game dan kehidupan

Kami Mencari Tahu Alasan Sebagian Biksu Buddha Menolak Video Game

Kami ngobrol-ngobrol tentang game dan reinkarnasi dengan para biksu di Wat Chedi Luang, Chiang Mai, Thailand.
6.2.18
Semua foto oleh Robert Rath 

Artikel ini pertama kali tayang di Waypoint Sebuah zombie bangkit dari dalam kuburnya. Lengannya yang kurus terjerat dalam untaian kabel keyboard dan laptop, membuatnya terpaku ke tanah. Matanya yang kempes dan giginya yang kuning menatap penonton.

Zombie tersebut adalah bagian dari sebuah poster di One Pillar Pavilion, sebuah kuil Buddha di Hanoi. Dipecah menjadi beberapa panel seperti buku komik, poster tersebut menampilkan konsekuensi karma dari berbagai tindakan. Mereka yang menghina Buddha akan menjadi gila. Mereka yang bekerja keras akan dilahirkan kembali dalam kehidupan yang lebih baik.

Iklan

Lalu si zombie tersebut? Dia disandingkan dengan segerombolan gamer di sebuah internet cafe yang sibuk meneriaki layar komputer.

“Kalau Menghabiskan Waktu Hanya Bermain Game,” tulis poster tersebut, “Kamu Tidak Akan Dilahirkan Kembali ke Dalam Kehidupan Manusia.”

Poster yang mengundang banyak tanya

Jurnalis game telah secara mendalam meneliti reaksi kaum Kristen terhadap game, mulai dari pengembang religius yang mengkooptasi medium video game, hingga grup-grup evangelikal yang mengutuk game sebagai perpanjangan tangan setan. Tapi belum banyak penelitian tentang bagaimana pemeluk agama lain merespon video game.

Ini aneh, mengingat video game adalah fenomena global. Setelah banyak mengunjungi negara-negara Asia, saya belum pernah menemukan negara di mana video game tidak populer. Saya pernah ngobrol tentang Overwatch dengan pemandu tur di Vietnam, menonton biksu muda bermain Candy Crush di Thailand. Di Namche Bazaar, sebuah kota yang berada di ketinggian 11.286 kaki di wilayah Khumbu di Nepal, saya bertemu seorang lelaki muda yang memainkan Clash of Clans.

Poster dari Vietnam ini adalah pertama kalinya saya melihat reaksi negatif dari agama terhadap video game. Tertarik, saya mulai menyelami isu ini, membaca komentar di internet tentang para biksu yang kecanduan main game di ponsel. Saya membaca wawancara Karmapa Lama, seorang Lama berposisi tinggi dalam ranah Budhisme Tibet—dan seorang pemain FPS yang canggih.

Tetap saja semua ini tidak menjelaskan bagaimana video game berinteraksi dengan Buddhisme. Seberapa besarkah reaksi negatif dari Buddha? Apa iya benar banyak biksu yang kecanduan main game? Apakah pengalaman maen game telah mengubah cara ahli agama memandang Jalan Utama Berunsur Delapan—sebuah ajaran utama agama Buddha.

Guna mendapat jawaban, saya menyambangi Wat Chedi Luang di Chiang Mai, Thailand.

Iklan

Wat, atau kuil ini, merupakan situs bersejarah yang umurnya sudah beberapa abad. Fondasi bagi struktur piramid kuil dibangun di 1300an, tapi sebuah gempa bumi yang terjadi pada 1545 meruntuhkan bagian atas struktur, meninggalkan fondasi awalnya dalam bentuk puing-puing yang indah.

Biarpun sudah lewat masa kejayaannya, Wat Chedi Luang tetap menjadi salah satu kuil terbesar di kota terbesar kedua Thailand. Strukturnya yang baru dijadikan pusat tempat berdoa, belajar, dan menyebarkan ajaran agama Buddha.

Setiap harinya, kuil tersebut mengadakan program “Ngobrol Dengan Biksu”, di mana orang asing diperbolehkan untuk bertanya tentang Buddhisme dan memberikan para biksi kesempatan untuk berlatih bahasa Inggris dengan seorang native speaker.

