Hiburan

Berhentilah Lebay Membenci Spoiler

Obsesi kita menghindari, bahkan sampai repot memperingatkan soal spoiler dari cerita fiksi berisiko menghalangi kita ngobrolin seni secara lebih bermakna dan mendalam.
28.7.17

Tempo hari teman saya posting di Facebook, dia senang soalnya musim kelima Orange Is the New Black menampilkan karakter Muslim poligami dengan cara penuh nuansa dan tidak stereotipikal. Saya belum ngelanjutin nonton OITNB sejak kapan tau, tapi saya ikutan senang membaca status itu. Tadinya, saya pengin menimpali, "Horee! Makin banyak representasi positif di media!" Saya urung melakukannya setelah membaca komentar paling atas, yang berbunyi: "HEH spoiler tauk!!!" Sekarang gini deh, teman saya itu kan enggak membocorkan bagian penting plot—dia cuma mengungkapkan kegembiraannya soal penggambaran satu tokoh dalam serial itu. Tapi ungkapannya itu, yang berpotensi memantik diskusi menarik, jadi mandeg hanya karena dia melanggar aturan nomor satu di media sosial: Jangan menceritakan, seremeh apapun, perkembangan cerita dari sebuah karya fiksi yang kemungkinan orang lain belum sempat ngikutin. Protes lebay soal spoiler ini bikin saya dongkol banget. Saya benar-benar tidak paham kenapa orang terkesan benci sama bocoran cerita. Sulit membayangkan saya jadi tidak atau kurang suka suatu cerita hanya karena saya sudah tahu akhirannya bagaimana. Fiksi bagus seringkali punya banyak elemen andalan selain elemen kejutan. Walau saya merasa biasa saja soal spoiler, terkadang saya bersyukur kalau bisa tahu lebih dulu bahwa suatu film atau episode atau buku memiliki ending mengecewakan. Dengan begitu, saya bisa bikin prioritas tontonan atau bacaan. Lebih baik gitu daripada buang-buang waktu ngikutin karya buruk, kan?

Iklan

Seharusnya saya cari tahu spoilernya sebelum nonton film It Comes at Night, yang dipromosikan sebagai straight horror (genre kegemaran saya). Ternyata film itu lebih tepat disebut psychological thriller (males banget). Selama beberapa minggu pertama film itu rilis, semua orang sangat berhati-hati saat ngomongin endingnya. Jadilah saya main nonton aja, dan kecewa berat. Bukannya mengisahkan zombie atau monster akhir zaman, film itu menggambarkan paranoia dan kegilaan dari insiden pembunuhan satu keluarga—ibu, bapak, dan anak laki-laki berusia tiga tahun.

Saya punya anak balita, dan saya nonton It Comes at Night bareng teman saya sesama penggemar film horor. Kalau kami tahu bagaimana filmnya akan berakhir, kami enggak akan mau nonton. Kami berdua keluar bioskop merasa jijik, ditipu, dikhianati—dan marah karena tidak ada orang yang cukup peduli untuk ngasih peringatan ke kita.

Iya, iya. Saya bisa saja mencoba nyari sinopsis plot, meski tidak ada jaminan saya berhasil. Lagipula, setahu saya, tidak akan ada review yang menyatakan dalam tulisannya, "seorang anak kecil meninggal secara burtal di pelukan ibunya yang meraung-raung." Menurut saya itu tega. Tidak ada yang "pantas" untuk dikejutkan dan dihibur dengan pembunuhan tiga orang kalau mereka tidak mau. Saat karakter Poussey Washington meninggal di Orange Is the New Black, pengguna internet mengucapkan kekecewaan, banyak dari mereka adalah perempuan kulit hitam dan pegiat LGBT memprotes matinya karakter yang bermakna sangat mendalam bagi banyak orang. Banyak pula yang membela serial televisi ini atas pilihan mereka untuk menyorot kebrutalan lapas, yang dapat memprovokasi perubahan sosial yang diperlukan. Meski begitu, kedua sisi pada diskusi berkali-kali dimatikan oleh penggemar lain serial ini yang merasa semua diskusi mengenai matinya Poussey tidak perlu diteruskan, karena itu masuk kategori "spoiler". Gila ya, trauma rasial dan masalah kekerasan sistemik dari sebuah serial televisi tidak pantas diangkat dan dibicarakan bareng-bareng gara-gara label spoiler.

Bersamaan dengan tayangnya musim terbaru Game of Thrones yang penuh plot twist dan tontonan sadis, semakin sadis pula media sosial menyoroti spoiler. Seorang teman baru-baru ini mengancam akan meng-unfriend ("di medsos dan di kehidupan nyata") siapapun yang membocorkan perkembangan episode baru Game of Thrones. Saya mikirin tentang betapa seringnya serial ini menggunakan adegan pemerkosaan, kekerasan domestik, penyikdaan, atau pembunuhan sebagai poin plot, dan orang-orang yang perlu membicarakan adegan mengganggu itu setelah menontonnya. Tapi mereka disuruh diem, atau bahkan di-bully, kalau mereka mencoba ngobrolin itu karena unsur hiburan orang lain jauh lebih utama ketimbang kepedihan mereka.

Saya ingat suatu hari kumpul di rumah teman sepulang sekolah, setelah nonton episode terakhir Buffy he Vampire Slayer di mana si Buffy meninggal. Mungkin sekarang kedengarannya sepele. Tapi buat perempuan usia 13 tahun, itu adalah kehilangan paling signifikan dalam hidup saya. Kalau saya tidak diizinkan ngobrolin itu saat itu, saya pasti enggak kuat. (Ngomong-ngomong, saya sudah nonton adegan itu berpuluh-puluh kali, dan dampak emosionalnya tidak menjadi berkurang hanya karena saya sudah tahu endingnya.)

Kapan, sih, kita secara kolektif memutuskan bahwa nonton TV atau baca buku harus jadi perjalanan seorang diri? Buat saya, ngomongin hal-hal yang baru saya saksikan atau baca, dan mendengar interpretasi orang lain adalah bagian menggembirakan dalam mengalami fiksi. Saya enggak bilang pendapat saya ini harus diamini sejuta umat lho ya, tapi saya juga enggak terima kalau pendapat saya itu menjadikan saya sampah masyarakat. Keinginan untuk dikejutkan oleh fiksi sekarang kayak jadi semacam kewajiban yang harus ditaati tanpa kita boleh mempertanyakannya: it's bad to spoil something because that spoils it. Alih-alih menerima keadaan di mana tidak ada percakapan publik yang bisa muncul sampai sejumlah orang memutuskan masanya telah lewat, saya memilih mempertanyakan alasan kita ingin melanggengkan nilai kejut di media—dan siapa yang bisa memetik manfaat dari peringatan yang berbau spoiler.

Bagi banyak penonton yang hidup dalam penindasan dan trauma, menonton adegan penuh kekerasan dapat memicu banyak emosi yang perlu dicerna. Ketika kamu menutup ruang orang lain untuk mencerna bersama-sama sebuah cerita, kamu sebenarnya merusak banyak hal, bukan cuma keseruan menonton film.

Follow Lindsay King-Miller di Twitter.