News

Bonus Gaji Tak Kunjung Turun, Polisi dan Tentara Serang Parlemen Papua Nugini

Penyerangan ini menyebabkan kaca-kaca pecah, tenaga keamanan parlemen luka, dan berbagai kerusakan lainnya. Pesan moralnya: pemerintah manapun jangan suka janji palsu dan korupsi.
20.11.18
Gedung Parlemen Papua Nugini dirusak massa polisi dan tentara
Kerusakan di Gedung Parlemen Papua Nugini

Anggota Kepolisian dan Tentara Papua Nugini memprotes pemerintahnya sendiri dengan cara yang sangat dramatis dan pasti membuat aspirasi mereka didengar. Caranya? Menyerang gedung parlemen di Ibu Kota Port Moresby pada 20 November lalu. Sekitar 100 personel polisi dan militer bergabung dalam aksi bersama menghancurkan kaca-kaca di sekujur bangunan parlemen, menggebuki beberapa tenaga pengamanan yang berusaha mencegah penyerangan tersebut, serta menghancurkan beberapa properti lain.

Kemarahan polisi dan militer dipicu oleh belum turunnya bonus gaji yang dijanjikan pemerintah. Para abdi negara itu sempat diiming-imingi bonus tambahan di luar gaji bulanan atas tugas pengamanan Konferensi Tingkat Tinggi Forum Kerja Sama Asia Pasifik (APEC) yang berlangsung di Papua Nugini pekan lalu. Seharusnya, tiap personel polisi maupun militer yang ikut mengamankan acara mendapat bonus 350 Kina (setara Rp1,5 juta). Angka itu terhitung besar untuk standar Papua Nugini, negara termiskin yang bergabung dalam APEC.

KTT APEC yang digelar di Port Moresby menjadi pemandangan ironis. Di saat jamuan mewah dan pengamanan kelas wahid digelar untuk 21 kepala negara mewakili tiap anggota APEC, sebanyak lebih dari 40 persen populasi Papua Nugini masih hidup di bawah garis kemiskinan. Pemerintah setempat, demi menghibur tamu negara, menyediakan mobil mewah Maserati untuk antar-jemput para delegasi. Mobil-mobil berharga miliaran Rupiah itu sekarang teronggok di gudang setelah KTT APEC tuntas diselenggarakan. Itu belum termasuk kapal pesiar mewah yang jadi tempat menginap para delegasi. Lebih pahitnya lagi, pemerintah Papua Nugini menanggung semua biaya akomodasi mewah tadi dari pajak rakyatnya.

Iklan

Sejak awal, banyak warga Papua Nugini menolak pemborosan pemerintah dalam menggelar KTT APEC. Berulang kali unjuk rasa terjadi menjelang penyelenggaraan acara. Demonstrasi yang massif itu coba diredam melibatkan polisi dan militer. Anjing pun ternyata berani menggigit tuannya gara-gara diberi iming-iming berlebihan. Aparat keamanan malah ikut berunjuk rasa, dengan jauh lebih brutal.

Para personel militer dan polisi yang menyerang parlemen turut meneriakkan yel-yel menolak korupsi di pemerintah Papua Nugini. Di media sosial, banyak orang membagikan video kerusakan gedung parlemen.

Berdasarkan laporan The Guardian, petinggi Kepolisian Nasional Papua Nugini rupanya mendukung unjuk rasa anak buahnya. Mereka sendiri merasa "tertampar" setelah menyadari polisi dan tentara kroco yang dipaksa mengamankan secara ekstra KTT APEC tidak kunjung mendapat bonus, padahal anggarannya sudah disediakan.

"Tindakan pemerintah ini amat memalukan, karena tidak menghargai kerja keras aparat keamanan selama acara," demikian bunyi keterangan tertulis dari Kepolisian Papua Nugini.

Insiden ini bisa mendorong terjadinya instabilitas politik di Papua Nugini. Namun masih belum jelas bagaimana reaksi balasan dari pemerintah setelah polisi ikut mengkritik mereka gara-gara pemborosan dan janji palsu yang tidak ditepati.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE ASIA.