Mengapa Obsesi Menjadi Lebih Putih Makin Lama Makin Bahaya
foto dari Getty Images
Rasisme dan Pascakolonialisme

Mengapa Obsesi Menjadi Lebih Putih Makin Lama Makin Bahaya

Jutaan orang rela mengorbankan kesehatan demi warna kulit yang lebih cerah.
XM
ilustrasi oleh Xavier Mas
Syarafina  Vidyadhana
Diterjemahkan oleh Syarafina Vidyadhana

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic

© Xavier Mas

Bagaimana Obsesi itu Dibentuk
"Semua ini dimulai saat anak-anak masih kecil. Pada saat seorang anak dilahirkan, para kerabat mulai membandingkan warna kulitnya dengan bayi-bayi lain. Ini semua bermula dari keluarga sendiri. Tapi orang-orang tidak mau membahasnya secara terbuka." Kavitha Emmanuel adalah penggagas Women of Worth, LSM India yang melawan bias mendarah daging terhadap kulit berwarna terang. Menurut Kavitha, kampanye The Dark is Beautiful, atau Gelap Itu Cantik, yang diluncurkan pada 2009 bukan berarti "anti-putih," melainkan soal inklusivitas. Dengan kata lain, kampanye ini tak sekadar soal warna kulit. Kampanye ini diramaikan oleh selebritas, salah satunya aktor Bollywood Nandita Das. Ada blog menyediakan forum berisi orang-orang yang berbagi soal kisah pribadi mereka seputar bias warna kulit. Kampanye ini juga mengadakan loka karya literasi media dan program advokasi di sekolah-sekolah, untuk memupuk rasa percaya diri dan kebanggaan anak-anak muda. Hal ini dilakukan untuk melawan stigma yang, menurut Kavitha, turut dilanggengkan oleh buku-buku pelajaran yang menampilkan perempuan berkulit terang sebagai "cantik" sementara perempuan berkulit gelap sebagai "buruk rupa."

