kencan dan cinta

Beginilah Proses Kencan Seorang Difabel Penyandang Tuna Netra

YouTuber dan motivator Molly Burke menjabarkan kehidupan percintaan orang-orang yang hidup tanpa penglihatan.
11.4.18

Menjalani kehidupan percintaan tidak mudah, bahkan dengan bantuan anjing pemanduku.

Saya beri tahu saja, ya, sejak awal: saya seorang tunanetra. Saya adalah YouTuber dan motivator berusia 24 tahun yang tinggal di Los Angeles. Saya tak hanya lajang, tetapi juga mengalami ketertarikan fisik dengan cara yang berbeda dari kebanyakan orang.

Saya kehilangan sebagian besar penglihatan saya akibat retinitis pigmentosa pada 2008, saat saya berusia 14 tahun. Seperti banyak orang seusia saya, saya baru saja mulai tertarik untuk berkencan. Pada tahun yang sama, seorang murid laki-laki bilang pada saya, “Tidak ada laki-laki yang mau menikahi perempuan buta.” Alasannya? “Menikahi perempuan buta layaknya membeli barang yang sudah jelas-jelas rusak, dan tak ada laki-laki yang cukup bodoh sampai melakukan itu.” Kamu bisa membayangkan betapa terkejutnya dia saat, beberapa bulan kemudian, saya mengencani pacar pertama saya.

Iklan

Kami pertama kali berjumpa di sebuah studio musik. Saya ingat memandang ke arah suaranya dan menegangkan kedua mata saya. Saya memaksakan mata saya untuk melihat parasnya.

Saya terkejut, rupanya tak berhasil. Namun itu bukan masalah. Saya tahu dia manis. Saya mengetahuinya lewat suara dan kepercayaan dirinya. Saya juga mengetahuinya lewat bau. Meski hubungan kami hanya bertahan delapan bulan sebelum akhirnya putus secara dramatis di rumah orang tuanya, saya belajar banyak. Dia mengajarkan bahwa cinta tak bersyarat pantas didapatkan semua orang, dan bahwa saya lengkap dan cukup, dan bahwa kita semua memiliki cela. Hanya saja, sebagian cela tak segamblang yang lainnya.

Sepuluh tahun kemudian, setelah berkencan dan putus dengan beberapa laki-laki, saya rasa, saya sudah lebih bijaksana.

Seorang perempuan berbaring di ranjang, kepalanya di atas bantal. Dia sedang bercakap-cakap di ponsel. Dia menggenggam ponselnya dengan tangan kanan. Tangan kanannya memainkan kalung yang ia kenakan. Kalung itu memiliki liontin berbentuk hati. Ada sinar abstrak dan kotak yang muncul dari ponsel itu. Latar belakangnya hitam dan gambar penuh warna.

Jadi, apa kesalahpahaman terbesar soal perkencanan orang-orang tanpa penglihatan? Bahwa orang-orang tunanetra tak mungkin secetek orang-orang dengan penglihatan. Sering sekali saya mendengar orang bilang pada saya, “Karena kamu tak bisa melihat teman kencanmu, kamu pasti menerima dia apa adanya.” Orang-orang tunanetra dianggap lebih mulia karena kami tak mungkin dangkal atau menghakimi.

Padahal, sama saja. Seperti orang kebanyakan, saya punya kriteria fisik untuk pasangan, dan saya rasa itu bukan hal buruk. Tipeku adalah laki-laki dengan rentang tinggi 170–180 cm, langsing namun kekar, tanpa atau dengan sedikit saja kumis dan janggut, dan punya gaya berpakaian yang genah. Kawan-kawanku menyebut tipe ini sebagai tipe “model Hollister.” Juga seperti orang kebanyakan, ada hal-hal yang membikin saya tak berselera: man bun, rambut gondrong, kepala botak, terlalu tinggi atau terlalu kekar.

Iklan

Sadar atau tidak, kita semua punya kriteria fisik untuk pasangan, dan saya mengalami ketertarikan fisik. Hanya saja, caranya berbeda dari orang-orang dengan penglihatan. Hal-hal yang membuat saya tertarik adalah hal-hal yang bisa kamu alami dengan indra lainnya—tak cuma penglihatan. Kulit atau warna rambut tak penting bagi saya karena saya tidak bisa melihatnya, tapi bau dan gaya berbicara penting.

(Tentu saja, saya hanya mengencani orang-orang yang memenuhi kriteria saya dalam hal kepribadian, gaya hidup, dan lainnya—saya membuat video di kalan YouTube beberapa waktu lalu untuk menjelaskan lebih lanjut soal ketertarikan saya.)

Sebelum kamu memulai membayangkan sebuah adegan dari Family Guy, yang menampilkan perempuan tunanetra meraba-rama wajah orang, saya kasih tahu ya: sebagian besar orang tunanetra tidak meraba-raba wajah. Saya mengenal banyak orang tunanetra, dan tak satupun melakukannya! Ini adalah salah satu stereotipe menjengkelkan yang langgeng. (Makasih, ya, Helen Keller.)

