Perubahan Iklim

Menurut Ilmuwan NASA, Kita Butuh Tiga Planet untuk Pertahankan Peradaban Manusia

Umat manusia senang mengeksploitasi sumber daya alam di Bumi sehingga planet ini tidak sanggup lagi menampung mereka.
28.5.18
Inikah rumah kita nanti? Foto: NASA

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Kita semua tahu kalau perubahan iklim dan pertumbuhan populasi membuat bumi semakin tak layak dihuni. Seorang ilmuwan NASA sampai berpendapat bahwa kita sebaiknya mulai cari cara untuk membuat Mars layak dihuni. Selain itu, ia juga berujar kalau umat manusia “butuh tiga planet” untuk bisa bertahan hidup.

“Keseluruhan ekosistem kita memburuk,” kata Dennis Bushnell, kepala ilmuwan di Langley Research Center NASA, Kamis lalu. “Manusia sudah overpopulasi. Planet kita diduga telah kehilangan 40-50 persen bagiannya. Selain itu, populasi Asia akan terus bertambah sehingga kita butuh tiga planet lain untuk dihuni.”

Iklan

Bushnell membahas perilisan “ State of the Future” The Millenium Project, laporan tahunan yang mengangkat isu tantangan global dan solusinya. Ia menganggap Mars cocok jadi planet pertama, tapi kita akan segera membutuhkan lahan lain untuk hidup.

“NASA butuh waktu paling tidak 120 tahun untuk memodifikasi Mars. Satu planet tidak mungkin menampung manusia, maka kita butuh planet lain. Proses terraformnya akan semakin lama,” ujarnya.

Pindah ke planet lain bukanlah gagasan baru, tapi alasan kali ini berbeda dari sebelumnya. Pada 2012, organisasi World Wildlife Fund juga pernah menyarankan hal serupa. Mereka mengatakan bahwa manusia menggunakan 50 persen sumber daya dari yang bisa diberikan bumi. Itu artinya perlu tiga planet lain untuk mencukupi kebutuhan kita pada 2050.

Bushnell tidak menjelaskan kapan kita membutuhkan tiga planet itu dan planet apa saja yang bagus dihuni manusia. Mars masih sangat memungkinkan, tapi tidak bagi planet-planet lain.

“Laporan ini bukan sebagai peringatan atau sindiran,” kata Jerome Glenn, CEO Millennium Project. Namun, ini berguna untuk mengetahui apa saja yang sedang dihadapi planet Bumi dan mencari solusinya. “Kita tidak boleh pesimis. Kita butuh solusi yang bisa membuat umat manusia bertahan hidup,” katanya kepada Motherboard. “Kalau mengira masalahnya tidak akan selesai, lalu untuk apa kita berusaha memperbaikinya? Kalau mengira bumi ini baik-baik saja, untuk apa kita mengubahnya?”

Iklan

Bushnell juga tidak mengharuskan kita untuk meninggalkan bumi, hanya saja kita perlu berhenti mengeksploitasi sumber daya alam. Menurutnya, pertanian menggunakan air asin bisa menjadi solusi.

Halophytes, kelas tanaman yang dapat tumbuh di air asin, bisa dimanfaatkan untuk menciptakan biofuel dengan menanam tanaman di tengah lautan (atau menggunakan air asin untuk mengirigasi tanaman di daerah yang tidak produktif). Para ilmuwan saat ini sudah mulai melakukan percobaan, dan proyek MIT menunjukkan bahwa beberapa program contoh seharusnya dimulai tahun ini di India, Pakistan, Laos, Algeria dan negara miskin lainnya, hanya saja belum ada kemajuan sama sekali. Bushnell yakin proyek ini bisa menyelesaikan masalah.

“Apabila kamu menanam halophytes di gurun atau lahan kosong menggunakan air asin, kamu akan memiliki bahan bakar seharga $50 (sekitar Rp699 ribu) per barel dalam kurun waktu 10-15 tahun. Itu separuh dari harga minyak bumi saat ini,” katanya. “Dengan uang segitu, kamu bisa memperbaiki kekurangan lahan, stok makanan, air, energi dan iklim. Semua akan kembali seperti semula.”

Apabila kita gagal melakukannya, maka kita sebaiknya perlu mempertimbangkan beli lahan di Mars.