Berikut Kisah Lengkap Lelaki Jepang Menikahi Karakter Anime Hologram

Tentu saja, resepsi pernikahannya aneh banget.
16.11.18
Kolase Hatsune Miku dan cincin pernikahan
Ilustrasi Hatsune Miku illustration via Instagram. Foto cincin kawin oleh Mauro Cateb via Flickr

Ada alasan mengapa “keanehan level Jepang” merupakan tipe berita aneh tersendiri. Mungkin karena kita senantiasa terkaget-kaget melihat kegemaran orang Jepang pada kebudayaan pop yang berlebihan. Atau mungkin media seringkali hanya berfokus pada semua hal aneh dari Jepang, sehingga liputan semacam itu agak problematik karena membangun stereotipe tertentu. Tapi pastinya, ketika seseorang menikahi sebuah hologram, dia akan masuk berita di seluruh dunia.

Peristiwa macam itulah yang terjadi minggu ini, ketika Akihiko Kondo “menikahi” hologram desktop sebuah tokoh anime bernama “Hatsune Miku.” Miku itu karakter fiktif. Miku adalah tokoh kartun berusia 16 tahun dan mempunyai rambut berwarna cotton candy. Dia juga merupakan pop star yang menggelar konser dengan tiket terjual habis di Jepang, New York, dan Los Angeles, meskipun dia fiktif. Masih merasa ini belum terlalu aneh? Ok.

Jadi, bagaimana seorang manusia bisa jatuh cinta dengan hologram? Ada hubungannya dengan hologram yang dibuat Gatebox, perusahaan yang mengeksploitasi keinginan seksual para otaku yang kesepian. Kotak-kotak kaca tersebut memproyeksikan versi holografik dari tokoh-tokoh anime populer.

Kamu bisa berinteraksi dengan mereka—tentunya dengan lebih banyak batasan dibandingkan perempuan manusia. Rekan kami di VICE News berbicara dengan Gatebox tentang ini, dan kamu bisa melihatnya lewat dokumenter pendek rekan kami tautan bawah.


Tonton: Karakter anime hologram berikut dirancang untuk jadi pacarmu


Baik, mari kembali ke cerita “pernikahannya.” Kondo, laki-laki yang menikahi Miku, menjelaskan ke AFP bahwa dia bukannya jatuh cinta dengan Miku si bintang pop, melainkan Miku yang tinggal di meja rumahnya.

"Aku memang jatuh cinta sama konsep Hatsune Miku, tapi aku menikahi Miku yang ada di rumahku,” ujarnya kepada AFP, berbekal kekeliruan logika yang hanya masuk akal pada 2018. Sebab tidak ada Miku satu-satunya, sebab yang ada adalah konsep mengenai Miku-Miku pribadi yang kamu bisa beli seharga US$2.800 (setara Rp 40,9 juta).

Miku-nya Kondo lebih dari sebuah hologram yang bisa berbicara. Selain menyapa Kondo sebelum dia pergi kerja setiap pagi, Kondo juga bisa mengirim pesan kepada Miko dari ponselnya saat di jalan pulang, dan Miku akan menyalakan lampunya. Miko berkata kepada Kondo untuk tidak begadang dan barangkali juga bisa membangunkannya.

Semua itu semua terdengar menyenagkan, sampai kamu sadar bahwa semua yang dilakukan Miku untuk “suami” barunya juga bisa dilakukan Amazon Echo. Mungkin Amazon juga akan mendapatkan banyak lamaran pernikahan kalau Alexa kelihatan seperti kartun pra-puber dengan mata tupai dan bukan seperti kaleng kopi futuristik.

Gatebox rupanya kenal banget sama pelanggannya, karena Gatebox menawarkan “sertifikat pernikahan” kepada pelanggan untuk Miku mereka. Gatebox menganggap pernikahan ini sebagai pernikahan “interdimensional” dan sampai sekarang sudah mengirim 3.700 sertifikat, menurut laporan dari AFP.