Iklan

"Beberapa anak sampai syok. Hal ini sangat mempengaruhi kondisi mental mereka. Sampai ada yang menangis," ujar Kavitha. Inilah pesan, sikap, dan pola pikir yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya: Kehidupan sempurna dimulai dari kulit yang sempurna, dan kehidupan ini hanya bisa dicapai oleh mereka yang terlahir dengan warna kulit yang tepat. Pola pikir tersebutlah yang melahirkan industri miliaran dolar yang tak hanya mencakup krim kosmetik, tapi juga prosedur invasif seperti skin bleaching (pemutihan kulit), chemical peels (pengelupasan dengan zat kimia), laser treatments (perawatan laser), stereoid cocktails (koktil steroid), dan pil pemutih serta suntikan intravena. Masing-masing memiliki tingkat efektivitas dan risiko kesehatan berbeda. Hal ini bukan sekadar bias, melainkan telah menjadi obsesi budaya yang semakin berbahaya seiring waktu. Merek-merek multinasional telah menemukan pasar yang mrnggiurkan: pengeluaran global atas produk pencerah kulit diperkirakan mencapai tiga kali lipat dari $31.2 miliar pada 2024, menurut laporan yang dirilis pada Juni 2017 oleh firma riset Global Industry Analysts. Menurut sebagian orang, faktor pendorong industri ini adalah sitgma kulit berwarna gelap dan persepsi budaya yang kaku yang mengasosiasikan kulit berwarna terang dengan kecantikan dan kesuksesan pribadi. "Ini bukan bias. Ini rasisme," ujar Sunil Bhatia, profesor pengembangan manusia di Connecticut College. Sunil baru-baru ini menulis di US News & World Report soal "rasisme yang mendarah daging dan hirarki sosial berdasarkan warna kulit." Di India, hal tersebut berkaitan erat dengan sistem kasta, yang berasal dari klasifikasi Hindu kuno di mana kelahiran menentukan pekerjaan dan strata sosial. Kasta tertinggi ditempati Brahmana, yang terdiri dari tokoh agama dan cendekiawan. Sementara itu, mereka yang menempati kasta rendah terpaksa menjalani pekerjaan yang paling tidak diminati, seperti staf bersih-bersih kamar mandi. Sunil bilang, kasta tak sekadar menentukan pekerjaan. Yang jadi persoalan, semakin gelap warna kulit seseorang, semakin rendah pula derajat sosialnya. Pemujaan kulit berwarna terang diperkuat dan dilanggengkan oleh kolonialisme, bukan hanya di India melainkan di belasan negara lain yang pernah dijajah bangsa Eropa. Menurut Kavitha, sudah tertanam dalam-dalam bahwa sang penguasa adalah mereka yang berkulit terang. "Di seluruh dunia, orang-orang kaya bisa tinggal di dalam ruangan sementara orang-orang miskin harus bekerja di luar. Sehingga, kulit mereka lebih gelap." Gelombang terakhir yang mengabadikan konsep tersebut tak lain adalah globalisasi. "Konsep whiteness menyebar dari AS ke mal-mal di negara lain, melalui model-model berkulit putih," ujar Sunil. "Kamu bisa, kok, menelusuri benang merah antara kolonialisme, pasca-kolonialisme, dan globalisasi." Standar kecantikan Barat, termasuk kulit terang, menguasai dunia. Standar tersebut kemudian melahirkan produk-produk penunjangnya. Di Nigeria, sebanyak persen populasi perempuan menggunakan produk pencerah kulit. Sementara di Togo jumlahnya 59 persen, dan di Senegal 27 persen. Namun pasar yang terbesar dan paling pesat adalah wilayah Asia-Pasifik. Di India, supermarket pada umumnya menjual sederetan produk perawatan tubuh dan wajah, termasuk pelembap yang "memutihkan" atau losion "pencerah kulit" dari berbagai merek terkenal. Pooja Kannan, perempuan berusia 27 tahun dari Mumbai, telah bertahun-tahun membeli kosmetik yang menjanjikan kulit lebih terang. Cukup lama dia menaruh harapan pada krim, sabun mandi, dan sabun wajah untuk "mengobati kulit kusam." Dia memakai produk-produk tersebut dengan irit, supaya cukup untuk dua bulan. Masalahnya, produk-produk dijual seharga $3.05 hingga $4.57 (sekitar Rp41.000–Rp61.000); setara dengan biaya transportasi ke kampus selama seminggu. Pooja mengamati kulitnya menjadi lebih cerah sedikit, setelah menggunakan segala macam produk selama empat tahun. Tapi, dia pun masih ragu. Jangan-jangan kulitnya "membaik" berkat tabir surya yang dia oleskan setiap kali akan keluar rumah, bukannya karena krim pemutih. Warna kulit alami Pooja, yang kecokelatan, terlihat sehat di mata saya. Tapi, dia bercerita bahwa saat tumbuh dewasa tante-tantenya sering mencibir kulitnya yang gelap itu. Akibat kulitnya yang gelap, kawan-kawan dan kerabat keluarga sering melemparkan komentar yang membuatnya jengah. "Ih, kamu iteman ya?" begitu, kira-kira. Di India, warna kulit seringkali menentukan kesuksesan seseorang dalam masyarakat, juga membuat batasan-batasan saat mencari jodoh dan pekerjaan, sehingga hal-hal seperti itu dianggap penting. Pooja bilang, mudah saja menghiraukan celotehan anggota keluarga. Dia bisa saja menyanggah, "Zaman sekarang orang udah enggak peduli soal gituan." Tapi, saat komentar seperti itu datang dari kawan sebaya, mau tidak mau dia merasa rendah diri. "Awalnya saya biasa-biasa aja dibilangin gitu. Tapi setiap saya lagi siap-siap mau pergi, mereka selalu mengingatkan untuk pakai makeup lebih tebal," dia bilang. "Terutama pas saya masih kelas 1 atau 2 SMA, ada lah dua-tiga teman cewek yang selalu nyuruh saya dandan. Saya ngerti, sih, mereka niatnya membantu. Ya, tapi kok kayak ngenyek? Lagian rasanya mereka rada munafik. Wong mereka sendiri enggak cakep, apalagi sempurna." Dalam kehidupan bermasyarakat, Pooja kerap diingatkan soal pentingnya memiliki kulit terang. Menurut pengamatannya sehari-hari sebagai penari profesional, perempuan-perempuan yang lebih cantik, lebih langsing, dan warna kulitnya lebih terang selalu ditempatkan di bagian depan panggung. "Ya lama-lama, saya jadi jengkel," ujarnya. Pemujaan kulit terang dilanggengkan lewat film-film, program televisi, dan terutama iklan. Pada 2016, aktor Emma Watson merilis pernyataan bahwa dia tidak mau lagi menyokong produk-produk yang "tidak selalu merefleksikan ragam kecantikan seluruh perempuan." Pernyataan tersebut merespon kritik atas penampilannya di iklan Asia for Lancôme's Blanc Expert, produk pencerah kulit. (Dalam sebuah pernyataan, Lancôme menggarisbawahi bahwa produk tersebut berfungsi untuk "meratakan" alih-alih "mencerahkan" warna kulit. Klaim produk tersebut adalah: "Membantu mencerahkan, meratakan warna kulit, dan membuat kulit tampak sehat. Produk semacam ini, yang ditawarkan setiap merek, merupakan bagian penting dari rutinitas kecantikan wanita Asia.") Advertising Standards Council di India telah berupaya membahas diskriminasi berbasis warna kulit pada 2014 dengan cara melarang iklan yang menampilkan orang-orang berkulit gelap sebagai inferior, namun produk-produk ini masih dijual di pasaran. Iklan krim pencerah kulit masih muncul di koran-koran, di televisi, dan di papan reklame, menampilkan selebritas Bollywood seperti Shah Rukh Khan dan Deepika Padukone.

