Terorisme

Renungan Penghuni Rumah Samping Masjid Korban Aksi Teror Terburuk di Selandia Baru

"Orang yang melewati jalanan depan rumahku itu mengambil tak hanya lahan parkir atau memetik buah tanpa izin, berbeda dari lelaki iseng lainnya saat melintasi masjid Al Noor."
18.3.19
Masjid al Noor Christchurch, yang jadi lokasi penembakan massal teroris Brenton Tarrant
Masjid al Noor Christchurch, yang jadi lokasi penembakan massal teroris Brenton Tarrant. Foto dari Google Maps

Kerucut pembatas jalan seharusnya mudah ditemukan di mana saja di seantero Kota Christchurch, Selandia Baru. Sebagian kerucut jalan berada di lokasi yang sama dan terkadang dipenuhi bunga, meski sudah delapan tahun berlalu usai gempa bumi mematikan mengguncang kota kami. Penduduk dari Canterbury, kota sebelah, suka menaruh bunga di deretan kerucut oranye dalam rangka mengenang tragedi yang terjadi pada 2011 lalu.

Iklan

Kerucut jalan sejenis memenuhi jalanan depan rumahku setiap Jumat, sebagai tanda tempat parkir bagi jamaah yang ingin salat di masjid sebelah rumah. Jarak rumahku dan masjid sangat dekat, sampai-sampai kubah emasnya berkilau jika dilihat dari jendela kamar anak-anak. Teman-temanku bertanya apakah aku merasa terganggu mendengar suara azan. Jujur, aku tidak pernah mendengar azan, meskipun sering berharap bisa mendengarnya.

Masjid itu hanya memakai sedikit kerucut jalan, padahal Christchurch punya banyak pembatas jalan. Parkiran di luar Masjid Al Noor juga tidak luas. Kadang aku menggerutu setiap kali jalan masuk rumahku penuh dengan mobil orang lain yang hendak menunaikan salat.

Dulu, aku pernah memergoki seorang laki-laki sedang memetik buah persik yang menjuntai dari salah satu dahan pohon yang tumbuh di pelataran masjid. Aku memarahinya, mengingatkannya agar tak memetik buah tanpa izin. Dia hanya tersenyum sambil mengangkat bahu. Dia menggigit buah persik, menenangkanku, Setelah itu dia masuk ke mobil dan pergi begitu saja.

Aku dan putriku pernah menerima undangan formal dan agak kaku dari takmir masjid untuk minum teh bersama warga sekitar. Tanggal acara terpaksa diubah beberapa hari kemudian, tapi sudah telat. Aku terlanjur mencatat tanggal yang lama di buku dan lupa merevisinya. Jadinya kami melewatkan pestanya, ketika kami datang ke masjid sore itu.

Aku dan putriku berdiri di depan pintu masjid. Kami memegang kerudung karena saya tidak tahu aturan berpakaian di masjid itu seperti apa. Kami melepas sepatu. Teras masjidnya berubin, agak pudar, penuh sepatu, dan ada papan pengumuman dengan kertas yang tersemat di sana. Koridornya sepi ketika kami masuk.

Iklan

Aku yakin kami datang di waktu yang salah. Tapi ada orang yang mendengar kedatangan kami. Mereka melongokkan kepalanya dan menyambut. Kami dipersilakan masuk, dan anak-anakku dikasih cokelat. Mereka membawanya pulang dan memakannya dengan lahap. Cokelatnya meleleh di mulut dan jari-jari mereka yang lengket. Kami merasa sangat bersyukur. Anak-anakku bertanya kapan mereka bisa main lagi ke sana.

Beberapa hari lalu, ada orang yang mengendarai mobil, melewati jalanan depan rumahku, berhenti di dekat masjid. Orang itu mengambil lebih dari lahan parkir atau buah persik.

Aku telat mengetahui kejadian tersebut. Hal pertama yang saya ketahui adalah suara rekan yang meneriakkan namaku saat menjawab telepon. Aku bekerja sebagai guru dan keluarganya sedang di masjid ketika tragedi itu terjadi.

Ayahnya terluka dan kami segera bergegas pergi ke sana. Kami mempelajari beritanya dari pencarian Google. Rumor bilang kalau empat orang tertembak. Lalu jumlah korban jiwanya bertambah jadi enam orang. Tak lama kemudian, kami baru sadar korbannya pasti lebih banyak dari rumor itu.

Setibanya di tempat tinggal kami di Kawasan Deans Ave, polisi menyuruh kami menyingkir. Aku menghentikan mobil di ujung barisan kerucut jalan oranye di seberang jalan. Akan tetapi, polisi yang kami mintai pertolongan malah membawa kami bersembunyi di balik tembok beton. Mereka khawatir kami bakal tertembak. Di sekitar kami, jamaah lelaki dari masjid yang selamat (aku tahu mereka jamaah karena semuanya cuma mengenakan kaus kaki) berusaha menelepon keluarganya dengan cemas.

Aku belum pernah melihat polisi dan senjata sebanyak ini. Semakin banyak kendaraan darurat yang berdatangan. Mereka tidak mengindahkan kerucut-kerucut oranye yang ada di jalanan. Mereka menabrak dan menjatuhkannya karena sedang tergesa-gesa.

Dari rumah sakit, kolegaku menghubungi dan memberi tahu kalau teroris yang jadi pelaku penembakan massal ini parkir mobil di depan jalan masuk rumahku. Aku menonton berita yang menunjukkan cuplikan pagar usang yang sudah lama ingin kuperbaiki.

Di sana lah, seorang laki-laki membuka bagasi mobil dan mengeluarkan senjata yang merenggut nyawa banyak orang. Tepatnya, 50 nyawa manusia, dewasa maupun kanak-kanak, yang sedang memuji Tuhan hari itu.

Aku menonton semua detail peristiwa mengerikan itu di rumahku yang aman. Aku berharap bisa berada di sana saat itu. Bukan di rumahku, tentunya, tapi di masjid Al Noor.

Aku ingin menunjukkan solidaritas terhadap rekan dan tetanggaku, umat muslim Selandia Baru. Aku ingin terus melihat pancaran sinar matahari dari kubah emasnya. Aku akan menaruh bunga di kerucut jalan dekat masjid.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Selandia Baru