Pemanasan Global

Suhu Lautan Global Mencapai Rekor Terpanasnya Pada 2017

Kalau ada yang ngotot bilang pemanasan global melamban atau bahkan tak terjadi, mereka pasti belum mengukur suhu lautan dunia.
Foto oleh Getty Images/VICE News.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

2017 adalah tahun terpanas kedua sepanjang sejarah peradaban manusa, menurut data yang dikeluarkan NASA. Namun, jika bicara tentang suhu laut global, 2017 tercatat sebagai tahun dengan suhu lautan tertinggi sepanjang masa.

Data terbaru Departemen Fisika Atmosfer, Chinese Academy of Sciences yang berdasarkan analisa data lautan dari setengah abad terakhir menunjukkan sebuah tren yang kentara: lautan dunia makin panas belakangan dan tahun lalu adalah lautan di Bumi mencapai suhu tertingginya. Bila kondisi suhu atmosfir Bumi biasanya turun naik seiring pergantian tahun, suhu lautan terus naik layaknya memanasnya planet yang kita tinggal ini.

Iklan

“Catatan suhu lautan Bumi ini memang luar biasa karena sesuai tren naiknya suhu Bumi,” ujar Robert Anderson, seorang pakar geokimia di Columbia University saat ditemuai VICE. “Mereka yang percaya peningakatan pemanasan global berhenti pasti belum melihat pemanasan suhu lautan.”

Penelitian terbaru yang dipublikasikan Jumat pekan lalu merupakan hasil dari analisa suhu lautan sedalam 2.000 meter berbagai penjuru dunia. Kesimpulannya suhu lautan mencapai titik tertingginya tahun lalu.

Peneliti di seluruh penjuru dunia bisa mengukur suhu lautan yang terus naik, berkat bantuan sekumpulan robot apung yang dikenal dengan nama Argo. Sekitar 4.000 robot apung berenang mengikuti arus lautan sejak tahun 2000. Saban sepuluh hari, robot-robot ini akan menyelam sampai kedalaman 2000 meter mengumpulkan data temperatur salinitas lautan.

Hasilnya luar biasa: lautan di bumi terbukti menyerap kelebihan panas dari pemanasan global yang dipicu oleh perbuatan manusia selama 50 tahun terakhir, menurut Intergovernmental Panel on Climate Change. Ini bukan jumlah yang kecil. Jika dibandingkan jumlah panas yang diserap lautan pada 2017, menurut salah satu periset dalam penelitian di atas, setara dengan jumlah total tenaga listrik yang dihasilkan Cina pada 2016.

“Ini jumlah panas yang besar sekali,” kata Gregory Johnson, oceanografer di Lembaga Pacific Marine Environmental, Seattle, saat dihubungi VICE News. “Besarnya kira-kira 350 terawatts, atau sama lima kali lipat jumlah energi yang dilepaskan oleh bom atom seperti yang dijatuhkan di Hiroshima, tiap detiknya secara terus menerus.”

Masalahnya, volume air juga terus meningkat. Para peneliti menemukan peningkatan temperatur lautan antaa 2016 dan 2017 menyebabkan peningkatan permukaan laut sampai dua milimeter—ini di luar peningkatan yang diakibatkan lelehan glasial atau bongkahan es besar, dua faktor yang memicu naiknya permukaan laut global.