Perilaku Sosial

Orang Ganteng atau Cantik Cenderung Gagal Dalam Hubungan Jangka Panjang

Kami ngobrol bersama peneliti yang menghasilkan kesimpulan di atas. Orang dengan fisik menarik hubungannya lebih singkat serta berpeluang mengalami perceraian dibandingkan orang yang fisiknya tidak menarik.
20.6.17
Foto ilustrasi oleh VegterFoto via Stocksy.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Para peneliti sejak lama mendokumentasikan dampak yang mereka sebut "beauty premium": Orang-orang cakep tak hanya mendapatkan perhatian lebih di sekolah dan tempat kerja, tapi mereka juga kelihatannya memiliki penghasilan lebih, dibandingkan mereka yang fisiknya pas-pasan. Namun sebuah penelitian baru diterbitkan bulan lalu di Personal Relationships, "memiliki fisik menarik itu bukan tanpa kerugian." Sebuah tim berisi peneliti dipimpin oleh Christine Ma-Kellams, psikologis sosial dengan kaitan ke Harvard University dan University of La Verne di California, ingin lebih baik memahami dampak keunggulan fisik pada hasil hubungan asmara. Begini: Apakah orang-orang yang lebih cakep memiliki hubungan lebih singkat dan lebih cenderung mengalami perceraian? Tim penelitian ini mengadakan empat penelitian untuk melihat apakah ada sebuah hubungan, dan, jika ya, apa saja faktor-faktor pendukungnya. Dalam dua makalah pertama, tim ini mengemukakan bahwa, ternyata memang ada kaitan antara kecakepan dengan putus asmara. Dalam sebuah percobaan, due perempuan terpisah memberi skor foto-foto pada buku tahunan sekolah di era 70an dan 80an. Para peneliti lalu memeriksa subjek-subjek tersebut pada Ancestry.com untuk menentukan status pernikahan mereka dan menemukan bahwa mereka yang telah bercerai, rata-rata, memiliki rating kecakepan lebih tinggi dibandingkan dengan yang masih menikah. Percobaan kedua memiliki hasil serupa: dua perempuan yang sama memberi nilai pada selebriti perempuan dan laki-laki terkenal menurut IMDb dan Forbes; yang paling cakep juga memiliki hubungan dan usia pernikahan lebih singkat. Penelitian sebelum ini telah menemukan bahwa orang-orang dalam hubungan tak lagi memiliki mata yang jelalatan; untuk itu, para peneliti berupaya menelaah apakah orang-orang yang cakep masih memiliki ketertarikan pada pilihan-pilihan lain di luar pasangan mereka. Peserta dalam penelitian ketiga, setengahnya memiliki hubungan asmara eksklusif, diminta untuk memberikan nilai kecakepan sebuah "target" lawan jenis. Para peneliti menemukan bahwa mereka dengan kondisi fisik lebih menunang dan memiliki pasangan eksklusif, malah menunjukkan lebih banyak ketertarikan pada target ini. Hal ini, menurut para peneliti, menunjukkan "beban relasi dari menunjukkan ketertarikan pada partner alternatif." Sebuah eksperimen final menunjukkan kepuasan hubungan dan dampaknya pada ketertarikan atas pilihan lain. Perserta yang dibuat merasa lebih cakep (setelah melihat setumpukan foto-foto sesama jenis yang kurang cakep) memberi nilai foto-foto lawan jenis, mentarget orang-orang yang lebih cakep, dan terutama jika mengakui bahwa mereka tidak puas dengan hubungan mereka saat ini. Hal ini tidak sama dengan orang-orang yang dibuat merasa tak cantik dengan cara diperlihatkan foto-foto orang yang tak cakep. (Foto-foto ini diambil dari pencarian Google untuk "perempuan cakep," "perempuan jelek," "laki-laki cakep," "laki-laki jelek".) "Temuan-temuannya patut diperhitungkan," tulis salah satu peneliti, "karena mereka menunjukkan [ketertarikan fisik] yang memprediksi apakah sebuah hubungan sedang terancam—dalam hal ini, karena kepuasaan hubungan yang rendah." Secara keseluruhan, penelitian ini mengindikasikan bahwa orang-orang cakep mungkin lebih sering putus hubungan karena mereka mungkin tak berupaya sama keras untuk mengelola hubungan tersebut. "Saya rasa fisik yang menunjang memberikan seseorang lebih banyak pilihan," ujar Ma Kellams pada Broadly, "yang mungkin menjadi lebih sulit untuk melindungi hubungan dari ancaman-ancaman eksternal. Dalam hal ini, memiliki lebih banyak pilihan bukan sebuah keuntungan bagi ketahanan hubungan." Ma-Kellams juga bilang dia mulai tertarik pada penelitian ini ketika dia melihat kajian-kajian yang telah ada sebelumnya soal ketertarikan fisik dan membayangkan apakah ada sisi lain dari ide bahwa kecantikan selalu diminati. "Observasi kasual mengindikasikan bahwa ketertarikan fisik bukan jaminan atas hubungan yang memuaskan dan tahan lama," ujarnya. Meski mereka yang telah disalip oleh orang cakep akan merasa lebih senang dengan temuan-temuan ini—sori ya, emang belum jodoh kali—Ma-Kellams bilang ini adalah pelajaran bagi orang-orang cakep. "Salah satu hal yang perlu dilakukan orang-orang cakep adalah menyadari kapasitas dan kecenderungan mereka dalam hubungan asmara eksklusif," ujarnya. "Mengakhiri sebuah hubungan enggak selalu buruk (tergantung perspektifnya), tapi kalau tujuannya untuk punya hubungan yang bertahan lama, mungkin orang-orang cakep perlu tahu batasan mereka dan engga terlalu mengandalkan tampang saat ingin menjalin hubungan."