Iklan

Peran Industri Memuja Segala yang Cerah
Pada berbagai postingan Facebook bulan April 2017, aktor Abhay Deol menegur kolega-koleganya karena menyokong krim pencerah kulit. Kemudian, pada artikel opini di Hindustan Times, dia menulis bahwa "iklan menampilkan bahwa kita bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, pernikahan yang lebih bahagia, dan anak-anak yang lebih cantik, asalkan kulit kita berwarna terang. Kita dibuat percaya bahwa hidup akan jauh lebih mudah kalau kita terlahir dengan kulit seperti itu."

Pemuliaan warna kulit terang bukan cuma dosa industri kosmetik modern. Sistem medis tradisional di India, Ayurveda, mengajarkan bahwa perempuan-perempuan hamil bisa memperbaiki warna kulit janin mereka dengan minum susu kunyit dan makan jeruk, biji adas, dan kelapa. Pada awal 2017, seorang praktisi Ayurveda di Kolkata memimpin sesi penyuluhan bagi calon orang tua, menjanjikan kalaupun orang tuanya pendek dan berkulit gelap, anak-anak mereka bisa saja tinggi dan berkulit terang.

Pada sebuah penelitian tahun 2012 oleh badan amal kesehatan perempuan di India, menemukan bahwa pasangan tanpa anak seringkali kekeuh membayar ibu pengganti yang cantik dan berkulit terang, meski sang perempuan tidak berkontribusi secara genetik pada bayi mereka. Untuk menemukan contoh lebih ekstrem, kita cuma perlu membaca halaman iklan baris pada koran India. Iklan-iklan pencarian jodoh pada halaman itu mencantumkan kriteria kasta, agama, pekerjaan, pendidikan terakhir dan, tentunya, karakteristik fisik. Pengiklan tak ragu menambahkan, mereka tidak tertarik dengan pelamar "berkulit kusam" dan akan memprioritaskan pelamar "kulit terang." Pada April 2017, grup media Times of India mendesak para orangtua untuk menonjolkan pekerjaan dan kualifikasi pendidikan anak-anak perempuan mereka, alih-alih betapa terangnya kulit mereka.
"Calon mempelai perempuan menghabiskan banyak sekali uang, benar-benar tak terbatas, pada bulan-bulan terakhir menuju pernikahan mereka," ujar Ema Trinidad, ahli kecantikan di Filipina yang mengelola sebuah spa di Bengaluru. "Saya kaget bukan main bahwa di India, kesempatan mendapatkan jodoh benar-benar tergantung warna kulit seseorang. Di Filipina enggak kayak gitu."

