Teknologi Akan Menyelamatkan Bahasa Lokal yang Terancam Punah

Inovasi tengah digalang anak-anak muda dari masyarakat adat seluruh dunia untuk menyelamatkan budaya mereka yang tergerus asimilasi modern selama berabad-abad
11.6.17
perempuan muda memakai pakaian tradisional di Ohsweken, Kanada. Foto oleh Helen Session.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly.

Selama beberapa generasi, keluarga Lydia Prince menggunakan dongeng sebagai kanal untuk mewariskan pengetahuan dan bahasa. "tetua kami biasanya ngobrol dengan anak-anak mereka menggunakan bahasa mereka dan anak-anak ini secara alamiah menyerap bahasa yang mereka gunakan," ujar pengembang aplikasi Indigenous yang tinggal di Vancouver. Lydia Prince adalah keturunan Carrier dari Tl'azt'en Nation dari sang ayah dan Cree dari sisi ibunya.

Kebiasaan ini mulai berubah sejak akhir Abad 19 sejak pemerintah Kanada mengesahkan Indian Act. Beleid ini menjadi awal berkuasanya pemerintah kolonial pada penduduk pribumi. Dalam kenyataannya, aturan ini jadi latar justifikasi pemaksaan asimilasi yang disahkan lewat sekumpulan kebijakan yang mencabut masyarakat adat dari lingkungannya. Salah satunya adalah program sekolah berasrama yang dikelola oleh gereja yang bertujuan menghapus budaya asli yang dibawa para murid. Institusi ini juga menerapkan larangan penggunaan bahasa lokal. Jika seorang anak tertangkap tangan menggunakan bahasa asli mereka, hukuman berat menanti.

Asimilasi paksa punya andil besar dalam hilangnya beberapa bahasa Asli karena melarang suku asli menurunkan bahasa mereka. Antara tahun 1951 dan 1981, jumlah suku asli yang mendaftarkan bahasa asli mereka sebagai bahasa ibu menurun dari 87,4 persen menjadi hanya 29.3 persen. Sampai tahun 1996, 47 dari 50 bahasa asli Kanada terancam punah.

Lebih dari 20 tahun kemudian, bahasa asli Kanada terus menghilang dan mayoritas bahasa asli di kawasan British Columbia masih tetap terancam punah. "ini sudah menjadi wabah tersendiri," ujar Prince. "kami mati-matian menyelamatkan bahasa kami yang hampir mati."

Prince tak berlebihan. Sekitar 91,4 persen anggota suku asli Kanada yang fasih berbahasa asli telah berumur lebih dari 45 tahun. Menurut Prince, umur penutur asli ini merentang sampai 90 tahunan. Masalahnya adalah kebanyakan dari mereka hidup di kawasan terpencil atau dalam daerah pelestarian suku asli. Ini menjadi kendala bagi pengembangan literasi teknologi dan stabilitas sebuah bahasa. Imbasnya, generasi ini tak bisa berkomunikasi dengan generasi muda suku asli yang pindah ke kota dan transfer bahasa pun tak terjadi seperti semestinya.

"Kondisi tempat (penutur bahasa asli) ini mirip dengan kondisi negara dunia ketiga," ujar Prince. "mereka bahkan tak bisa mengakses air bersih, jadi mengakrabi teknologi bukan sama sekali prioritas." (pada tahun 2013, seorang investigator dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut kondisi kawasasan pelestarian suku asli sebagai sebuah "krisis," beberapa rumah sangat perlu diperbaiki. Kawasan ini juga memiliki tingkat bunuh diri yang tinggi. Diperkirakan 60 persen anak suku asli di kawasan pelestarian diperkirakan meninggal dalam kemiskinan.