…Bercanda ding. Tapi stereotipe meraba-raba wajah memang dimulai oleh Helen Keller. Bagi orang-orang yang hidup dengan disabilitas ganda mungkin meraba wajah keluarga atau kawan untuk memahami emosi mereka dan berkomunikasi dengan lebih efektif. Bagi orang-orang tunanetra yang sangat berfungsi, ini bukanlah yang saya perlu atau ingin lakukan. Meraba bagian tertentu wajah seseorang tanpa konteks soal bagian wajah lainnya—apalagi konteks seseorang sebagai individu—tidak membantu saya membayangkan wajah seseorang. (Dan saya pernah diminta meraba wajah orang, termasuk oleh nenek pacar pertama saya. Dan meraba wajahnya terasa lebih aneh ketimbang menolak permintaannya). Intinya, kalau kita nanti bertemu atau berkencan, tolong jangan minta saya meraba wajahmu.

Iklan

Saya senang mengenal seseorang dengan menghabiskan waktu bersama. Contohnya, mantan pacar saya yang terakhir: Saya mengetahui bahwa dia tidak berkumis atau berjanggut saat kami berciuman, tapi saya tahu dia bugar sejak lama. Dia membicarakan soal kegemarannya berolahraga. Saat saya menggandeng lengan kirinya sebagai panduan, hipotesis saya terkonfirmasi: Dia kekar. Tentunya, saya selalu bisa meminta tolong kawan dan keluarga untuk mendeskripsikan penampilan seseorang pada saya.

Di sisi lain, pepatah “out of sight, out of mind” ada benarnya. Karena saya tidak bisa merasakan ketertarikan fisik instan terhadap seseorang lewat penampilannya, memandang wajahnya lewat Skype, atau memandangi akun Instagram-nya, saya membutuhkan seseorang yang bisa hadir. Kalau tidak, saya akan tak tertarik lagi. Bahkan setelah pacaran selama lebih dari dua tahun dengan mantan pacar saya, saya masih memerlukan kehadirannya. Saya harus bisa bercakap-cakap dengannya, menggenggam tangannya, merasakan energinya, sebelum saya punya keinginan untuk menciumnya. Hubungan jarak jauh tidak akan berhasil untuk saya, yang sangat disayangkan karena pekerjaan saya mengharuskan saya sering berpergian. Mungkin itu, ya, mengapa saya lajang?

Laki-laki yang saya kencani tak selalu paham mengapa saya tak suka ciuman pada kencan pertama, atau mengapa hubungan kami perlu berjalan pelan-pelan. Mereka tak selamanya gembira dengan fakta bahwa merekalah yang harus selalu menyetir mobil, atau bahwa kita selalu harus memesan Uber, karena saya tidak bisa menyetir. Mereka mungkin tidak nyaman saat harus berperan sebagai “cermin” dan mengatakan pada saya secara jujur saat penampilan saya buruk. Intinya, kondisi saya adalah saringan besar untuk orang-orang brengsek.

Meski demikian, dari segala hal yang saya pelajari dari pengalaman berkencan selama sepuluh tahun terakhir, yang paling penting adalah: harus berhati-hati. Sebagian besar orang tidak terpikir bahwa perempuan penyandang disabilitas tiga kali lebih mungkin mengalami serangan fisik atau seksual semasa hidup. Masyarakat cenderung mendeseksualisasi disabilitas, tapi faktanya kami lebih berisiko terlibat kekerasan seksual dan hubungan yang abusif.

Untuk itu, dan untuk alasan-alasan lain, saya mencoba menjalaninya pelan-pelan saja. Tapi itu, kan, saya—saya mengalami tantangan dalam perkencanan yang sama dengan orang kebanyakan, dengan beberapa tambahan. Saya percaya semua orang pantas mendapatkan kemerdekaan untuk melakukan apapun yang mereka inginkan dengan waktu dan tubuh mereka, apakah itu tidak berhubungan seks sampai menikah, berhubungan seks secara kasual, bercumbu pada kencan pertama, atau pada kencan kesepuluh. Lakukan yang membuatmu merasa nyaman, tapi pertama-tama, lakukan yang membuatmu merasa aman.

Saya sudah menerima bahwa perjalanan ini tak akan mudah. Ada orang-orang yang tepat di waktu yang tepat, dan orang-orang yang tepat di waktu yang tak tepat. Kita semua memiliki kekuatan dan kelemahan. Kita memberi dan mengambil. Itulah mengapa hubungan terbaik adalah hubungan rekanan. Kalau kamu bisa tahan dengan keadaan saya tidak bisa menyetir dan enggan mesum pada kencan pertama, saya akan menerima kakimu yang bau dan suara ngorokmu yang nyaring.