Iklan

© Xavier Mas

Membahayakan Kesehatan
Pola pikir seperti itu dianggap normal; orang-orang telah menerima bahwa perawatan tertentu merupakan bagian penting dari persiapan pernikahan, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Ketika Kathrik Panchapakesan menikah pada 2001, dia penasaran dengan iklan "transformasi gila-gilaan" dan memutuskan mencobanya sebelum resepsi pernikahan bersama ipar laki-lakinya. "Saya enggak pernah ke salon sebelumnya," ujar Kathrik, spesialis media berusia 50 tahun yang bekerja di radio komunitas. Mereka berdua pergi ke sebuah salon di Hyderabad. Kathrik bilang, "Pijetannya mantep banget. Terus mereka mengolesi krim putih harum buah-buahan dan segala macam bunga, ke jidat, pipi, hidung, dan dagu saya. Mereka bilang krim itu bakal meratakan warna kulit saya." Setelah lima menit, Kathrik bercerita matanya mulai terasa pedih. Kemudian hidungnya iritasi karena wewangian itu berubah menjadi asap asam. Dia curiga krim itu mengandung ammonia. "Itu mah jelas-jelas kimia, bukan lobak atau lainnya," dia bilang. "Saya enggak tahu juga itu apa, karena krimnya berasal dari tabung seperti odol. Saya bilang aja, 'Duh, rasanya kok aneh.' Mereka menyuruh saya menunggu 20 menit supaya terasa khasiatnya." Perawatan akhirnya selesai, tapi wajah kedua laki-laki itu malah cemong. Persis seperti bocah petakilan yang dibedaki orang tuanya secara serampangan. Sesampainya di resepsi pernikahan, istrinya keheranan, "Kenapa muka kalian jadi kayak gini? Abis ngapain sih?" Kathrik bilang, "Janjinya mah transformasi. Yang ada malah deformasi." Untuk meredakan rasa terbakar dan melembapkan kulitnya yang mendadak kering, dia mengoleskan minyak kelapa selama tiga hari berturut-turut. Dia berjanji tidak akan pernah ke salon lagi.
Bleaching adalah perawatan umum yang tak hanya memutihkan warna kulit tapi juga rambut-rambut halus pada wajah. Sebagian besar perawatan pencerah kulit menyasar kemampuan kulit untuk memproduksi pigmen, atau melanin, yang memberi warna pada kulit, rambut, dan mata. Semua orang memiliki jumlah sel yang sama untuk memproduksi melanin, tapi jumlah yang kita produksi tergantung gen kita. Orang-orang berkulit lebih gelap memproduksi jumlah melanin lebih banyak. Ketika terpapar matahari, tubuh ini memproduksi lebih banyak melanin untuk menyerap sinar UV yang berbahaya dan melindungi sel kulit. Karena memiliki melamin alami, orang-orang dengan warna kulit lebih gelap memiliki kecenderungan menjadi keriput lebih rendah. Selain itu, mereka juga memiliki risiko lebih rendah terkena kanker kulit. Krim-krim pemutih kulit seringkali bertujuan untuk menginterupsi produksi melamin atau memperbaiki kesehatan kulit secara umum. Mereka bisa saja mengandung komponen alami seperti kedelai, licorice atau arbutin, terkadang dipadukan dengan zat pemutih hydroquinone. Hydroquinone adalah komponen karsinogenik dan produk-produk yang mengandung zat itu dilarang beredar di Ghana, Afrika Selatan, Côte d'Ivoire, Jepang, Australia, dan Uni Eropa, meski masih digunakan secara ilegal.
Vitamin B3 juga komponen umum dalam krim pencerah kulit, namun komponen yang baru-baru ini ditemukan dalam krim pemutih dan sabun adalah merkuri, menurut World Health Organization. Merkuri menekan pembuatan melanin, tapi zat ini bisa merusak ginjal dan otak jika terserap kulit dan
menumpuk dalam tubuh. Metode pencerah kulit lainnya mengandung zat pengelupas kimia, yang mengangkat lapisan teratas kulit. Akibatnya, kulit yang lebih segar terpapar radiasi matahari yang berbahaya dan polusi lingkungan. Perawatan laser menawarkan pendekatan yang jauh lebih agresif, dengan memecah pigmentasi kulit, dengan efek samping yang lebih berbahaya. Dr Mukta Sachdev, dermatolog klinis dan estetika di Bengaluru, teringat akan dua kasus laki-laki India yang memeriksakan diri setelah menjalani perawatan laser dalam kunjungan pekerjaan di Korea Selatan. Mereka berusia 20-an akhir dan siap menikah. Laki-laki yang satu mengalami kemerahan di wajah, sementara yang lain mengalami depigmentasi. Dr Mukta curiga praktisi di Korea Selatan belum terbiasa dengan pasien dengan warna kulit lebih gelap. "Kamu perlu menggunakan pengaturan yang lebih lunak saat melakukan laser. Sulit sekali kalau sudah kehilangan pigmentasi," imbuhnya. Dia bisa mengobati kemerahan di wajah laki-laki pertama, namun wajah laki-laki kedua tak bisa dipulihkan. Banyak calon pasien mengunjungi Dr Mukta untuk mencerahkan kulit mereka. Namun, sebelum melakukan tindakan, Dr Mukta selalu menyarankan mereka supaya tak terlalu ambil pusing soal warna kulit. Yang penting, kulitnya sehat dan warnanya merata. "Saya mencoba tidak menuruti obsesi terhadap kulit terang," imbuhnya. "Tapi, memiliki kulit gelap bisa menyebabkan seseorang kehilangan kepercayaan diri dan memiliki indeks kualitas hidup yang rendah." "Jelas, banyak tekanan pada perempuan dan laki-laki India," ujar Dr Sujata Chandrappa, dermatolog di Bengaluru. "Mereka punya gambaran ideal dalam pikiran, dan mereka mau mencapai ideal itu apapun caranya. Itu adalah konsep yang keliru." Dr Sujata bilang klien-kliennya menginginkan warna kulit milik selebritas Bollywood pujaan mereka. "Jika