautan ini untuk mengikuti artikel dan video lainnya dalam topik yang sama.


Juni, tujuh puluh delapan tahun lalu, seorang ginekolog asal Jerman bernama Ernest Grafenberg merilis makalah yang mendeskripsikan “zona erotis” sebelah dinding depan vagina yang, jika terstimulasi, akan menghasilkan orgasme intens. Kadang orgasme karena rangsangan titik sensitif vagina tersebut diikuti dengan ejakulasi. Pada 1980an, area ini disebut sebagai G-spot untuk menghormati penemuan Grafenberg. Sejak itu, konsep G-spot semakin ramai dibicarakan dalam budaya populer.

G-spot menjadi kian terkenal sampai-sampai sebagian besar memandang enteng fakta bahwa itu adalah bagian dari anatomi genitalia perempuan. Banyak dokter yang bahkan menawarkan prosedur untuk meningkatkan G-spot, disebut “ G-spot shot,” dan mengklaim bisa membuat stimulasi di area tersebut lebih nikmat.

Iklan

Meski demikian, di kalangan peneliti seks, konsep G-spot menuai kontroversi selama berdekade-dekade. Mereka tampaknya tak bisa mencapai kesepakatan soal apakah G-spot benar-benar ada, apalagi soal apakah itu bisa diamplifikasi. Sebagian ilmuwan berargumen bahwa G-spot nyata, mengklaim telah menemukan bukti fisik keberadaan titik sensitif tersebut.


Baca liputan khusus VICE Indonesia mengenai praktik poliandri yang sebetulnya diam-diam dilakukan masyarakat:


Sebaliknya, ilmuwan lain berargumen bukti yang dihimpun tidak layak atau belum bisa disimpulkan. Menyoal ini, beberapa peneliti merujuk pada G-spot sebagai “UFO ginekologis,” yang berarti: meski sudah banyak yang melihatnya, keberadaannya masih dipertanyakan.

Sebuah penelitian baru terbitan Journal of Sexual Medicine bertujuan untuk mengakhiri kontroversi ini dengan menghadirkan salah satu eksplorasi anatomi G-spot yang paling menyeluruh. Kesimpulan mereka adalah: kita perlu memikirkan ulang soal apa G-spot sebenarnya.

Dalam penelitian ini, sekelompok peneliti dan dokter menjalankan pembedahan dinding depan vagina (lokasi G-spot, katanya) 13 mayat perempuan. Saya tahu, kalian mungkin berpikir, 13 mayat adalah jumlah yang sedikit. Tetapi, ini adalah salah satu penelitian pasca kematian terbesar dalam bidang ini, dan merupakan perkembangan besar atas penelitian-penelitian sebelumnya yang mengklaim G-spot ada setelah membedah satu mayat saja.

Saya tidak akan menguraikan rincian (dan foto-foto) proses pembedahan tersebut (langsung baca artikelnya saja kalau kalian penasaran dengan rincian gory ini), tapi intinya mereka melakukan pencarian atas sebuah struktur di area genitalia tersebut sesuai dengan deskripsi G-spot. Yang mereka temukan adalah, dari 13 mayat, tidak ada bukti struktur anatomi tersebut. Setidaknya, dari yang dapat diamati oleh mata.

Jadi, apakah ini berarti kita sebaiknya mengabaikan konsep G-spot? Tidak juga. Meski benar bahwa para peneliti dalam penelitian ini tidak melihat struktur yang sesuai dengan G-spot, analisa mikroskop atas jaringan di area tersebut dibutuhkan untuk mengonfirmasi nihilnya G-spot. Dengan kata lain, langkah selanjutnya adalah penelitian yang menghilangkan kemungkinan bahwa G-spot hanya bisa dilihat di bawah kaca pembesar.

Iklan

Sementara kita menunggu hasil temuannya, penelitian ini tampaknya memberi kredibilitas pada teori alternatif soal G-spot, bahwa—alih-alih merupakan bagian dari anatomi perempuan—G-spot boleh jadi hanya mewakili area internal pertemuan klitoris, urethra, dan vagina. Mungkin inilah yang menghasilkan orgasme intens (dan terkadang, ejakulasi) yang telah lama dikaitkan dengan G-spot.


Tonton dokumenter VICE mengenai prosesi adat perkawinan yang amat mahal di Sumba, sampai-sampai anak muda di sana memilih lari ke luar pulau demi menghindarinya:


Pendukung teori ini menyimpulkan bahwa G-spot sebetulnya lebih baik dikategorikan sebagai clitourethrovaginal complex. Meski istilah ini mungkin akurat, kedengarannya tetap tak seringkas G-spot ya?

Mengingat temuan tersebut di atas, fakta bahwa kita masih memperdebatkan apakah G-spot ada 78 tahun setelah pertama kali dikenalkan adalah tanda bahwa anatomi perempuan tidak mendapatkan perhatian ilmiah yang cukup. Ya, semoga dalam waktu dekat kita bisa meninggalkan istilah “UFO ginekologis” dalam bidang penelitian seks selamanya.

Justin Lehmiller adalah peneliti kesehatan di The Kinsey Institute sekaligus pengelola blog Sex and Psychology. Bukunya yang telah terbit adalah Tell Me What You Want: The Science of Sexual Desire and How It Can Help You Improve Your Sex Life. Follow dia di Twitter @JustinLehmiller.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic