Natal 2017

Saya Merayakan Tahun Baru Bersama Komunis Sayap Kanan di Kereta Api Trans-Siberia Berkali-kali

Ya, mau ngapain lagi coba, saat berada di kereta api Trans-Siberia pada malam Tahun Baru dan penumpang lainnya adalah aktivis muda dari gerakan politik yang ganjil?
30.12.17
semua foto oleh penulis

Malam tahun baruan saya unik. Baru-baru ini saya lulus dari sebuah universitas di Kanada, setelah melakukan penelitian soal politik Rusia kontemporer. Setelah menghabiskan beberapa tahun terakhir mengeksplor Rusia secara teoritis, saya telah memutuskan untuk menggunakan waktu luang saya untuk mengunjungi wilayah paling timur Rusia, yaitu Vladivostok, yang berbeda tujuh zona waktu dari Moscow. Seru banget saat saya akhirnya bisa mengalami langsung negara terbesar dan terganjil di dunia dengan kereta api. Kelas tiga, gaya Soviet. Mantap. Bonus: saya menghabiskan malam tahun baru di kereta, di antara Lake Baikal dan Ural. Ada yang sangat mengesankan dari berada di antah berantah pada waktu yang tepat. Yang tidak terbayangkan adalah, bahwa saya akan merayakan tahun baru dengan aktivis fanatik yang bisa membuat kondisi politik yang saya tulis di tesis menjadi kenyataan dengan segala absurditasnya. Pada malam tahun baru, saya sudah berada di kereta selama hampir seminggu, dan baunya pun begitu. Tidak mengejutkan bahwa fasilitas kelas tiga tidak termasuk kamar mandi, ataupun privasi. Alih-alih memiliki kompartemen, setiap gerbong dibagi menjadi selusin atau lebih segmen terbuka. Pada siang hari kereta tersebut hampir kosong, dan saya sempat watir akan menghabiskan pergantian tahun sendirian. Saya memulai malam dengan pre-party di gerbong restorasi, yang terbengkalai, dan diisi para staf. Dengan gaya khas Rusia, para penumpang menawarkan saya bergabung dengan mereka makan kudapan dan minum shot vodka. Lalu dimulailah pendekatan Groundhog Day pada perayaan tersebut, dipenuhi alkohol berlimpah. Merayakan pergantian tahun di kereta api Trans-Siberia cukup rumit, karena waktu jadi ambigu. Meski semua kereta api Rusia mengikuti waktu Moskow, desa-desa yang kami lalui mengikuti waktu mereka sendiri. Sementara itu, para penumpang dan staf akan mengikuti zona waktu rumah mereka. Jadi, saat saya kembali ke gerbong saya, setelah minum-minum dan menghitung mundur waktu bersama staf restoran (Waktu Pasifik), malam saya baru saja dimulai.

Di dalam salah satu gerbong. Foto milik penulis

Sekembalinya ke kasur tingkat, saya memutuskan untuk menenggak minuman yang diracik kawan-kawan di Vladivostok dan ngajak ngobrol penumpang yang ada di gerbong: sekelompok anak muda, sekitar 10 orang, yang sedang gonjrang-gonjreng gitar. Ternyata, mereka bukan sembarang orang, melainkan bagian dari sebuah gerakan politik, dan malam itu mereka naik kereta untuk menghadiri pertemuan musim dingin tahunan. “Kami komunis,” mereka bilang ke saya. Wah! Akademisi Kiri dalam diri saya terpanggil dan siap mendengarkan. Saya perlahan-lahan bertanya apakah mereka sayap muda dari Partai Komunis Federasi Rusia. “DIHHH AMIT-AMIIIT! KAMI BENCI ORANG-ORANG ITU, MEREKA PENGKHIANAT!!!!” adalah respon mereka. Wahaha, jadi enggak enak. “Gerakan kita disebut Sut’ Vremeni (The Essence of Time). Kami komunis yang menjunjung nilai-nilai tradisional Rusia.” Sut' Vremeni adalah gerakan pro-rezim yang ultranasionalis, tapi tetap komunis, yang manifestonya mudah disalahpahami orang dan dapat dirangkum menjadi: “Rusia mengabaikan komunisme pada waktu yang tidak tepat… Kami meraba-raba mencoba menemukan jalan keluar.” Ketuanya, Sergey Kurginyan, seorang geolog dan sutradara teater (tentunya) yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pencetus teori dan guru politik, memiliki hubungan yang hangat dengan “orang-orang dalem” Putin bahkan sebelum dia menjabat presiden. Menurut Kurginyan, yang analisisnya dideskripsikan sebagai “ Red Fascism,” proyek politik agung masa kini yang berupaya mengalahkan posmodernitas Barat dekaden dengan cara menciptakan sintesis spiritual dari nilai-nilai komunis dan nilai-nilai Kristiani ortodoks. Kenapa, kamu bingung? Tenang, mereka juga kok. Udahlah, saya pikir, enggak ada gunanya terjebak dalam inkoherensi politik, toh orang-orang ini baik hati. Dan bukannya kami enggak bisa akrab. Kawan-kawan baru saya itu dengan gembira menceritakan kota asal masing-masing dan untuk saling bersulang tiap kali tahun berganti menurut zona waktu kampung halaman masing-masing. Saya sih senang-senang aja nyanyi bareng saat balad Vladimir Vyotsky dan lagu-lagu partisan Soviet dikumandangkan. Sesuai dengan stereotip pesta Rusia, kamerad-kamerad saya ini tidak buang waktu untuk obrolan remeh-temeh. Mereka langsung ngobrolin aspirasi pribadi dan sejarah keluarga masing-masing. Karena nenek moyang saya ada yang orang Rusia, kami jadi ekstra akrab. Malam itu spesial juga karena biasanya merokok dan minum alkohol di kereta tidak diperbolehkan. Tapi, karena itu di Rusia dan saat itu malam tahun baru, pilihan saya adalah antara pergi ke gerbong restorasi (yang kurang asik) atau nongkrong bareng kamerad-kameradkuu (yang membuat kami semua berdonasi untuk anak yatim piatu supaya kami bisa melanjutkan pesta dengan hati lapang).

Foto milik penulis

Namun selama beberapa jam selanjutnya, saya enggak bisa enggak risih saat obrolan lagi-lagi kembali pada topik politik. Duduk berhimpitan di sebuah meja kecil di antara kawan-kawan baru yang 80 persen laki-laki, dan 100 persen mabuk berat, saya mencoba memuluskan situasi dengan menekankan bahwa, misalnya, saya juga khawatir soal elemen fasis di Ukraina dan ambisi imperialis NATO. Tapi obrolan kami tetap jadi aneh, seperti saat mereka membahas bahwa kawan-kawan saya yang kiri, yang bikin saya ditahan di demo anti-Putin di Moscow, adalah pion utusan Departemen Luar Negeri AS dan pasukan gelap lainnya. (Orang mungkin berpikir bahwa menuduh oposisi progresif sampah masyarakat karena menjadi astroturf adalah hal yang konyol dilakukan sebuah organisasi yang dikenal berbaris dengan seragam seragam yang… seragam.) Malam berlanjut dan tahun baru terus dirayakan, dan pesta ini semakin terasai skizofrenik. Kami terus menemukan hal-hal baru untuk disepakati (tembak saja lah oligark!) dan hal-hal yang jelas tak bisa disepakati (… para gay, pengkhianat, feminis, dan Muslim juga!). Tapi mereka tampak jelas terganggu saat saya menanyakan klarifikasi poin-poin ideologi “komunisme bernilai tradisional” mereka, mengingat Uni Soviet adalah negara pertama yang mendekriminalisasi homoseksualitas.
Saat kereta masuk wilayah perkotaan, dan kembang api terlihat dari jendela, kami sudah kehabisan tenaga untuk merayakan pergantian tahun lebih lanjut lagi. Hal terakhir yang saya ingat adalah menolak ajakan mereka sarapan bareng keesokan harinya, yang mana mereka rasa bisa menjadi kesempatan untuk menunjukkan kuliah guru mereka di iPad. Saya rasa saya enggak penah benar-benar sampai ke tahun baru, dengan waktu Moskow.