Dalam waktu dua hari, saya ngobrol dengan tiga lelaki dari fase kebiksuan yang berbeda—seorang biksu, calon biksu, dan mantan biksu—tentang bagaimana video game berhubungan dengan gaya hidup pemeluk agama Buddha yang taan.

Saya mengira mereka akan enggan untuk ngobrol tentang video game, tapi justru yang saya dapatkan adalah tiga lelaki dengan opini mendalam tentang posisi ajaran Buddha dalam dunia teknologi modern—dan bagaimana dunia modern yang serba terhubung mempengaruhi usaha mereka untuk menjalani kehidupan yang “sadar” dan bermeditasi.

“Video game merebut perhatian para biksu junior, mereka menyebabkan masalah,” jelas Veerayuth Pongsiri, seorang mantan biksu yang tetap bekerja di kuil sebagai orang awam, Dia mengatakan kebanyakan biksu juniorlah yang hobi bermain game. Ini masuk akal mengingat mereka memasuki kehidupan monastik sebagai anak-anak. Biksu junior terdiri dari umur tujuh hingga sembilan belas tahun, dan sama seperti anak-anak lainnya, mereka belum bisa mengontrol impuls. “Kadang mereka belum cukup dewasa.”

Iklan

Bagi Pongsiri, epidemik biksu muda terlalu banyak bermain game adalah isu yang nyata. Tapi alih-alih melihatnya sebagai ancaman terhadap karma mereka, seperti yang ditulis oleh poster Vietnam, dia mengkhawatirkan proses belajar mereka.

“Dalam periode ini, seharusnya mereka mempelajari meditasi,” ujarnya. “Apabila biksu muda menghabiskan waktu dua atau lima jam sehari bermain video game, berarti waktu untuk mempelajari ajaran Buddha semakin sedikit. Mereka belum bisa mengatur waktu.”

berlatih ngobrol dalam bahasa Inggris

Namun, Pongsiri mengatakan bahwa mungkin masalah ini disebabkan oleh kurangnya keyakinan pribadi. Di Thailand, menjadi sebuah biksu bukanlah komitmen seumur hidup. Faktanya, sebagian besar biksu junior nantinya akan meninggalkan dunia kebiksuan. Dan sebagian besar dari mereka—terutama anak lelaki dari desa rural—bergabung demi kesempatan mendapat pendidikan. Bagi mereka yang berprestasi, menjadi biksu bisa membuka jalur mendapatkan gelar S2 atau bahkan PhD, bukan hanya dalam subyek Buddhisme tapi juga dalam Bahasa Inggris. Bagi biksu junior yang mementingkan pendidikan, mereka lebih tertarik dengan manfaat praktikal dari hidup di kuil alih-alih pengembangan spiritualitas.

“Mereka sedikit mempelajari Buddha. Mereka menggunakan agama Buddha sebagai tangga menuju edukasi lain,” ujarnya. “Mereka berdoa dan melakukan meditasi duduk tapi tidak mengerti apa-apa.” Biksu junior macam ini, ujarnya, kemungkinan besar akan kalah terhadap godaan untuk memainkan Realm of Valor di antara jeda kelas.

Iklan

Tapi Pongsiri sendiri tidak anti-game. Menurutnya, wajar bahwa biksu senang bermain game. Bermain game bisa membuat orang lebih santai, dan juga menghubungkan mereka dengan orang muda lain di luar ranah kuil.

“Menurut saya, apabila mereka bermain sejam sehari, itu tidak apa-apa,” ujarnya. “Tapi hanya satu jam. Bagaimana menurutmu?”

Triphop Suttarchai

Di seberang meja, Triphop Suttarchai—seorang biksu muda mengenakan jubah biru kehijauan—menggoyangkan kepalanya tanda setengah-setengah setuju. “Satu setengah jam,” balasnya.

Suttarchai memasuki dunia biksu ketika berumur empat belas tahun, ketika ibunya menyadari ketertarikannya terhadap Buddhisme. Setelah menghabiskan waktu tiga bulan melayani—standar bagi semua lelaki Thai—dia memutuskan untuk terus melanjutkan upayanya meningkatkan kesadaran dan mengenyahkan sifat menghakiminya.