obsesinya hanya soal warna, saya akan langsung bilang saya lebih khawatir bahwa mereka mencari-cari sesuatu yang mereka tidak butuhkan," ujarnya pada saya. "Kalau saya terlalu menuruti mereka, kok rasanya seperti mendukung rasisme." Shahnah Mendiola menghabiskan sekitar $50 setiap bulan untuk membeli suplemen pencerah kulit. Untuk ukuran India, jumlah itu besar. Tapi, Shannah bekerja di perusahaan multinasional dengan upah bagus. Shahnah, yang berasal dari Filipina dan kini bekerja di Bengaluru, mengaku telah menegak pil-pil itu selama lima tahun belakangan. Katanya, pil ini tak sekadar mencerahkan kulit, tetapi juga berfungsi sebagai antioksidan. "Saya kan senang ke pantai, dan biasanya jadi iteman banget setelah liburan," tulisnya pada surel. "Saya emang memilik produk perawatan wajah yang mengandung komponen pemutih. Saya pakai losion tubuh, sabun muka, dan pelembab. Di Filipina, kulit cerah selalu nilai plus." Shahnah menggambarkan dirinya sebagai morena, tak terlalu terang atau gelap, dan bilang kulitnya kembali ke warna alami lebih cepat kalau dia meminum suplemen pencerah kulit. "Kalau kulit saya sehat, bersinar, dan warnanya merata, saya kan jadi lebih pede pas ketemu orang-orang di pekerjaan saya. Jadi, ya, kenapa enggak? Bukannya kita semua ingin terlihat cakep?" Pil-pil yang Shahnah konsumsi adalah glutathione, antioksidan yang secara alami diproduksi hati yang bisa melindungi kulit dari sinar UV dan radikal bebas, yang merusak kulit dan pigmentasi.
Bentuk perawatan yang lebih langsung adalah suntikan glutathione. Suntikan ini umumnya digunakan untuk menetralisir efek samping kemoterapi, seperti rasa mual, rambut rontok, atau kesulitan bernafas. Namun, suntikan ini semakin sering digunakan untuk mencerahkan kulit. Hal ini menimbulkan kekhawatiran yang berlandasan. Pada 2011, Departemen Pengawasan Obat dan Makanan Filipina mengeluarkan peringatan soal "peningkatan penggunaan glutathione yang tidak disetujui." Mereka menyertakan dampak merugikan termasuk ruam, gondok, dan gagal ginjal, dan bahkan sindrom Stevens-Johnson, di mana kulit terkelupas dari tubuh seakan-akan terbakar. Pada 2015, Departemen Pengawasan Obat dan Makanan AS memperingatkan potensi risiko yang signifikan terhadap konsumen: "Intinya, Anda menyuntikkan substansi tak dikenal ke dalam tubuh. Anda tidak tahu kandungannya atau cara pembuatannya." Bagaimanapun, ada permintaan pasar yang terus tumbuh. Shahnah pernah dua kali melakukan suntik glutathione, tapi lebih mengandalkan pil. Dr Mukta Sachdev menolak memberikan suntikan tersebut, meski banyak pasien yang meminta. "Saya melakukan praktik dermatologi berdasarkan bukti, dan tidak cukup banyak penelitian yang mendukung penggunaan suntikan glutathione." Yang mengkhawatirkan, ada video-video YouTube yang memandu cara menyuntikkan glutathione pada diri sendiri. Sementara itu, dr. Sujata Chandrappa memberikan suntikan tersebut. Dia bilang belum melihat efek samping apapun, tapi tetap was-was, dan selalu memulai suntikan dengan dosis serendah mungkin. Saya bertanya apa suntikannya manjur. Dia bilang, ada seorang perempuan yang takut jarum suntik, tapi memaksakan diri supaya kulitnya lebih terang. Tiga bulan setelah tindakan, kulit sekujur tubuhnya menjadi lebih terang dua kali lipat, dan noda kehitaman pada wajahnya berkurang. Tapi, itu hanya bertahan satu tahun. Dr Sujata bilang, perempuan itu mempertimbangkan untuk mengulang prosedurnya. "Dari sudut pandang medis, tidak mungkin untuk mencerahkan kulit secara permanen. Tapi kamu bisa meratakan warnanya," ujar dr Mukta. Faktanya, banyak pasien Mukta dan dr Sujata mencari perawatan untuk masalah-masalah selain warna kulit, umumnya penggunaan krim steroid. Regulator farmasi India telah menyetujui sekurang-kurangnya 18 kortikosteroid berbeda untuk penggunaan pada kulit, dari yang biasa-biasanya saja hingga yang sangat ampuh. Biasanya, krim-krim seperti ini dijual seharga kurang dari $2 setiap tabung, dan sebagian besar apotek di seluruh India akan menjualnya, bahkan tanpa resep dokter. Orang-orang menggunakan krim ini untuk segala hal, dari mengobati jerawat hingga mencerahkan kulit. Tapi krim steroid menghapus lapisan protektif kulit paling luar, jadi kulit semakin terpapar pada sinar UV dan polusi lingkungan seperti asap kendaraan dan rokok. Dr Shayamanta Barua, dermatolog dan sekretaris jenderal Indian Association of Dermatologists, Venereologists and Leprologists menyampaikan hal yang lebih mengkhawatirkan: krim ini menyebabkan candu. "Saat pasien berhenti menggunakan krim tersebut, kulit akan bereaksi, mengalami iritasi, dan timbul ruam-ruam," ujarnya. "Jadi, pasien akan mengaplikasikan lagi krim tersebut. Begitu terus seperti lingkaran setan. Mereka jadi kecanduan secara psikologis." Dia percaya pasien perlu menjalani konseling sebagaimana pecandu jenis lainnya. Menurut beberapa orang, sikap seperti ini perlahan berubah, terutama di kalangan perempuan, yang semakin percaya diri berkat pendidikan, pekerjaan, dan kemandirian finansial di luar rumah. Kavitha bercerita soal salah satu sesi Dark is Beautiful di SMA khusus perempuan di Chennai, bagian selatan India, Januari lalu.

