Ada Apa Dengan Bercinta

Tiga Reporter VICE Selama Sebulan Menjajal Minder: Aplikasi Mirip Tinder Buat Muslim

Di aplikasi tersebut, ada akun memasang profil macam ini: "Mencari seorang Siti Khadijah di Zaman Kardashian."
24.7.18
Tiga sosok ini yang berani uji nyali menjajal aplikasi tersebut.

"Ada Apa Dengan ber-Cinta" adalah seri liputan khusus VICE membahas serba-serbi seks yang selama ini dianggap tabu, termasuk di Indonesia, padahal penting sekaligus bikin penasaran. Klik tautan ini untuk mengikuti artikel dan video lainnya dalam topik yang sama.


Ada aplikasi kencan yang namanya Tinder. Ada pula versi muslimnya—atau tepatnya halalnya. Namanya Minder—dan menurut situs resminya, Minder merupakan aplikasi untuk membantu "kaum muslim keren bertemu."

Iklan

Tiga rekan kami dari VICE India sama sekali enggak merasa diri mereka keren. Parahnya lagi, enggak ada satupun yang beragama Islam. Namun, semua hambatan tersebut ternyata tak membuat tiga rekan kami gentar mencoba Minder sebulan penuh.

Berikut adalah cuplikan pengalaman masing-masing staf redaksi VICE India saat mencoba Minder selama sebulan.

Maroosha Muzaffar:
Walau sering gonta-ganti aplikasi buat kencan, saya enggak pernah punya pacar beragama Islam. Makanya, di kantor sering dibully dengan sebuah satu joke abadi: saya belum pernah lihat titit yang disunat. Terlepas dari itu, ibu enggak bosen-bosennya menasehati bahwa menikahi cowok non muslim itu perbuatan laknat, yang bisa membawa azab bagi keluarga. Dilematis banget kan. Alhasil, perjuangan saya mencari cowok muslim terus berlanjut.

Alhasil, saat salah satu rekan kerja saya, Parthshri, menemukan dating app bernama Minder—semacam versi halalnya Tinder, saya langsung mencobanya tanpa babibu. Akhirnya, pikir saya, saya bisa membawa cowok muslim ke rumah untuk menemui Ibu. Ini yang selama ini saya idam-idamkan.

Saya bikin akun di Minder dengan bio dan foto yang paling standar. Selang sekian jam kemudian, saya dapat ucapan selamat dari Minder. Asyik! Ini baru aplikasi kencan hal dan saya bisa mencari lelaki mukmin impian saya.

Setelah berkeliaran di Minder sebulan lamanya, kira-kira begini kesimpulan saya tentang aplikasi kencan muslim ini:

Iklan

1. Rayuan yang digunakan pengguna Minder Islami banget. Sopan, enggak lebay, dan lumayan halus. “Kamu akan jadi muadzin (orang yang mengumandangkan adzan) dan aku akan jadi imammu (orang yang memimpin solat),” tulis salah satu pengguna dalam bionya.

Image: Maroosha Muzaffar

2. Minder menanyakan pada penggunanya muslim macam apa mereka. Lantaran enggak mau rugi—saya menjawab dengan diplomatis. Jadi begini, aplikasi ini pengin tahu banget apakah penggunanya muslim syiah atau sunni. Saya cuma menjawab “muslim doang.” Nyebelin deh, masak sampai ditanya seperti itu, memangnya muslim syiah sama sunni beda ya kalau lagi horny atau jatuh cinta?!

3. Saya dapat banyak match. Kalau kamu cewek dan doyan main Tinder, kamu pasti hafal banget cara cowok membuka percakapan. Biasanya sih kayak gini: : “Hey.” “Hi.” “Hi.” “Hey.” “Hey.” “Wussup,” atau sekadar “Hi.”

Kalau kamu berpikir cara mereka bakal berbeda di Minder, maaf kamu salah besar. Nih bukti sahihnya:

Image: Maroosha Muzaffar

4. Bio user Tinder kental banget nuansa Islaminya—ya iyalah namanya juga aplikasi kencan Muslim. Kutipan ayat-ayat Qur’an dan hadist bertebaran di mana-mana. Tapi, yang paling lucu, ada yang dengan jujur menulis: “Mencari Siti Khadija di zaman Kardhasian.”

5. Ini yang kurang mengenakkan, cakupan demografinya sempit. Saya malah sering dapat match dari Mumbai dan Bengaluru dibandingkan dari Delhi. Saking sempitnya jangkauannya, saya malah match dengan rekan kantor yang duduk di sebelah saya. Oh ya, opening line teman saya itu legendaris habis: "Matamu mirip aliran sungai surga."

Iklan

6. Percakapan di Minder berakhir lebih cepat dari yang saya duga. Saya enggak menyalahkan cowok-cowok yang match dengan saya. Saya lagi dikejar-kejar deadline. Malangnya, saya juga tak sempat ngajak ngobrol cowok idaman saya. Mungkin, sekarang sudah match dengan perempuan mukmin impiannya.

Bonus:

7. Saya enggak dikirimi foto titit dari pengguna resek yang biasanya ada di Tinder.

Zeyad Masroor Khan:
"Saya seorang pria mukmin yang mencari seorang muslimah," begitu kutipan profil saya ketika membuat akun Minder. Setelah mengeset meteran keagamaan ke tingkat “somewhat practicing” (yaa agak mempraktekanlah), saya sudah siap mengencani perempuan muslim. Saya men-swipe ke kanan semua perempuan yang berasal dari Hyderabad, Mumbai, dan Delhi. Di bagian "short greeting," saya menulis, "mencari cinta yang halal serta taat."

