Game

‘Into the Breach’ Adalah Kandidat Game Strategi Terbaik Tahun Ini

Game ini kayak Advance Wars tapi lebih susah. Udah gitu aja.
01 Maret 2018, 9:30am

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Game baru yang menarik adalah, menurut saya sih, game yang enggak disangka-sangka bakal bagus. Saya, misalnya, sudah lama dapat kabar tentang Into The Breach, sebuah game strategi garapan studio pembuat game indie yang meledak di pasaran game FTL: Faster Than Light. Selama beberapa bulan, Into The Breach luput dari radar pengamatan saya. Makanya, begitu saya pertama menjajalnya, saya sengaja enggak memasang harapan tinggi untuk game ini. Nyatanya, saya malah kecanduan. Bagi saya, Into The Breach adalah game yang meneruskan arwah Advance Wars—game strategi lawas favorit yang sudah sedekade enggak saya mainkan.

Advance Wars adalah sebuah game bergenre turn-based strategy yang bisa dimainkan di Nintendo Game Boy Advance dan Nintendo DS. Dalam game itu, saya mengendalikan satu pasukan dan gantian menyerang dengan lawan dalam sebuah map berpetak. Konsep ini diteruskan oleh Into The Breach. Cuma bukannya mengendalikan sepasukan prajurit, saya mengomandoi mecha-mecha untuk memerangi serangga-serangga raksasa yang ingin menghancurkan Bumo. Pertarungan antara mecha yang saya kendalikan dengan serangga-serangga bengis ini terjadi dalam map berpetak yang muncul secara acak. Ada beberapa macam mecha dan serangga dalam game ini yang memiliki gerakan serta serangan yang unik. Nah, salah satu bagian paling mengasikkan dari game ini adalah ngulik bagaimana cara masing-masing mecha dan serangga berinteraksi.

Bumi, planet yang kita lindungi, punya health bar. Game bakal kelar kalau bar ini kosong. Saban kali serangga berhasil menghancurkan bangunan penduduk sipil, health bar bumi akan menurun. Nge-heal gedung-gedung ini rasanya lebih susah dari melindunginya dari serangan serangga. Pas pertama nyoba, saya langsung dapat notifikasi kalau saya sudah kalah dan satu-satu opsi yang tersedia adalah kembali ke masa lalu serta mencoba kembali.

Serangga-serangga dalam game ini memang sangat galak dan kuat sampai-sampai saya sudah kalah sebelum mereka betulan menyerang, Jadi, sebelum kalian memutuskan main game ini, camkan ini: kalian semua bakal sering mati. Misalnya nih, baru setengah jam game berjalan, saya sudah kehilangan apartemen sampai saya harus mengaku kalah. Untungnya, musnahnya Bumi enggak sama dengan game. Saya toh tinggal loncat ke timeline lain—map dan jenis bug yang muncul dipilih secara acak—dan berjuang kembali menyelamatkan bumi.

Into the Breach adalah game susah. Tapi tenang, ini jenis game susah yang enak dimainkan. Tiap kali saya mati dalam game ini, saya belajar sesuatu yang baru. Serangga-serangga dalam game ini memang sangat mengganggu sampai saya harus mikir bolak-balik untuk menentukan mecha atau bangunan mana yang mesti dikorbankan.

Lantaran bangunan-bangunan sipil sama dengan healh bar bumi, triknya adalah mengorbankan mecha. Pasalnya, mecha bisa di-heal tapi bumi enggak. Sudah gitu, pilot-pilot mecha bisa naik level, punya kemampuan baru dan bisa pindah ke timeline lain. Kalau sebuah mecha mati, pilotnya juga ikut mati. Makanya, saya sering berganti timeline cuma untuk menyelamatkan satu pilot yang sudah naik level. Game ini memang memaksa kita untuk terus hitung-hitungan kesempatan.

Di Steam, ada banyak game yang mirip dengan Into The Breach, tapi kualitasnya biasanya saja. Tiap pertempuran berlangsung sengit dan cepat. Nilai plus lainnya adalah musik pengiring game ini bagus banget dan Chris Avellone—pria yang menulis Planescape Torment dan Tyranny—menulis plot dan dialog dalam game ini.

Singkatnya, Into The Breach adalah game yang bikin kita pengin main lagi tiap kali tiap kali gacoan kita modar.