Perubahan Iklim

Peduli Lingkungan Boleh-Boleh Aja, Tapi Ga Usah Melarang Orang Punya Anak

Ada makalah yang mulai ekstrem menyerukan perlunya manusia mengurangi jumlah penduduk bumi. Aku sih peduli bumi tapi juga tetap berkomitmen merawat anakku.
15.7.17

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Sebagai jurnalis, aku berkesempatan menghabiskan banyak waktu memikirkan segala hal tentang perubahan iklim—bumi yang makin panas, melelehnya es di kutub selatan, punahnya beberapa spesies makhluk hidup, kemalasan para pembuat kebijakan mengambil tindakan konkret, dan publik yang masa bodoh tentang masa depan Planet Bumi. Kalau sudah sore, setelah semua perenungan tadi, toh aku tetap pulang ke rumah, mengurus anakku yang kini berumur dua tahun.

Iklan

Jadi, ketika muncul penelitian yang intinya mengatakan punya sedikit anak adalah cara terbaik mengurai permasalahan pelik tentang emisi karbon—beberapa media besar seperti The Guardian sampai memuat berita tentang penelitian ini dengan tajuk "Want to fight climate change? Have fewer children"—aku menghentikan semua aktivitas lalu menyimak penelitian tadi. Kabarnya, keluarga di negara maju seperti Amerika Serikat yang jumlah bersedia mengurangi peluang punya satu anak berkontribusi tingkat pengurangan emisi setara 684 muda-mudi yang "mengadopsi gaya hidup daur ulang komprehensif" seumur hidup mereka.

Dengan proyeksi populasi global diperkirakan mencapai 11,2 miliar pada 2100 nanti, naik 7,6 miliar manusia dari populasi saat ini, ada pertanyaan mendesak tentang bagaimana kita bakal menyediakan sandang, pangan, dan papan dalam kondisi bumi yang sudah sangat berbeda akibat perubahan iklim. Belum lagi mempertimbangkan segala ancaman yang menyertainya termasuk naiknya permukaan laut, pengasaman air laut dan penggurunan.

Memang, makalah itu tak bicara sejauh itu. Namun, sebelum membaca hasil penelitian, saya beberapa kali mendengar pendapat aktivis lingkungan yang mengatakan keputusan punya anak di zaman sekrang kurang bijak—orang tua dianggap terlalu arogan melahirkan anak ke sebuah planet yang kepalang padat dan sumber daya alamnya mulai habis. Penelitian ini sudah pasti kembali menghangatkan perdebatan klasik tersebut.

Iklan

Setelah mengesampingkan sejenak pertanyaan tentang planet macam apa yang bakal diwariskan pada anak-anak kita—sebuah pertanyaan yang menghantuiku dari hari ke hari, tetap saja aku harus kembali berkutat dan dihantui perkara perubahan iklim. Tentu saja, seperti yang pernah ditulis di situs Broadly, beberapa orang memilih untuk tak memiliki anak karena masa depan manusia tampaknya begitu kelam. Pertanyaannya kemudian: kalau memang aku punya kekhawatiran yang berdasar tentang perubahan iklim, apakah aku bisa digolongkan arogan karena memutuskan punya anak?

Sebelum jauh berdebat, ada baiknya kita menyimak temuan yang dibahas dalam makalah baru tersebut, yang dipublikasikan di Jurnal Environmental Research Letters. Pendeknya penelitian ini mengatakan manusia tak harus serta merta berhenti berkembang biak demi menyelamatkan bumi. Kita cukup mengurangi jumlah anak yang dilahirkan. Dengan cara ini, kita akan memberikan sumbangsih yang lebih ngefek dalam proses pengurangan emisi karbon (di negera maju, jumlah rata-rata karbon yang kita bisa potong mencapai 58 ton C02 dengan mengurangi jumlah penduduk). Strategi kontrol populasi itu akan lebih efektif jika dibarengi upaya mengurangi penggunaan mobil, menghindari penerbangan jarak jauh dan melakoni hidup sebagai seorang vegetarian. Tapi, seakan ingin menegaskan argumen utamanya, penelitian itu bilang tiga hal yang disebut terakhir tak begitu nendang dibanding keputusan untuk mengurangi jumlah anak.

Iklan

Berapa banyak sumber daya yang dikonsmsi oleh seorang bayi bergantung pada di mana dan bagaimana keluarganya hidup. Di negera Barat, di mana tiap orang memiliki jejak emisi karbon yang lebih tinggi, tingkat kesuburan manusia sudah turun. Jadi, tanpa diwanti-wanti hasil penelitian ini sekalipun, manusia di AS atau Inggris hampir pasti akan punya lebih sedikit anak dibanding penduduk India atau Indonesia.

Pada 2016 di AS, tingkat kelahiran mencapai titik terendahnya dalam sejarah, di angka 62 kelahiran per 1.000 perempuan berusia antara 15-44 tahun. Angka ini lebih rendah satu pesen dari catatan tahun sebelumnya. Tren yang sama dijumpai di Kanada, negara-negara Eropa dan Australia (Aku sengaja menyebut tiga tempat ini karena para peneliti dalam makalah itu secara khusus menyebut ketiganya).

Negara-negara yang mengalami kenaikan tingkat kelahiran kebanyakan adalah negara-negara berkembang. Di negara-negara yang mana perempuan tak memiliki akses yang lebih baik terhadap jaminan kesehatan dan pendidikan. Akibatnya, anjuran utuk memiliki "lebih sedikit anak" tak bisa muncul berdampingan dengan ancaman untuk penyalahgunaan dana jaminan kesehatan untuk perempuan dan pembatasan akses melakukan aborsi. Pemberdayaan perempuan, akses terhadap alat kontrasepsi (termasuk legalisasi praktik aborsi) dan edukasi kaum perempuan sangat berkaitan dengan perubahan iklim dan bakal memainkan peranan penting dalam usaha manusia menanggulangi efek buruknya beberapa tahun mendatang.

Iklan

Presiden Donald Trump dikritik bertubi-tubi karena memutuskan menarik AS dari Kesepakatan Paris soal lingkungan hidup. Di saat yang sama, Trump juga mengeluarkan dekrit yang melarang LSM internasional memberikan informasi tentang praktek aborsi pada masyarakat luas—jelas, ini juga masalah perubahan iklim.

Bagiku, temuan yang paling penting dalam makalah soal anak tadi adalah fakta "perubahan tingkah laku tambahan"—seperti kebiasan kecil macam mendaur ulang sampah—tak selamanya menghasilkan perubahan berarti untuk penurunan emisi karbon. Tentu saja, para peneliti tak meminta kita untuk berhenti mendaur ulang. Kita mesti terus mendaur ulang. Cuma, perubahan iklim adalah masalah politik, yang harus dihadapi dengan solusi politik global.

Aku juga tak menganggap bahwa "punya lebih sedikit anak" solusi yang keliru. Hanya saja aku mengkritisi para peneliti tersebut, karena secara sadar menyempitkan pilihan yang kita miliki. Akses yang lebih baik terhadap fasilitas kesehatan, edukasi, kontrasepsi sebenarnya usaha untuk memperluas pilihan yang dimiliki perempuan dan harus dipahami sebagai usaha memerangi perubahan iklim.

Bagiku, membesarkan anak justru memberiku harapan untuk masa depan yang lebih cerah, meski kekhawatiran akan perubahan iklim kerap bikin aku terjaga tengah malam.

Jelas, perjuangan masih panjang. Tapi bagiku, harapan itu sudah ada di depanku, dari sosok anakku.