Menembus Batas

Ni Made Ratni Kuasai Arena Rugby Kursi Roda, Harumkan Nama Indonesia

Tawaran iseng ikut seleksi rugby oleh teman semasa sekolah berhasil mendorong Ratni berprestasi, mengatasi stigma, dan menjadi atlet yang percaya diri.
27.6.18

Ni Made Ratni, 24 tahun, pertama kali mengenal rugby kursi roda tahun 2014. Dia sedang berada di sekolah saat seorang kawan meneleponnya. “Temanku tanya, ‘Mau ikut klasifikasi gak?’ Aku enggak ngerti itu apa. Hari itu aku tolak ajakannya karena berhalangan. Dia bilang besok ada lagi,” ujar Ratni.

Keesokan harinya dia datang ke arena latihan Bali Sports Foundation, yang berlokasi di Kesiman. BSF merupakan yayasan nirlaba fokus mendampingi serta melatih atlet difabel.

Iklan

Saat pertama kali datang Ratni merasa tidak percaya diri. Dia diminta melempar bola dari atas kursi roda beberapa kali. “Aku mikirnya tanganku lemah,” ujarnya. Setelah seleksi, Ratni ingin buru-buru pulang. Tapi kemudian dicegat.

“Ternyata, aku diterima di tim rugby kursi roda!” katanya riang mengingat momen tersebut.

Ratni terlahir dengan keadaan sungsang. Pada usia 13 tahun, ia menyadari lututnya menekuk ke depan alih-alih ke belakang seperti orang-orang pada umumnya. Pada 2010, Ratni diberi dua pilihan oleh para dokter di Singapur: amputasi dan kehilangan kedua kaki, atau operasi dan kedua kakinya lurus kaku. Sebulan kemudian, setelah mencari informasi di YouTube, Ratni memutuskan untuk amputasi. Kedua orang tuanya tak setuju, tapi tekadnya sudah bulat.

“Aku pengin banget kayak orang pada umumnya kan, pengin bisa sekolah. Itulah kenapa aku memilih amputasi,” ujar Ratni. Setelah itu, Ratni menamatkan SD dengan mengikuti 3 paket dan memulai sekolah dari tingkat SMP.

Suasana latihan rugby di BSF.

Setelah lolos seleksi, selama tiga minggu Ratni terus berlatih. Pada mulanya dia tidak menggunakan kursi roda rugby. “Awalnya pakai kursi roda basket, dan kita gak boleh tabrakan. Eh, pas lomba di Korea langsung tabrakan jadi kaget!” ujarnya. “Semua yang ikut sebelumnya gak akrab dengan rugby kursi roda. Jadi kita banyak meraba-raba, sampai akhirnya ikut ASEAN Para Games 2014 di Myanmar.”

Apa faktor terpenting dalam permainan rugby kursi roda? Menurut Ratni, pertama-tama adalah kekompakan. “Karena kita enggak sendirian,” ujarnya. “Saat ada satu orang bilang A, kita harus mencoba mengerti juga. Kita enggak boleh egois.”

Iklan

Setiap sebelum tanding, Ratni pasti gugup. Dia pernah bertanya pada atlet medali emas kelas dunia cara mengatasi grogi. “Eh, dia malah bilang ‘grogi enggak bisa kamu atasi. Aku juga grogi setiap mau tanding.’ Ya berarti bukan aku doang yang seperti itu.”

Sembari berlatih, Ratni sempat bekerja di sebuah restoran di Ubud. Sampai akhirnya atasannya memberi pilihan: fokus kerja atau fokus berlatih. Kita sudah tahu pilihannya. Setelah itu, dia mendapat tawaran bekerja di BSF.

Di BSF, Ratni berkawan salah satunya dengan Ni Kadek Karyadewi, 38 tahun. Awal tahun ini, Dewi mengikuti Asian Paralympics di bidang hand-cycling atau sepeda kayuh tangan dan memenangkan medali emas. Selama masa persiapan, Dewi mengayuh sepanjang bypass Sitobagus Mantre–Klungkung. Bolak-balik jarak totalnya adalah 56 kilometer.

“Saya sempat ingin menyerah karena capek. Tapi saya tetap mengayuh, akhirnya tetap semangat karena ingin mencapai garis finish,” ujar Dewi.

Ratni dan Dewi bercengkrama sebelum latihan rugby kursi roda.

Saat berusia 7 tahun, Dewi mengalami demam hebat. Saat duduk di dapur, Dewi kesulitan bangun. “Saya mikir, ‘Kok gak bisa bangun?’ Setiap mau berdiri tuh lemes. Biasanya bisa jalan, tapi setelah demam kaki semua lemas dan gak bisa digerakin sama sekali,” ujar Dewi. Saat dibawa ke mantri, ternyata Dewi terkena polio.

Sejak bergabung di BSF, Dewi menemukan semangat hidup baru. “Dulunya enggak nyangka bisa olah raga, karena saya juga gampang sakit flu. Sekarang jadi semangat.”

Rodney Holt, penggagas dan pembina BSF, menyampaikan masyarakat masih cenderung mengasihani atlet penyandang disabilitas. “Kadang masih ada yang mikir seseorang dengan disabilitas fisik otomatis memiliki disabilitas intelektual, padahal tidak begitu,” kata Rodney. “Mereka bisa hidup mandiri kok. Mereka pertama-tama adalah atlet, disabilitas mereka adalah nomor dua.”

Awalnya, orang tua Ratni ragu melepas dia bekerja di BSF. “Mereka kira aku gak bisa mobilitas sendiri. Tapi akhirnya mereka lihat aku bisa membuktikan diri—sekarang aku bisa naik motor sendiri,” ujar Ratni. Kini, orang tuanya tak khawatir lagi dan justru mendukung.

Iklan

“Saya sangat beruntung akhirnya didukung orang tua. Kadang ada orang tua yang tidak mendukung, dan anaknya justru disuruh diam di rumah karena malu,” ujar Ratni. “Itu sangat disayangkan.”

Menggeluti rugby kursi roda, Ratni yang kini kapten merasa lebih percaya diri. “Ya, saya bangga. Enggak semua orang bisa olahraga. Saya bisa ke luar negeri mewakili Indonesia. Saya sama sekali enggak menyangka. Dulu hanya bisa mengkhayal,” ujarnya.

Lantas, apa harapan Ratni di masa mendatang? “Saya pengin kedepannya rugby bisa ikut mewakili Indonesia di, misalnya, ASEAN Paralympics 2018. Kita pernah ikut di Korea, tapi belum diakui pemerintah.”

“Semoga pemerintah mendukung. Supaya bukan hanya atlet yang sudah berprestasi saja yang boleh berpartisipasi. Kami perlu dibimbing dan dilatih supaya bisa berprestasi.”


Seri artikel dan dokumenter #MenembusBatas adalah kolaborasi VICE X Rexona untuk meningkatkan kesadaran publik terhadap hak-hak difabel di negara ini