​Foto Ebrahim Norooozi soal Danau Urmia di utara Iran. Foto dari seri 'The Lake on Its Last Legs'
Foto Ebrahim Norooozi soal Danau Urmia di utara Iran.
Fotografi

Menikmati Foto-Foto Terbaik Dari Pameran Legendaris di Paris

Karya asal Iran hingga Kongo yang berpotensi mengguncang jagat fotografi dipamerkan bersamaan di Grand Palais.
13.11.18

Selama 22 tahun terakhir, Paris Photo, pameran yang digelar di Grand Palais, konsisten menyajikan karya-karya fotografi terbaik sedunia. Skalanya saja sudah sangat epik. Foto yang tampil tersebar di lima sektor, disumbang 196 peserta dari 38 negara yang semuanya memamerkan karya terbaik mereka.

Bagi yang baru datang pertama kali ke Paris Photo, otak kita barangkali kesulitan memproses semua keindahan karya-karya yang semua punya nilai kemegahan masing-masing. Jadi tidak heran mulai tahun ini ada penekanan pada penyajian fotografi travel dan adventure.

Iklan

Hal paling hebat dari pameran ini adalah hadirnya foto-foto terbaik mewakili setiap benua. Barangkali hanya melalui Paris Photo, kamu bisa menyaksikan dunia dari sudut pandang mata para jenius fotografi. Setiap karya yang dipamerkan ini berasal dari hasil kerja tiap fotografer selama 50 tahun terakhir.

Kami dari redaksi Amuse mengumpulkan karya fotografer travel yang kami benar-benar suka sepanjang pameran 2018. Ada karya yang bercita rasa foto jurnalistik, ada juga yang fokusnya lebih pada komposisi. Tetapi setiap karya memiliki kualitas yang bisa membawamu seakan-akan memasuki foto tersebut.

Inilah daftar fotografer dan karya mereka yang paling kami favoritkan:

Ebrahim Noroozi

Ebrahim-Noroozi-Travel-Photography

'The Lake on Its Last Legs' oleh Ebrahim Noroozi

Fotografer asal Iran Ebrahim Noroozi ingin mengabadikan surga di negaranya sebelum menghilang. Danau Urmia, di Iran Utara, dahulu adalah oasis sejuk di tengah lanskap Timur Tengah yang kering. Pada musim panas, airnya berubah menjadi merah muda menambah pamor danau tersebut sebagai surga bagi turis di kawasan.

Tapi sekarang, karena pembungkaman hulu dan faktor-faktor lain, Urmia menyusut dengan cepat – pantainya sudah mulai surut. Kini hampir keseluruhan danau dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Foto Noroozi menangkap petualang Iran muda yang berupaya menikmati setiap tetes keindahan Urmia yang mungkin tidak akan bertahan lama lagi.

Richard Mosse

Richard-Mosse-Travel-Photography-Paris-Photo

'I Shall be Released, 2015' oleh Richard Mosse

Karya fotografi kelas wajid dapat menampilkan sudut pandang yang tidak bisa dilihat mata manusia atau mengubah sesuatu yang sudah dikenal menjadi terasa baru. Menggunakan teknologi film infra-red khusus yang dikembangkan untuk militer, Richard Mosse melakukan hal yang sekilas tidak mungkin tersebut.

Iklan

Dalam seri foto ini, Mosse menjelajahi bentang alam Republik Demokratik Kongo. Dia menangkap spektrum cahaya yang tak terlihat mata manusia. Pemandangan perang di tengah hutan, yang biasanya tidak terlihat dalam laporan media arus utama, berubah menjadi sesuatu yang indah. Dalam ketegangan foto-foto Mosse, kita tidak bisa berhenti memandang fotonya—sekaligus tidak dapat berpaling dari manusia maupun tiap subyek yang ada di hasil jepretannya.

Alex Webb

Alex-Webb-Travel-Photography-Paris-Photo

Semua foto oleh Alex Webb. Dari kiri atas searah jarum jam: 'Etroits, La Gonave, Haiti, 1986' | 'Guanajuato, Mexico, 1987' | 'Boquillas, Mexico, 1979' | 'Haiti, Cat Tails, 1979'

Karya Alex Webb mendefinisi apa yang kita sekarang kenal sebagai ‘ fotografi jalanan.’ Dari awal dekade 1970-an, foto-foto hitam putihnya menunjukkan potret kehidupan miskin di bagian selatan Amerika. Karir fotografinya membawanya berpetualang ebih jauh. Webb mengarahkan lensanya ke Meksiko dan pulau Karibia. Dari dua lokasi itulah karyanya semakin berwarna. Pada dekade 80-an, foto-fotonya sudah penuh dengan karakter saturasi.

Sepanjang dekade itu pula, Webb pertama kalinyapergi ke Haiti karena terinspirasi novel Graham Greene, The Comedians. Meskipun indah, foto-foto yang dia ambil penuh kontradiksi. Webb menunjukkan kita betapa pulau surga di Karibia tercemari tragedi sosial. Warna cerah yang mengisi foto-fotonya selalu dirusak oleh bayangan gelap kedegilan manusia.

Esko Mannikko dan Pekka Turunen

Esko-Mannikko-Pekka-Turunen-Travel-Photography

'PEMOHT' oleh Esko Männikkö dan Pekka Turunen

Dipotret sepanjang kurun 1989 sampai 1995, rentang waktu karya ini merekam presisi tiap detik jatuhnya rezim politik Uni Soviet. Esko Männikkö dan Pekka Turunen, dua sosok fotografer yang berkolaborasi ini, mengarahkan lensa kamera pada para manusia yang lahir di perbatasan terpencil Finlandia dan Rusia.

Iklan

Dikenal karena sumber daya metal dan lokasinya yang strategis, semenanjung Kola diindustrialisasi segera usai Revolusi Oktober dimenangkan kelompok komunis. Tapi setelah Moskow jatuh pada awal 1990-an karena komunisme ambruk, komunitas-komunitas kecil pro-Soviet menjadi terdampar.

Mereka terabaikan dan tidak pernah dilaporkan, foto-foto ini menunjukkan pada kita, kehidupan manusia yang berusaha bertahan hidup di zona pasca-industrial antara dua peradaban yang bersaing. Karya-karya mereka menggambarkan betapa kuat dampak dari fotografi yang berkarakter.


Clem Fiell adalah jurnalis lepas berbasis di London. Dia social editor di Amuse.

Artikel ini pertama kali tayang di Amuse, situs bagian dari VICE.com seputar travelling dan wisata unik