Setelah berumur 21 tahun, dia bisa ditahbiskan sebagai biksu sejati, tapi memutuskan untuk menunggu hingga dia melewati berbagai ujian agama yang berat. Apabila berhasil melakukan ini, dia akan mendapat sebuah penghormatan yang langka—ditahbiskan oleh raja Thailand sendiri, figur yang hingga sekarang masih sangat dihormati.

Seiring kami membahas video game, kami bisa mendengar dengungan doa dari kuil utama. Para biksu sedang menyiapkan upacara ritual menandai setahun kematian raja mereka sebelumnya, King Bhumibol. Setahun kemudian, foto raja setinggi dua puluh kaki dan bendera duka masih memenuhi setiap gedung di Thailand.

Iklan

Menurut Suttarchai, sudah umum baginya melihat biksu bermain game di ponsel, laptop, atau bahkan gamepad. Seorang temannya, ujarnya, kesulitan secara akademis akibat menghabiskan terlalu banyak waktu bermain game sepakbola dibanding belajar.

Suttarchai sendiri mengaku sempat kesengsem dengan game RPG online Jepang, Dragon Nest, tapi berhenti karena proses belajarnya terganggu.

“Itu game pertarungan,” ujarnya. “Kamu menghancurkan musuh untuk naik ke level selanjutnya. Tapi saya sudah berhenti bermain semenjak tiga atau empat tahun lalu. Selama saya ingin memainkan game tersebut, saya menghabiskan waktu. Saya ingin menjadi nomer satu, tapi saya tidak bisa membiarkan game tersebut mengendalikan hidup saya.”

“Ini bukan berarti kita tidak boleh bermain,” ujarnya. “Bermain game itu oke untuk relaksasi.”

Tapi memang banyak yang melakukan ini secara berlebihan, klaimnya. “Salah satu teman saya meneliti berapa jam yang dihabiskan para biksu bermain Facebook dan smartphone. Dia mengatakan jawabannya sangat banyak.”

Suttarchai mengatakan, bahwa bahkan bagi biksu, aturan Buddha bukan semata-mata melarang kelakuan ini. Larangan terhadap minum dimaksudkan agar seseorang bisa menjaga kesadaran dan mengontrol aksi mereka, dan bukan berfokus di alkoholnya. Namun, seorang biksu melanggar ajaran ketika mereka tidak bisa berhenti bermain, atau mencari kebahagiaan dari game tersebut. “Kebahagiaanmu tidak boleh bergantung terhadap sesuatu yang eksternal. Kamu tidak boleh melemparkan kunci kebahagiaanmu ke orang lain.”

Iklan

Pongsiri, seorang mantan biksu, setuju. Bahaya dari bermain game bukanlah gamenya sendiri, tapi hasrat yang mungkin ditimbulkan—mengingat dalam ajaran buddha, hasrat dianggap sebagai penyebab penderitaan. “Kalau kamu kalah atau menang, kamu akan ingin terus bermain. Kamu akan terus memikirkan game tersebut. Kalau kamu memiliki pola pikir seperti ini, kamu akan menderita secara fisik atau mental.”

Bahaya dari elemen kompetisi dan hasrat ini adalah alasan mengapa biksu tidak dibolehkan bermain olahraga. (Biarpun, jujur, saya sering melihat beberapa biksu muda diam-diam bermain sepakbola.) Olahraga memang menawarkan banyak manfaat, ujar kedua lelaki tersebut, tapi apabila fokusnya di menang atau kalah, perasaan negatif yang muncul bisa merusak upaya kita mencapai pencerahan.

Memang, Buddha sendiri menolak game untuk alasan yang sama. Ada sebuah daftar game yang dia tidak mau mainkan karena dianggap sebagai buang-buang waktu pencarian pencerahan. Lucunya, para biksu yang saya wawancarai tidak pernah mendengar tentang daftar ini, atau mengenalnya dalam nama yang berbeda dibanding sekedar “Buddha Games List.”

