kesehatan

Kami Minta Dokter Menjelaskan Gejala Masuk Angin dari Sudut Pandang Medis

Jawabannya membuat kita semua terkejut, terutama kalian penggila kerokan: masuk angin hingga 'angin duduk' bukan penyakit klinis.
8.1.17
Gambar oleh istolethetv via Flickr

Orang Indonesia cukup takut pada angin. Tentu tidak semua jenis angin. Tapi ya gitulah. Maksud saya adalah masuk angin, jenis penyakit yang tampaknya hanya menimpa penduduk kepulauan tropis ini, tapi tidak pernah dikenal orang dari bangsa-bangsa lain. Pastinya, kita tidak terima dong jika penyakit ini disebut sebagai 'takhayul'. Jelas-jelas kita—orang Indonesia—pernah merasa sakit, mual, pegal, ketika banyak terpapar cuaca dingin. Masuk angin sudah sangat biasa kita alami, sama belaka seperti orang-orang Barat takut kena flu jika terlalu lama berada di luar rumah. Benar begitu kan?

Iklan

Karena beberapa alasan yang sulit dinalar, harus diakui, masuk angin membuat saya menjadi pribadi lebih sehat. Demikian adanya. Sejak kecil sampai dewasa, saya tidak pernah pergi ke dokter. Kalau terasa tidak enak badan, saya akan menganggapnya masuk angin. Buat apa ke dokter, jika penyakitmu memang bisa ditangani cukup dengan kerokan atau minum jamu seperti Tolak Angin dan Antangin.

Di Indonesia, masuk angin menjadi sebutan untuk semua jenis gejala tidak enak badan. Kita sepakat, seseorang disebut masuk angin biasanya saat badannya pegal-pegal, seperti hendak flu tapi bukan, rasa mulas di perut, dan sakit kepala. Kalau boleh jujur, itu padahal ya gejala banyak penyakit kan? Tapi kita nyaman menyebutnya masuk angin. Pokoknya semua salah angin yang masuk tanpa permisi ke tubuh kita.

Setiap kali bertemu kawan-kawan dari mancanegara, lalu saya menjelaskan konsep masuk angin, mereka tertawa. Kurang ajar. Susah memang jika orang-orang asing ini tidak bisa membedakan mana angin baik dan seperti apa angin jahat yang bisa memicu penyakit. Supaya tak ditertawakan lagi, saya menghubungi dokter. Saya memintanya menjelaskan dari kaca mata medis, sebenarnya apa yang kita alami saat menderita 'masuk angin'.

"Masuk angin itu definisinya luas ya, masyarakat kita itu kayaknya mengidentikkan perasaan-perasaan yang tidak enak mulai dari kembung, demam, pegal-pegal, itu jadinya masuk angin," kata Andi Khomeini Takdir Haruni, Ketua Ikatan Dokter Indonesia. "Tapi yang terjadi sebenarnya adalah kumpulan gejala."

Iklan

Oke. Jadi masuk angin sebetulnya adalah beberapa jenis gejala tidak enak badan yang kita masukkan dalam satu kategori. Artinya ini tetap penyakit kan? Di luar negeri juga ada penyakit seperti ini kan? Bagi Andi, tetap tidak ada itu yang namanya masuk angin. Harus selalu diperiksa satu per satu keluhan pasien, tidak bisa disamaratakan. "Pola makan, pola hidup, daya tahan turun. Lagi kena infeksi virus. Banyak manifestasi seperti itu." Atau jangan-jangan, masuk angin hanya ada di negara tropis, mengingat kita ini kan tinggal di tempat dengan cuaca tak tentu, kadang hujan sering pula panas terik, serta lembab di banyak tempat?

Melalui penjelasan Pakar Kajian Budaya Universitas Indonesia, Melani Budianta, saya mendapat informasi gejala disebut 'masuk angin' ini dikenal di seantero Asia Tenggara. Namanya tentu berbeda-beda, tapi definisinya sama. Dia pernah menjumpai psikolog dari Amerika Serikat yang sedang mengisi seminar di Yogyakarta, menjelaskan betapa hampir semua gejala 'tidak enak badan' penduduk Asia Tenggara dikaitkan dengan angin tertentu.

"Secara kultural itu sebagai pengetahuan, masuk ke dalam kebudayaan pengetahuan terhadap angin," kata Melani. "Karena angin itu penting (bagi penduduk Asia Tenggara), maka gejala pada tubuh itu memakai metafora angin."

Bagi Melani, masuk angin adalah mekanisme filosofis manusia di negara tropis seperti Indonesia, Malaysia, atau Filipina, memahami perubahan musim yang dipengaruhi oleh gerak angin. "Ini adalah cara kita menjaga keseimbangan, kedekatan dengan alam. Jadi itu sesuatu yang dekat dengan alam."

Iklan

Saya masih belum puas. Penyakit dipicu oleh angin ada banyak ragamnya di Indonesia ini. Salah satu yang paling ditakuti adalah angin duduk. Siapapun menderita angin duduk akan langsung meninggal. Jadi, sejak kecil saya selalu meyakini angin jahat akan membuat kita tidak enak badan, atau jika dia sedang marah, langsung mengantar kita ke liang kubur. Lalu, kalau dokter bilang masuk angin bukan penyakit medis, bagaimana dengan angin duduk?

"Itu bukan penyakit, penyebab angin duduk itu salah satunya dari serangan jantung," kata Andi. Yah lagi-lagi penyakit terkait angin ini dianggap mitos oleh dokter. Kenapa?

"Itu bukan bahasa ilmiah, itu cara masyarakat kita menggambarkan yang mereka rasakan," kata Andi. Jadi semua penyakit angin kita cuma mitos belaka? Dari kacamata dokter sih begitu.

Tapi apakah kami masih boleh kerokan dok, kalau tidak enak badan? Andi menyatakan dalam kedokteran, tidak dilarang kerokan dan tidak juga jadi keharusan melakukannya. "Kalau pasiennya merasa nyaman ya silahkan saja," ujarnya. "Lebih ke sugesti, karena nyaman, akhirnya otaknya lebih ikut merasa nyaman. Kan kalau isi kepala nyaman yang lain ikutan nyaman. Tapi secara langsung engga ada korelasinya sih."

Saya pun membandingkan budaya kita memahami penyakit dengan beberapa teman saya dari Barat. Di Barat, ketika tidak enak badan mereka akan menjelaskan spesifik. Kalau terasa panas tubuh meningkat, dijelaskan bagian tubuh yang mana. Sementara di Indonesia (dan tampaknya di seluruh Asia Tenggara), kita mengutamakan perasaan untuk menjelaskan gejala penyakit tertentu. Tentu tidak salah. Toh ini memang praktik kebudayaan dan tentu agak sulit untuk diubah.

Jadi, bagaimana rasanya kena flu di negara tropis? Rasanya seperti kemasukan angin yang punya niat buruk pada manusia.