Tapi bagaimana dengan semua yang si Miku tidak bisa melakukan, misalnya tidur di ranjang bersamamu atau hadir di altar untuk dinikahi? Kondo berkata kepada AFP bahwa dia tidur setiap malam dengan waifu dakimakura, sebuah bantal panjang dengan gambar Miku. Pada hari pernikahan mereka, dia membawa versi kecil dari bantal ini, sebesar anak anjing, bersamanya ke altar. Kamu bisa melihat foto pasangan bahagia ini di sini.

Diperkirakan 40 orang menghadiri pesta pernikahan Kondo dan hologram kesayangannya. Pesta itu makan biaya US$17.500 (setara Rp 250 juta). Tetapi sayangnya, ibu Kondo dan anggota keluarga lainnya tidak hadir.

“Buat ibuku, ini bukan sesuatu yang layak dipestakan,” ucap Kondo kepada AFP.

Kita sepakat peristiwa di Jepang ini aneh banget. Sama anehnya seperti sembilan tahun lalu ketika orang Jepang menikahi tokoh dari game pacaran simulator pada Nintendo DS-nya. Atau ketika seseorang dari Korea Selatan menikahi dakimakura waifu dengan gambar Fate Testarossa, “cewek ajaib” anime, lengkap dengan pesta pernikahan.

Tapi pernikahan Kondo juga menandakan masalah besar di Jepang—perubahan demografi yang dijuluki “bom waktu” oleh beberapa pakar ekonomi. Begini masalah utamanya. Jepang, sebagai negara, menjadi semakin tua. Jauh lebih tua daripada tetangganya. Usia rata-rata di Jepang adalah 46,1 tahun. Di Tiongkok, usia rata-ratanya 36,7, di Indonesia 29,2, dan di Filipina hanya 22,4

Penuaan populasi Jepang disertai konsekuensi. Jumlah orang yang meninggalkan pekerjaan mereka karena usia mereka yang tua melebihi jumlah orang yang lahir untuk menggantikan mereka. Inilah alasan mengapa ahli ekonomi menjuluki krisis ini sebagai bom waktu, karena fenomena ini akan mempengaruhi ekonomi nasional.

Orang tua yang meninggal sendirian di apartemen mereka adalah hal biasa di Jepang. Dan jumlah pekerja baru untuk mengurusi lansia begitu sedikit, hingga sebuah survei menunjukkan 80 persen orang Jepang merasa positif tentang penggunaan robot untuk mengurusi lansia di Jepang. Bahkan ada anime tentang bagaimana fenomena ini bisa berakhir dengan buruk.

Jadi, kenapa ini bisa terjadi? Angka kelahiran yang menurun. tingkat kelahiran (jumlah kelahiran per 1.000 orang dalam satu tahun) Jepang hanya 1.41, jauh di bawah angka 2.2, yang dikutip para ahli sebagai tingkat yang dibutuhkan untuk mempertahankan kesehatan dan kelayakan ekonomi sebuah negara. Dan bukan karena orang Jepang tidak mau melakukan seks, kendati apa yang diceritakan beberapa kisah. Alasannya karena sebagian besar orang Jepang kurang mampu membiayai seorang anak.

Populasi Jepang kerja terlalu banyak. Saking banyaknya, sampai ada yang meninggal akibat kerja. Ditambah tantangan yang melimpah bagi perempuan Jepang, dan ini menciptakan kebudayaan dunia kerja yang mementingkan kemampuan pekerja untuk tidak mempunyai anak selama mungkin. Ya pasti lah mereka akan merasa kesepian.

Jadi, saat seseorang memilih menikahi hologram, mungkin itu memang sekadar perilaku aneh khas Jepang. Atau, yang lebih buruk, itu adalah tanda kita sampai pada fase kapitalisme tahap akhir.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.