kesehatan

Berikut Alasan Ilmiah Sebagian Orang Benci Digelitiki

Salah satunya, ketika kita merasa geli saat digelitik, secara psikologis otak mengakui kita berada di bawah kendali orang lain.
18.5.18
Dilsad Senol / EyeEm

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic

Dulu waktu masih kecil, aku punya reputasi sebagai anggota keluarga yang paling gelian. Sepupuku kadang suka berpura-pura menggelitiki kepalaku. Bahkan, sebelum tangannya sampai, aku sudah kegelian. Bertahun-tahun kemudian, tiap kali dipijit di panti pijat, aku selalu tertawa terbahak-bahak karena kegelian. Tukang pijat yang menangani ku pernah bilang orang yang sensitif umumnya gelian. Memang sih, aku orangnya lumayan sensitif. Imbasnya, aku jadi penasaran, emang ada korelasinya ya? Kalau memang enggak, terus apa dong yang bikin seseorang gampang kegelian?

Iklan

Menggelitik adalah “stimulasi indera peraba oleh orang lain selain diri kita,” kata pakar ilmu saraf dari University of Maryland, Robert Provine yang juga menulis buku Curious Behavior: Yawning, Laughing, Hiccupping, and Beyond and Laughter: A Scientific Investigation. “Jadi perlu orang lain. Kalau kamu geli karena digelitiki sendiri, kamu akan sering banget kaget.”

Tawa yang umumnya keluar karena digelitiki (terlepas dari kita suka atau tidak) kemungkinan adalah refleks untuk mengatasi rasa tegang, jelas Alan Fridlund, associate professor di Departemen Psikologi dan Ilmu Otak di University of California, Santa Barbara. “Orang-orang umumnya menyamakan tawa dengan humor dan permainan, tapi kita juga bisa tertawa dalam upacara pemakaman atau saat kita mengalami ketegangan dan ketidaknyamanan yang ekstrem. Senyum yang muncul bersama tawa bisa saja jadi cara kita membetulkan posisi pita suara yang tergeser karena tawa atau teriakan melengking yang kita keluarkan.”

Kebanyakan orang sejatinya memang gelian, kata Provine, dan menurut keterangan yang diberikan Fridlund, level ketahanan kita akan gelitikan akan selalu ajeg. Ada dua teori yang menjelaskan kenapa manusia bisa merasakan geli. Psikiater Donald Black menduga rasa geli memotivasi kita untuk selalu melindungi bagian sensitif di tubuh mereka. Jika teori Black ini benar, maka orang-orang punya refleks yang kuat—seperti pasien yang menendang ketika dokter mengetuk pelan dengkulnya—sudah pasti akan lebih gelian.

Teori asal muasal rasa geli pada manusia lainnya menyatakan bahwa rasa geli menciptakan ikatan antara manusia. “Permainan saling menggelitik kemungkinan besar adalah sosialiasi yang dilewati seorang bayi dalam semua kebudayaan,” kata Fridlund. “Senyum dan tawa geli bayi menegaskan perhatian orang tua, serta sebaliknya.”

Rasa geli juga punya kaitan langsung dengan humor, imbuh Fridlund. “Charles Darwin dan koleganya Theodur Piderit sama-sama menyadari keterkaitan ini: kita tertawa secara bersamaan. Untuk bisa sampai ke sana, kita butuh elemen kejutan dan sentuhan ringan—secara fisik lewat gelitikan dan secara verbal lewat humor.”

Untuk melihat apakah relasi antara rasa geli dan humor lebih dari sekadar analogi Fridlund dan rekannya Jennifer Loftis menerbitkan hasil penelitian terhadap 100 mahasiswa di Biological PsychoIogy, yang menyimpulkan bahwa orang yang punya gampang geli punya tendensi yang tinggi untuk tersenyum dan tertawa.

Orang-orang ini, menurut hasil penelitian yang sama, juga lebih gampang tersipu malu, merinding dan menangis—semua respons yang digolongkan oleh Darwin sebagai tawa yang sehat. Fridlund dan Loftis menengarai bahwa permainan menggelitik mungkin tak serupa dengan guyonan, tapi mereka adalah humor orang dewasa.