Fashion

Stüssy Lahir Kembali di Bali

Merek clothing line ikonik itu kembali ke Indonesia sambil mengusung pesta dan acara donasi pengungsi Gunung Agung yang jangan sampai kalian lewatkan.
24.10.17
Semua foto dari arsip Stüssy.

Stüssy adalah simbol budaya surfing. Stüssy adalah simbol busana jalanan. Tak hanya melekat pada dua identitas utama tersebut, Stüssy berhasil menjadi seragam utama para pegiat kancah hip hop New York serta rave di London. Hampir 40 tahun lamanya, Stüssy label clothing asal South California, secara global sukses mempertahankan eksistensinya, membentuk identitas anak muda dari Tijuana sampai Taiwan. Setiap kota memiliki karaketeristik pemakaian Stüssy yang berbeda, dipengaruhi subkultur yang tumbuh di masing-masing wilayah.

Iklan

Indonesia tak ketinggalan merengkuh Stüssy. Kedatangan label itu di Tanah Air tercatat pada awal dekade 90'an, tepatnya pada 1992. Stüssy terbantu dengan meledaknya bisnis mal dan pusat perbelanjaan retail modern di Indonesia yang sedang mengalami lonjakan ekonomi saat senjakala Orde Baru. Toko resmi Stüssy pertama buka di Legian, Bali. Berawal dari Bali, produk-produk label ini segera diminati anak muda Jakarta dan Bandung.

Popularitas Stüssy di Indonesia disadari oleh Jim Fisher, petinggi Stüssy Australia, saat liburan ke Bali pada 1994. Dia melihat kesuksesan brand-nya dapat dikembangkan lebih lanjut. Fisher lantas menghubungi pemilik brand clothing lokal Hot Tuna untuk mengembangkan cabang kedua. Sosok yang diajak bekerja sama oleh Fisher adalah ayah kandung Thai Little, pegiat clothing Pulau Dewata. Ayah Thai kini sudah berusia senja, sehingga tak bisa melayani wawancara. Untung sang anak bersedia menceritakan lika-liku perjalanan Stüssy mengembangkan bisnis di Indonesia.

Singkat cerita, setelah 1994 ayah Thai resmi memegang lisensi penjualan Stüssy untuk Indonesia. Proses kerjanya cukup sederhana. Stüssy Amerika Serikat dan Australia akan mengirim design, selanjutnya tim Hot Tuna mengurus produksi di Denpasar, cetak sablon di Poppies 1. Produk sampingan seperti tas dan celana digarap lewat mitra dari Bandung. Topi, jaket dan aksesoris lainnya sepenuhnya impor.

Bisnis Stüssy di Tanah Air sebenarnya berkembang pesat hingga memasuki Abad 21. Tahun ini, Stüssy resmi kembali ke Indonesia. Permintaan terhadap produk-produk Stüssy kembali meningkat. Momentum kelahiran kembali ini segera diambil oleh jajaran manajemen Stüssy.

Iklan

Bagaimanapun, Stüssy sebetulnya tidak pernah bisa pergi begitu saja. Masih banyak anak muda yang memiliki kenangan manis terhadap produk clothing label tersebut. Mereka menyambut gembira kabar Stüssy kembali lagi secara resmi ke Indonesia.

Claude Hutasoit, salah satunya. Skater sekaligus extreme sport commentator NET TV ini berbagi ceritanya tentang kaos Stüssy yang dibelinya dulu. "Gue lupa design kaosnya seperti apa, tapi gue dulu pernah punya celana baggy warna merah yang gue beli sekitar 1991-1993, bisa dibilang celana 'skate' awal 1990-an," ujarnya kepada VICE. Claude merasa celana itu sangat nyaman dipakai. "Kantong celana terkoyak, bagian kaki celana sobek-sobek, ciri-ciri celana dipake main skate setiap hari."

Claude pada masa 90'an tidak pernah mengenal Stüssy sebelumnya. Namun ada yang berbeda dari merek ini, yang terus membuatnya merasa nyaman memakai produk-produk mereka. Terutama bagi skater sepertinya. Kini, setelaha nyaris dua dekade memakai Stüssy, dia merasa brand tersebut memang punya ciri khas untuk membentuk identitas tertentu bagai si pemakai.

"Stüssy sebagai brand sendiri cukup mempromosikan lifestyle alternative dengan history-nya. Di antara semua trend streetwear sekarang, Stüssy sebagai brand senior masih "educate scene" dengan sejarahnya yang berisi surfing, skateboarding, dan sebagainya," kata Claude. "Menurut opini gue, Stüssy masih 'raw'."

Andri Hasibuan, pemilik label clothing lokal Paradise Youth Club, mengamini citra konsisten yang berhasil dibangun Stüssy. Sebagai clothing kawakan, Stüssy sukses terus mempertajam ciri khas, walaupun banyak pemain baru membanjiri pasar streetwear. "Stüssy emang kayak gitu, konsisten dari dulu sampe sekarang, dari segi desain sama 'messages'- nya mereka," ujarnya. "Kalau ditanya apakah gue masih mau pake Stüssy atau engga, yang notabenenya [streetwear] udah terlalu masif di kalangan millenial yang baru kenal brand-brand luar dan mungkin mereka pakai karena sekedar ikut-ikutan tanpa tahu sejarahnya, gue tetap mau pakai [Stüssy] sih."

Andri mengaku ingin mengembangkan labelnya mengikuti jejak yang sudah dicontohkan Stüssy. Terutama, dalam hal membangun brand yang mampu tetap setia pada konsep awalnya. Banyak sebenernya brand streetwae seumuran dengan Stüssy, tapi banyak yang ujung-ujungnya terpaksa mengikuti zaman, mengubah desain khas, serta mengubah strategi branding. Andri merasa karakter bisnis seperti itu tidak berkelanjutan bagi perusahaan clothing. "Stüssy salah satu referensi gue lah buat brand gue sendiri," ujarnya. "Dari segi idealisme, konsistensi, sama bisnisnya."

Thai Little dan Shawn Stussy pada dekade 90-an.

Ingin lebih mendalami sejarah Stüssy dan perkembangan streetwear di Indonesia? Jangan ragu untuk mampir ke Potato Head Beach Club di Bali pekan depan. Akan digelar International Stüssy Tribe Gathering pada 28-29 Oktober. Klub di Seminyak ini sudah menyiapkan mini ramp skate buat kalian yang mau skating di lokasi. Selain itu, kehadiran kembali Stüssy di Bali ditandai rilis kemeja rayon print memakai teknik celup ikat oleh pengrajin lokal berwarna indigo alami. Ini adalah penghargaan terhadap pengrajin dan seniman lokal. Hasil keuntungan penjualan kemeja itu nantinya disumbangkan buat pengungsi Gunung Agung.