Denise Williams, direktur eksekutif First Nations Technology Council dari suku Cowichan di pulau Vancouver, menduga bahwa kenangan buruk akan masa kolonial menghalangi generasi tua suku asli Kanada memanfaatkan teknologi modern. "Salah satu cara awal mengenalkan teknologi kontemporer pada komunitas First Nation di seluruh penjuru Kanada adalah melalui peraturan pemerintah federal." Jelasnya. Pada tahun 1982, pemerintah Kanada mengakui hak-hak suku asli untuk menyelenggarakan pemerintah mandiri ke dalam konstitusi Kanada. Dalam klausul tersebut, pemerintah Kanada mengatur bahwa pemerintah suku asli dan institusi harus "memastikan bahwa informasi menyangkut kebijakan dan standar administratif bisa mudah diakses oleh klien" dan "mematuhi prinsip akuntasi nasional Kanada." Termasuk kewajiban mengadopsi perangkat lunak dan sistem kontemporer.

"Teknologi kontemporer dianggap sebagai perkakas yang dipaksakan pada mereka, mirip seperti yang mereka rasakan terhadap struktur pemerintahan," ujar Williams. "Akibatnya, teknologi punya konotasi negatif bagi orang-orang First Nations."

Bahkan sampai saat ini, kata Williams, First Nations Technology Council menghadapi penolakan dari beberapa anggota komunitas yang masih memandang teknologi sebagai bentuk opresi kolonial. Williams menghabiskan empat tahun mengunjungi ratusan komunitas asli di British Columbia melakukan pelatihan teknologi untuk mengikis cara pandang seperti di atas. Tim yang dipimpin oleh Williams menyelanggara beragam kegiatan dari kursus sertifikasi Microsoft Office hingga reparas komputer. Melihat feedack yan diperolehnya, Williams yakin teknologi adalah sarana perberdayaan masyarakat suku asli Kanada.

"saat ini, ada lebih banyak informasi di internet tentang suku asli daripada informasi yang mereka buat sendiri," ujar Williams. "Meningkatkan akses masyarakat suku asli ke dunia maya adalah langkah pertama untuk melakukan dekolonialisasi." Williams juga sudah melihat bukti nyata dampak positif naiknya akses komunikasi digital lewat gerakan seperti Idle No More dan Stand With Standing Rock, yang mendapatkan respon publik dan memicu munculnya gerakan serupa. "Langkah yang selanjutnya adalah kita harus memberdayakan masyarakat suku aslo untuk membangun komunitas dan mengembangkan kemampuan ekonomi di dunia maya. Segera setelah mereka memiliki skill yang cukup untuk ikut serta dalam percakapan di dunia digital, kita akan bisa meningkatkan rekonsiliasi dan menciptakan dunia yang lebih bagi semua penduduk Kanada dan masyarakat suku asli."

Di sisi lain, Prince menilai Goozih dan inisiatif teknologi serupa lain yang digagas oleh milenial suku asli tak semata solusi praktif. Namun, juga menjadi katalis bagi permberdayaan kultural, "aku dan rekanku sebenarnya tak paham-paham amat tentang cara mengajarkan bahasa," ungkap Prince jujur. "Tapi, kami yakin sekali aplikasi ini akan menjadi katalis kuat untuk membuat generasi muda mau bicara dengan tetuanya dan belajar bahasa yang mereka gunakan. Lagipula, penggunaan teknologi seperti adalah hal yang benar-benar baru bagi masyarakat suku asli."

Investasi pemerintah propinsi dalam bentuk usaha pemberdayaan digital suku asli sedang marak di di Kanada. Bridging to Technology baru saja mendapatkan pendanaan tahun lalu, sementara pemerintah Kanada baru saja mengumumkan strategi baru yang lebih komprehensif untuk mempercepat pemberdayaan digital masyrakat suku asli.

Williams yakin bahwa masyarakat suku asli sebenarnya sudah menggunakan teknologi meski terbatas guna mewujudkan kemerdekaan mereka dengan caranya sendiri. "penting sekali untuk membiarkan suku asli memimpin perkembangan teknologi kita, hal ini tak kita temui dalam paradigma dominan yang menentukan cara kita memanfaatkan perangkat teknologi yang tersedia."

"bila konektivitas digital sudah diakrabi oleh 203 komunitas unik dan beragam di Kanada, kita bisa mewujudkan komunitas mandiri yang kokoh."