Pengguna Minder berbeda dari pengguna aplikasi kencan lainnya. Bio standar kebanyakan cewek di Minder biasanya cuma “ Assalamu alaikum.” Tqpi, ada beberapa pengecualian. Seorang dokter 25 tahun “mencari seorang dokter untuk dinikahi.” Seorang gadis dari Mumbai mengaku “bisa mencari uang sama jagonya seperti laki-laki.” Nah, setelah mengesampingkan preferensi ideologis dan sebagainya, saya menerapkan strategi yang dijalankan pria di aplikasi online pada umumnya: tiap profil cewek langsung diswipe kanan tanpa pandang bulu.

Image: Zeyad Masroor Khan

Match pertama terjadi dalam hitungan jam. Kita sebut saja namanya Zehra. Zehra adalah seorang staf bagian hukum yang “mencari seseorang yang terdidik dan terhormat yang bisa menyeimbangkan dunia dan agama.” Akhirnya, datang juga kesempatan untuk melancarkan pick-up line favorit saya. “Kamu kok mirip seorang malaikat dari Alpha Centauri.”

Iklan

Saya lumayan deg-degan menunggu balasan Zehra. “Terimakasih,” jawabnya. Mantap! Siasat saya berhasil. Kami ngobrol. Zehra bilang Minder itu cuma buang-buang waktu. Tapi, apa salahnya mencoba katanya. Ya Tuhan, saya jatuh cinta selama satu hari lamanya.


Tonton dokumenter VICE mengenai problem jomblo akut di Cina yang merugikan para perempuan akibat beban stigma masyarakat:


Match kedua saya adalah gadis berusia 24 tahun dari Jaipur. Kali ini, saya lancarkan pick-up line kedua saya. “Matamu seperti aliran sungai di Surga.” Saya cuma dapat balasan “LOL.” Sekian detik kemudian, saya diblok. Match ketiga adalah gadis dari almamater saya sendiri Jamia Millia Islamia. Nahas, karena khawatir dapat penilaian yang enggak-enggak dari teman-teman, gadis ini langsung saya unfriend. Yang terakhir—ini yang paling kocak sih—adalah Maroosha, teman saya sendiri. Kami masih ngakak kalau ingat hal ini sampai sekarang.

Image: Zeyad Masroor Khan

Kesimpulannya, saya gagal total di Minder. Keyakinan Zehra bahwa “Allah adalah perencana terbaik” bikin kencan dengannya berakhir jadi khayalan belaka. Semoga dia bertemu dokter gigi yang soleh dan menikahinya.

Amin.

Parthshri Arora:
Saya benar-benar cupu dalam hal pemakaian aplikasi kencan online. Nginstall di hape sendiri aja enggak pernah kepikiran. Tapi, saya justru sedikitpun enggak pusing saat membuat akun Minder—paling agak nervous dikit sih. Saya tidak merasa ada beban emosional saat memilih foto profil, menggantinya, membereskan grammar di bio, mengganti foto lain dan seterusnya. Tapi, asal tahu saja, saya install Minder dengan harapan yang besar saya bisa kawin dalam waktu dekat.

Iklan

Bio saya tertulis seperti ini "sangat fleksibel dalam urusan fisik dan agama." Saya merasa kalimat ini kocak. Foto saya juga bagus. Enggak ada masalah lah. Saking pedenya, saya mengeset meteran “Seberapa religius anda?” ke “Tidak religius.” Saya langsung merasa siap sedia bertemu kekasih hati saya. Pokoknya, saya ingin makan nasi biryani pas Idul Fitri, diundang buka puasa bersama dan tetap patuh dengan ayah saya, seorang pemeluk hindu konservatif. Saya ingin nge-swipe cewek yang fotonya saya suka, dapat match dan langsung ke penghulu. Segampang itu.

Image: Parthshri Arora

Sebulan kemudian, papan notifikasi Minder saya sepi kayak kuburan. Pedih lah pokoknya. Enggak ada satupun cewek yang mau match dengan saya. #menangys.

Dua rekan saya, Zeyad dan Maroosha, yakin banget kalau Minder adalah aplikasi kencang ultrakonservatif. Mereka juga bilang harusnya saya menulis ini di bio, “Introvert tapi siapa tahu berubah.” Alhasil dengan kepercayaan tinggi, saya mencoba peruntungan lagi di Minder, kali ini dengan versi bio terbaik yang saya punya. Sayang, saya masih saja kurang laku.

Apa karena saya jelek enggak ketulungan? Atau mungkin harusnya saya tulis “fisik” dulu baru “agama” di bio? Jangan-jangan nama saya kepanjangan sampai susah diswipe? Orang lain yang ngerasa gini enggak sih pas pertama pakai aplikasi kencan online? Atau rasa percaya diri saya belum pulih sejak putus dengan cewek terakhir kali? Akankan saya ketemu cinta yang saya cari? Saya benar-benar enggak tahu.

Iklan

Jawaban yang paling gampang, kalau kata rekan-rekan saya sih, adalah karena saya enggak cocok dengan Minder. Belum lagi, penggunanya masih sedikit di India. Jadi, ya begini hasilnya: tragis.

Image: Parthshri Arora

Tapi, saya enggak mau menyerah dengan Minder. Kadang, saya malah ngeswipe seorang perempuan yang sama sampai dua kali. Saya curhat tentang hal ini ke Ibu, yang sudah mulai kasak-kusuk mencari rishtas (lamaran). Makasih Ya Bu.

Sementara itu, semua rekan kerja saya mah pasti ngakak tiap kali saya mengungkit-ungkit Minder.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE India.