Kejahatan

Tanpa Senjata, Bandit Topi Jerami Sukses 11 Kali Merampok Bank

Uang jarahannya mencapai Rp665 juta. Pria yang jadi incaran FBI itu membuktikan siapapun bisa menjarah bank; asal punya niat.
4.5.17
Arsip foto oleh FBI.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

"Hei," bunyi pesan singkat dari pacar saya pagi hari pada musim semi 2013, "Kayaknya bank aku baru dirampok orang deh." Pacar saya ingin mengabari bahwa dia baik-baik saja sekaligus memberi tahu informasi terkait, berhubung saya adalah wartawan kriminal di kawasan Philadelphia, Amerika Serikat. Hari itu dia pergi ke bank di pinggir jalan untuk menyetor uang, melihat sekumpulan anggota kepolisian di luar gedung, dan menyimpulkan bahwa perampokan baru saja terjadi. Dugaan pacar saya tepat. Kalau saja dia berada di dalam bank pagi itu, dia akan melihat laki-laki kekar dengan jas dan dasi, sarung tangan latex hijau, dan topeng ala Elephant Man, melenggang dengan pistol hitam semi-otomatis pada satu tangan, dan tas serut di tangan yang lainnya. Laki-laki ini meminta semua orang tiarap dan kabur dengan uang tunai mendekati USD 30,000 (sekitar Rp400 juta). Menurut para penyelidik, ini bukan kali pertama sang pencuri beraksi. FBI connected mengaitkannya kepada beberapa perampokan bank bersenjata di Bucks and Montgomery counties—kawasan subruban dan semi-pedesaan di utara Philadelphia—pada Juni 2012. Beberapa perampokan selanjutnya terjadi pada 2013. FBI percaya bahwa laki-laki inilah pelaku semua perampokan karena "ciri khas" seperti topeng aneh yang membuat kepolisian memanggilnya "Bandit Topi Jerami" (straw hat) merujuk pada topi yang dia kenakan pada perampokan pertamanya. Pada Juli tahun lalu, Straw Hat Bandit kembali menjadi tersangka perampokan bank dalam radius 48 kilometer. Nama panggilan yang unik itu membuat warga-warga khawatir dan mengira-ngira di mana selanjutnya dia akan merampok. "Untungnya, selama 11 perampokan, tidak ada satupun penembakkan. Meski demikian, kami merasa hanya perkara waktu hingga akhirnya seseorang terluka," kata agen FBI Christian Zajac saat konferensi pers. Saat itu dia mengimbau publik agar membantu mengidentifikasi pelaku perampokan yang diduga "membaur di sekitar kita." Pada 20 April, tersangka Bandit Topi Jerami akhirnya ditetapkan. Departemen Kehakiman AS mengumumkan bahwa Richard Boyle, 57 tahun—pemilik bisnis fotografi udara yang keluar dari rumahnya di Patriots Ridge di daerah Plumstead Township—telah diindikasikan juri atas perampokan selama empat tahun sejumlah mendekati setengah juta dolar AS. Ketika kru TV lokal mengunjungi townhouse Boyle, beberapa tetangga kaget bahwa kriminal kelas kakap bisa tinggal di perumahannya. Mereka ingat pernah berbincang singkat dengan Boyle soal Philadelphia Eagles dan remeh-temeh lainnya. Namun mereka yang benar-benar mengenal Boyle tidak terlalu kaget. Bagaimanapun, ini bukanlah aksi perdananya. Menurut dokumen-dokumen persidangan, riwayat kriminal Boyle bermula pada 2007, ketika dia ditangkap di Pennsylvania barat karena mencuri tas seorang perempuan sembari bekerja sebagai fotografer pada sebuah upacara wisuda, lalu menggunakan kartu kredit perempuan itu untuk membeli merchandise senilai ratusan dolar, yang membuatnya kemudian ditangkap.
Pada 4 Maret tahun itu, Boyle berjalan memasuki bank lima kilometer dari rumahnya dan—tanpa pistol ataupun topeng—dengan sopan meminta teller memberikan uang tunai, ujar jaksa. Dia kabur dengan uang hampir USD 3,500 (sekitar Rp46 juta). Sembilan bulan selanjutnya, dia merampok tujuh bank lain, berjarak tidak lebih jauh dari 41 kilometer dari tempat tinggalnya, dan dengan cara yang sama. Jarahan terbesarnya berjumlah USD 38,000 (sekitar Rp506 juta), satu hari setelah Natal. Namun, aksinya setelah itu adalah yang terakhir, setidaknya untuk beberapa saat. Pada 12 Februari 2008, para saksi mencatat plat mobil BMW yang dikendarai Boyle untuk kabur dari bank di Bucks County dengan uang tunai USD 11,000 (sekitar Rp146 ribu), dan dia ditangkap tak berapa lama di hari yang sama.

"Perampokan bank pada beragam jurisdiksi FBI sebetulnya bukan prioritas; bahkan mungkin menjadi perkara paling tidak diprioritaskan yang diurus FBI."

Boyle mengaku telah melakukan delapan perampokan dan meraup lebih dari $100.000 (sekitar Rp1,3 Miliar). Namun, meski catatan kejahatannya lumayan panjang. Kasus Boyle hanya diproses di pengadilan lokal, alih-alih pengadilan federal. Boyle—yang mengaku bersalah atas 24 tindak kejahatan dan dituntut 160 tahun penjara—divonis tiga setengah tahun mendekam dalam penjara negara bagian. Hakim yang memberikan vonis tersebut mengaku putusan tergolong ringan. Sang hakim menyaksikan sendiri Boyle meminta maaf sambil terisak kepada keluarga para korban dalam sidang pembacaan putusan hakim. Permintaan maaf ini dibuat oleh Boyle salah satunya lantaran Boyle tidak menggunakan senjata api saat merampok, seperti yang dilansir beberapa surat kabar setempat waktu itu.
Pada bulan Agustus 2011, Boyle dibebaskan dari penjara, beberapa bulan setelah mengaku pada parole board bahwa "saya merampok bank pertama kali karena takut kehilangan rumah. Tapi, aku yakin sekali kasus perampokan itu umumnya dilatarbelakangi kemalasan dan ketamakan."

Lantaran dihantui restitusi sebesar US$100.000 (setara Rp1,3 miliar) dari bank yang dia rampok dan tercancam diusir dari rumahnya pada bulan Mei 2012 karena menunggak iuran rumah sebesar $9.000 seperti yang diungkap oleh Jaksa pada tanggal 8 Juni 2012, Boyle mengenakan topeng, topi jerami dan kembali ke pelukan dunia kriminal. Boyle merampok sebuah bank 22 km dari rumahnya dan menggondol uang senilai US$50.000 (setara Rp665 juta).

Sosok Bandit Topi Jerami tertangkap kamera CCTV. Foto oleh FBI.