Seharian Menjadi Keluarga Penggila Skuter Jakarta
Semua foto oleh penulis.
skuter

Seharian Menjadi Keluarga Penggila Skuter Jakarta

Bulan lalu aku mendatangi Mods Mayday. Di perayaan bersejarah itu, aku serasa di surga Vespa dan Lambretta.
02 Juni 2017, 5:58am

Vespa adalah dunia yang sepenuhnya baru buatku. Aku mulai menekuni vespa April tahun ini, setelah membobol tabungan dan membeli Vespa classic jenis Sprint keluaran 1972. Dari si penjual skuter, aku ditawari ikut serta di acara Mods Mayday. Belum sah jadi anak Vespa, katanya, kalau sampai melewatkan Mods Mayday. Pertanyaan pertamaku? Apakah anak-anak Vespa ingin ikut unjuk rasa Hari Buruh Internasional? Ternyata bukan. Kebetulan doang sebutannya mirip.

Menurut salah satu panitia, budaya Mod berasal dari kelas pekerja Inggris pertengahan dekade 60-an. Kelompok Mod ini membangun berbagai gaya hidup yang khas, misalnya menjahit baju sendiri, mendengarkan musik ska dari Jamaika, R&B, serta ke mana-mana naik Vespa dan Lambretta (karena dua sepeda motor ini terhitung murah pada zamannya). Acaranya diberi nama Mayday, menurut salah satu panitia, karena anak-anak Mods pernah bentrok melawan gerombolan motor gede. Kelompok Mods akhirnya memenangkan pengaruh di London. Momen kemenangan itulah yang disebut mayday.

Pertanyaan lanjutan yang muncul di benakku adalah, kenapa di Indonesia ada juga ya kumpul-kumpul Mods? Aku menghubungi Farid Rahman, salah satu tokoh komunitas Vespa di Jakarta, sekaligus pecinta skuter kawakan. Aku bertanya padanya, kenapa mods mayday penting baginya.

"Karena modsmayday salah satu event vespa terbesar di dunia, yang salah satunya di Indonesia," ujarnya. "Acara ini bisa besar di Indonesia menurut gue karena acaranya selalu bertepatan pada bulan Mei dan berkesinambungan. Beda sama acara lain, bulannya selalu berubah jadi informasinya kurang sampai ke publik."

Baiklah. Tampaknya aku harus datang sendiri untuk menyaksikan seperti apa Mods Mayday yang digelar 13 Mei itu.

Mods Mayday di Indonesia rutin digelar saban tahun, diikuti oleh para penggemar Vespa seluruh Indonesia. Untuk pertemuan tahun ini yang berpusat Kawasan Parkir Timur Senayan, panitia dari Komunitas Vespa Warriors Jakarta. Mods Mayday digelar sejak 2008. Ditemani satu kawan, aku datang ke Monas. Mods Mayday tahun ini dimulai dari sana, selanjutnya peserta akan konvoi keliling kota naik vespa dan lambreta masing-masing menuju puncak acara diSenayan. Selama acara, seperti berada di surga Vespa dan Lambretta. Motor dari tahun berapapun ada. Bentuknya masih ada yang standar, tak sedikit pula yang sudah dirombak total, dan kebanyakan warna-warni. Setibanya di Senayan, berkumpul berbagai komunitas dari seluruh Indonesia, tak terkecuali penjual pernak-pernik Vespa dan Lambreta.

Aku terkaget-kaget, karena ongkos merawat dan mendadani penampilan Vespa tidak semurah bayangan awal (mungkin juga di luar bayangan pelopor Mods di Inggris dulu). Ongkos membeli aksesoris semacam windshiled dan dudukan belakang berkisar antara Rp150 ribu hingga Rp2 juta. Pentas musik yang ditampilkan juga bukan cuma ska atau jamaican doang, tapi sampai pop dan jazz. Kekinian banget deh.

Mods Mayday, ketika dirayakan di Indonesia, sepenuhnya menjadi ajang pamer tunggangan skuter masing-masing, bukan tentang kultur mod yang sejati. Farid merasa, budaya mod yang dipahami di sini ya sepenuhnya tentang Vespa. Itulah yang membuat peserta mods membludak. Untuk memuaskan hasrat pamer, tak kurang tak lebih. Karenanya, dia malah agak kecewa dengan Mods Mayday tahun ini. "Lapak-lapak printilannya sangat sedikit, dan vespa-vespanya kurang 'wow' gitu."

Silakan berdebat soal sudah tepatkah tafsir komunitas Vespa dan Lambreta di Tanah Air terhadap budaya mods. Yang jelas, sebagai anak baru di dunia skuter, datang ke sana serasa melihat surga.