Kecerdasan buatan

Pamer Makanan di Sosmed? Kandungannya Bisa Dianalisa Kecerdasan Buatan Lho

Kercedasan buatan itu dirancang insinyur MIT. Penasaran ga, seberapa menjijikkan isi makanan yang kalian pajang di Instagram?
21 Juli 2017, 3:48am
Foto ilustrasi oleh Shutterstock / Julien Tromeur

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard.

Era kita cuek memandangi makanan di Instagram akan segera berakhir. Menurut sebuah penelitian baru dari Computer Science and Artificial Intelligence (AI) Laboratory MIT, algoritma AI deep-learning bernama "Pic2Recipe" telah mampu menelusuri bahan-bahan sebuah makanan hanya berdasarkan foto saja.

Para peneliti mengumpulkan 1.029.720 resep dan 887.706 foto makanan dari situsweb masakan populer seperti All Recipes dan Food.com dan secara manual menghilangkan gambar duplikat dan karakter tidak diinginkan seperti tanda seru atau tanda tanya. Hasilnya adalah database makanan-makanan umum dan bahan-bahannya yang lengkap.

Ketika AI Pic2Recipe diminta melihat sebuah foto makanan, AI ini mampu menggunakan database mengidentifikasi 65 persen komposisi secara tepat. Hasil tersebut merupakan peningkatan signifikan dari upaya awal pengembangan kecerdasan buatan sejenis dari penelitian Food-101 pada 2014. Kala itu peneliti asal Swiss menciptakan algoritma yang dapat mengidentifikasi 50,76 persen bahan makanan dari foto.

Foto oleh Jason Dorfman/MIT CSAIL

Foto oleh Jason Dorfman/MIT CSAIL

Nick Hynes, salah satu peneliti di lembaga MIT CSAIL sekaligus pemimpin penelitian ini, menyatakan Pic2Recipe memiliki potensi di masa mendatang untuk mendemokratisasi pengetahuan kuliner dan nutrisi bagi masyarakat luas.

"Keren banget, kan, kalau suatu hari nanti kita bisa memotret sebuah makanan di restoran dan mengetahui bahan-bahan dasarnya, jadi bisa dibuat sendiri di rumah," ujarnya saat dihubungi Motherboard. "Saya juga membayangkan bahwa orang-orang dapat menggunakan AI seperti ini untuk menganalisa makanan mereka dan menentukan nilai nutrisinya. Hal ini bisa jadi sangat berguna di restoran dan kafe ketika kamu tidak benar-benar tahu apa yang kamu makan."

Meski begitu, Pic2Recipe bukan tanpa batasan. Kecerdasan buatan ini belum memiliki mekanisme memahami rasa dan tekstur, jadi bahan dasar yang terlihat mirip namun rasanya beda jauh dapat membuat AI kebingungan—misalnya, hummus dan pasta kedelai. AI juga tidak dapat memberi tahu takaran tiap bahan dasar yang dibutuhkan untuk membuat makanan.

Hynes juga berkata bahwa Pic2Recipe kesulitan mengidentifikasikan bahan dasar dalam makanan seperti smoothies dan sushi karena terdiri dari gabungan bahan-bahan, atau bahan-bahan yang amat baik. Dan karena bahan seperti itu jarang muncul di database.
Tim riset CSAIL berharap memperbaiki Pic2Recipe sehingga hal tersebut tidak hanya bisa mengidentifikasi makanan rumit, sekaligus menyediakan metode persiapan makanan. Meski begitu, Hynes berkata perbaikan semacam ini tidak mungkin dicapai dalam waktu dekat.

"Memahami resep-resep dan foto-fotonya adalah masalah besar yang bahkan penelitian Google sendiri mengalami kesulitan," ujarnya. "Saya berpikir bahwa [tingkat akurasi 95 sampai 100 persen] dapat dicapai, namun dibutuhkan pemahaman jauh lebih mendalam soal inputnya."

Kaleigh Rogers turut berkontribusi untuk artikel ini.