© Xavier Mas

Remaja berkulit gelap yang amat cantik namun memiliki masalah kepercayaan diri maju ke depan. Dia sedang menangis karena pagi itu saudara laki-lakinya mengejek kulitnya yang gelap. Namun Kavitha semakin terkejut ketika pelajar perempuan lain, yang berkulit lebih terang, berdiri. Dia bilang, tadinya dia berpikir kulit gelap sangat jelek, sampai momen itu. Dia meminta maaf pada kawan-kawan sekelasnya dan berjanji akan memperlakukan mereka dengan lebih baik. "Mereka semua kemudian bertepuk tangan," ujar Kavitha. "Itu adalah sikap yang mulia bagi seorang remaja. Dia pasti punya hati yang begitu besar sampai bisa berkata hal seperti itu." Namun para aktivis khawatir pasar untuk perawatan pencerah kulit akan terus ada. Ahli kecantikan Ema Trinidad ingat satu orang yang datang ke spanya. Tunangannya memiliki warna kulit yang lebih terang dan calon mertuanya ingin kulitnya lebih cerah sebelum hari pernikahan mereka. "Saya merasa sangat kasihan. Dia tidak memiliki warna kulit yang sangat gelap, hanya saja kulitnya kering. Jadi saya kasih perawatan untuk melembabkan," ujar Ema. Dia menyarankan klien-kliennya untuk menggunakan produk yang aman dan efektif. Tapi, dia juga bilang, "Saya tidak bisa menghakimi bahwa menginginkan kulit lebih terang adalah hal yang buruk. Pekerjaan saya… adalah untuk memberikan yang kamu inginkan."

Ilustrasi dalam artikel ini pertama kali di Mosaic. Ditampilkan ulang di sini dengan mengikuti ketentuan lisensi creative commons