Baik Pongsiri dan Suttarchai juga berargumen bahwa tugas seorang biksu adalah bukan untuk menutup diri, tapi mempelajari dunia agar mereka bisa menyebarkan pesan Buddha. Kebanyakan orang, tentunya, tidak hidup sebagai biksu, dan mereka harus bertemu dengan ajaran Buddha dengan cara mereka sendiri. Maka dari itu, pengetahuan tentang game bisa membantu seorang biksu berhubungan dengan generasi muda dan menciptakan sebuah pesan yang mendukung ajaran Buddha.

Iklan

Ketika membahas ini, saya memiliki teori saya sendiri—bagaimana FPS multiplayer tidak jauh berbeda dengan siklus hidup dan mati ajaran Buddha. Semua orang dimulai sebagai sebuah avatar, dan tidak peduli berapa kali avatar itu mati, si pemain—atau dalam istilah Buddha, kesadaran—dilahirkan kembali dalam bentuk lain, tetap memiliki pengetahuan yang mereka sudah dapat dari kehidupan sebelumnya.

“Kalau kamu pergi ke jalur yang salah, orang akan menembakmu,” jelas Pongsiri, menunjukkan arah dengan tangannya. “Jadi, setelah dihidupkan kembali, kamu mengambil jalan yang lain, ini bagus untuk dipelajari. Ini manfaat dari gamenya, kami bisa belajar.”

Suttarchai setuju, secara teori, bahwa game bisa digunakan untuk mengajarkan konsep reinkarnasi. “Dalam game, kamu mensimulasikan dan mempraktekannya dalam pikiran. Apabila kamu salah dalam kehidupan sebelumnya, kamu harus memperbaiki dan mengambil jalan lain.”

Tentu saja ini artinya menggunakan sebuah game penuh kekerasan untuk mengajarkan agama yang anti-kekerasan—tapi mungkin ini bukan sebuah masalah. Seperti yang sudah disebutkan, pihak otoritas tertinggi kedua dalam Buddhisme TIbet, Karmapa Lama, meyakini bahwa game FPS merupakan cara yang aman untuk mengeluarkan agresi tanpa menyakiti siapapun.

Tapi ketika para biksu ditanya apakah membunuh dalam game bisa mempengaruhi konsekuensi karma si pemain, para biksu memiliki jawaban yang berbeda-beda.

Iklan

“Ini tergantung intensinya,” jelas Suttarchai. Dia menjelaskan bahwa sebuah pembunuhan hanya memiliki konsekuensi karma apabila memenuhi sederetan syarat. Satu, targetnya memang hidup. Dua, kamu harus paham bahwa si target hidup. Tiga, kamu memang berusaha membunuhnya, dan melakukannya dengan niat untuk menyakiti. “Jadi menurut saya bermain game tidak mempengaruhi karma, karena mereka bukan makhluk hidup.”

Tapi mereka bisa menyebabkan ketergantungan, ujarnya. Jadi apabila kamu terbawa emosi dan bermain dengan intensi melukai pemain lain, ini mungkin bisa berakibat buruk bagi arwahmu. Dengan kata lain, bermain game itu bukan dosa, tapi mendendam itu dosa. Dan tentu saja, apabila game macam Grand Theft Auto membuat si pemain melakukan kejahatan dan kekerasan di dunia nyata, ini akan memiliki konsekuensi karma.”

“Kamu mencuri mobil dalam game, kemudian mencuri sebuah mobil sungguhan,” ujar Suttarchai.

Saja menunjukkan mereka poster “gamer zombie” dari Vietnam dan meminta mereka menjelaskannya. Apa artinya ketika poster mengatakan, gamer yang kecanduan “Tidak Akan Dilahirkan Kembali ke Dalam Kehidupan Manusia?”

Ketika Suttarchai melihat fotonya, dia mundur dan mengerang. Pongsiri mendesisi. Setelah reaksi awal sudah lewat, mereka memperhatikan poster secara mendetil.

Suttarchai menggelengkan kepala. “Ini Buddhisme Mahayana,” ujarnya, sama seperti ketika seseorang seolah meminta maaf karena seorang saudaranya kelewat religius. “Ini berbeda. Kami Buddhis Theravada.”

Iklan

Dia mencoba menjelaskan sebisanya. Dalam Buddhisme Theravada, jelasnya, orang bisa dilahirkan kembali menjadi bentuk manusia yang lebih tinggi atau bentuk binatang yang lebih rendah, tergantung karmanya. Buddhis memiliki ajaran Pancasila: tidak melukai makhluk hidup lainnya, mencuri, tidak berbuat asusila, tidak berbohong, dan menghindari makanan/minuman yang bisa melemahkan kesadaran.

Setiap kali seseorang melanggar Pancasila, jelas Suttarchai, dia kehilangan 20% dari jiwanya, kehilangan unsur manusiawi dan semakin mendekati binatang. Binatang tidak mempunyai kebijakan atau kesadaran. Mereka akan membunuh dan mencuri tanpa rasa bersalah, dan melakukan apapun yang mereka mau. Manusia berada dalam posisi yang lebih tinggi karena memiliki kebijakan, dan sadar akan perbuatan mereka. Untuk membuang kesadaran ini, ujarnya, membuat seseorang lebih tidak manusiawi.

Pesannya yang berusaha disampaikan bukan bahwa pecandu game akan dilahirkan kembali sebagai zombie—tapi bahwa mereka akan dilahirkan kembali dengan jiwa yang tidak lengkap, dan akan semakin sulit meraih pencerahan.

Bunyi doa penuh ritmik menutup pembicaraan kami. Di kuil utama, para biksu telah memulai sebuah ritual merayakan setahun kematian Raja Bhumibol. Seiring saya mendekat, menonton para biksu dan aparat berjaket putih meratapi kematian raja mereka tercinta, saya masih belum puas dengan jawaban yang saya dapat.

Berkat Pongsiri dan Suttarchai, saya punya sedikit pegangan tentang bagaimana biksu melihat biksu lain yang suka bermain game—tapi apa sebetulnya pendapat dari administrasi kuil itu sendiri?

Iklan

Keesokan harinya, saya kembali ke kuil dan bertemu dengan Phra Artit Dhammabani, figur yang rasanya cocok untuk ditanyai hal-hal macam ini. Dhammabani adalah bagian dari generasi baru biksu modern. Dia menggunakan Facebook dan Twitter untuk menyebarkan ajaran Buddhisme dan memberikan orang asing jendela ke dalam kehidupan monastik. Sama seperti Pongsiri dan Suttarchai, dia meyakini bahwa video game bukanlah masalah dalam kehidupan berbiksu, selagi mereka tidak menghabiskan terlalu banyak waktu bermain.

Sembari berbicara tentang manfaat dan bahaya dari game, kata-katanya mulai bertambah cepat keluar dari mulut, membuat saya kesulitan mencatat.

“Game bisa memberikanmu kehidupan, komunitas, kebahagiaan,” ujarnya. “Kamu bisa mendapat manfaat…apabila kamu bisa mengatur diri, mengatur hidupmu, gamemu.”

Namun dia menambahkan, penting bahwa gamer tidak mengisolasi diri. “Kalau kamu tidak peduli tentang makan, tidur, mandi…kamu tidak sedang hidup dalam realita, kamu hidup dalam game. Kamu menjadi satu-satunya orang di dunia.”

Dhammabani juga mengingatkan ilusi dari rasa pencapaian yang ditimbulkan oleh game. “Kamu berpikir: kalau saya menamatkan game, saya akan bahagia. Saya akan menjadi pemenang,” ujarnya. Tapi kamu kehilangan kesehatan, waktu belajar, keluarga, dan suatu hari kamu akan bertanya: Apa yang saya lakukan?”

Tapi bagi siapapun yang telah mengisolasi dirinya dalam game, dia berujar, masih ada harapan.

“Kalau kamu sendirian dalam game, kamu selalu bisa keluar,” ujarnya. “Bermainlah dengan teman dan keluarga, mereka akan mengerti dan menyayangimu.”

Ini efeknya tidak jauh berbeda dari bangkit dari kematian, sama seperti zombie tadi.