skateboard

Geliat Anak Muda Bali Membangun Kancah Skate dari Nol

Pulau Dewata seakan kembali ke era saat budaya skateboard lahir di "Dogtown" California.
11.2.17

Bali tak pernah dirancang untuk bermain skateboard. Pemerintah Pronvinsi dan Kabupaten Bali hanya pernah membangun dua skate park. Sementara jalanan di Bali tak bisa digunakan untuk skating karena sering macet dan penuh lubang. Jadi, ketika skateboard berkembang pesat seperti sekarang, para pecinta skate harus membangun arena sendiri dan berjuang lebih keras. Kisah tentang kancah skateboard di Bali adalah tentang keajaiban-keajaiban kecil dan kemenangan.

Iklan

Foto-foto di bawah ini diambil oleh fotografer skateboard kenamaan Batax. Foto-foto ini diambil dari berbagai kawasan di Bali. Kamu bisa follow Instagram Batax di sini .

Semua bermula berkat Julian Bergougnoux, pria asal Perancis, yang membangun bowl (arena skate berbentuk cekung) pertama di Bali. Julian pertama menginjakkan kakinya untuk pertama kali di Bali pada tahun 1998. Kala itu, dia berusaha mencari kontak yang bisa memproduksi pakaian untuk label clotingmilikya dengan harga murah.

Sejatinya, label pakaian Julian waktu itu juga belum ada apa-apanya—dia cuma berjualan barang-barang di garasi rumahnya. Tenyata, dalam pengembaraannya ke Bali, Julian bertemu seorang perempuan yang kelak jadi istrinya. Setelah itu, Julian memantapkan diri bermukim di Bali. Tujuh tahun kemudian, dia menuangkan sendiri semen untuk membangun skatepark pertama di Pulau Dewata.

Ketika pertama kali berada di Bali, Julian belum melihat banyak skater berkeliaran di seputaran Denpasar. "Awalnya, cuma ada skating di jalanan di atas lintasan buatan dan pembatas jalan. Mereka biasanya langsung bermain di tempat parkir atau jalanan yang sepi…keren banget sih waktu itu. Daripada engga ada sama sekali lah."

Barulah pada 2005, Julian bersama beberapa teman memutuskan membangun bowl dengan diameter 1,2 meter di belakang rumah. Julian mengakui mulai bosan bermain skate di beberapa taman dan jalanan Denpasar. Belum terlintas dalam otak Julian untuk mengubah bowl itu menjadi skatepark umum. Meski begitu, bowl itu toh tetap saja jadi "teman main anak-anak di lingkungannya." Biarpun belum dibuka untuk umum, tak ada pagar yang melingkari lokasi. Dan, Julian memang menyambut dengan gembira siapa pun yang mau datang dan bermain skate.

Lambat laun, bowl di belakang rumah Julian diperluas dua kali. Julian membangun Hotel Eat Sleep Skate yang menempel tepat di samping bowl, sebuah bar mungil dan restoran yang dilengkapi oven pizza. Julian mematok tiket masuk murah bagi mereka yang datang berkunjung. Bahkan, ada kru lokal yang bisa bermain skateboard gratis di sana.

Di saat Julian membangun bowl di belakang rumahnya, Afandy Dharma tengah berjuang mendirikan Motion Skateboards, yang kini jadi brand skateboard terbesar di Bali. "Saya baru membeli 10 papan skate dari Cina dan menjualnya ke beberapa teman. Lalu saya beli 20 lagi, terus 20, dan akhirnya saya mulai bikin papan sendiri," ujar Afandy. Pada 2007, Afandy membuka Motion Skateshop dan jadi suplier mayoritas papan skate di kancah skateboard Bali. Saat itu, tempat skating yang keren di bali ada tiga: bowl di belakang rumah Julian, Globe bowl di Jimbaran, dan arena skate DIY di Simpang Saur.

Tahun 2012, Pemda Bali menghancurkan skate park di Simpang Siur, menggunakan lahannya untuk memperluas Sunset Road. Tak ayal, para skater yang tinggal di daerah itu tak punya lintasan yang bisa dipakai bermain. Beruntung, ada Afandy yang rela menginvestasikan sejumlah uang yang didapat dari menjalankan Motion Skateshop untuk membangun skatepark dalam ruangan. Afandy menyewa sebuah lahan di kawasan Kuta dan membangun sebuah gudang besar dengan sebuan lintasan berlantai tripleks di dalamnya.

Iklan

Saat ini, Motion masih masih tetap jadi unit bisnis yang menguntungkan—motion kini tak cuma sebuah toko skateboard, tapi juga kontraktor bagi pelaku bisnis lain yang ingin membuat skatapark. Dan meski benih kancah skateboard di Bali sudah mulai tumbuh dari dekade 90-an, ledakannya baru terasa dua tahun belakangan. Menurut Afandy, ini ada hubungannya dengan kesuksesan Pretty Poison, sebuah venue yang namanya terus menanjak belakangan. Maree, sang pemilik Pretty Poison, mendeskripisikan kafenya sebagai "sebuah art bar kreatif yang dilengkapi dengan pool skateboard gaya California untuk bersenang-senang."

Terletak di antara hamparan sawah, Pretty Poison adalah venue satu ruang dengan tembok semen polos, Bir Bintang murah, dan bowl paling menantang yang ada di Bali saat ini. Pretty Poison bahkan berani menyewa tiga skater—Sukma, Pipping dan Donny—untuk unjuk kemampuan  di bowl itu tiga kali seminggu. Di samping itu, beberapa skater asing juga kerap mampir, menyuguhkan kebolehan mereka dengan imbalan suguhan bir cuma-cuma. Setiap malam, ketika Pretty Poison tengah menggelar pesta, pengunjung dipastikan berjubel. Sekadar melongok apa yang terjadi jadi dalam bowl bukan perkara mudah, apalagi dengan kerumunan pengunjung yang datang untuk menenggak minuman beralkohol dan menonton aksi para skater.

Maree adalah ibu paruh baya dari seorang putra bernama Bondi. Maree terhitung cukup berani mendobrak tabu yang mengatakan haram hukum menjalankan usaha yang bersangkutan dengan skateboard jika anda bukan pemain skateboard. "Saya tidak menerima tawaran wawancara," ujarnya, saat saya pertama kali menemuinya. "Pretty Poinson bukan tentang saya, tempat ini justru tentang mereka yang bermain skate."

Iklan

Untungnya, Maree akhirnya luluh. Dia bersedia ngobrol sebentar dengan saya. Maree segera bercerita penuh semangat tentang sejarah awal Pretty Poison, rasa hormatnya terhadap generasi muda Bali, dan semua hal yang sejauh ini dia pelajari tentang skateboard. Bowl yang ada di Pretty Poison, kata Maree, adalah replika dari kolam renang kosong di film legendaris Lords of Dogtown.

"Jadi, anda harus tahu, awalnya saya tak tahu apa yang akan saya hadapi," ujar Maree. "Saya tak sadar apa yang saya buat bakal jadi sebesar ini." Memang, untuk sebuah tempat yang berumur satu tahun, Pretty Poison termasuk sangat sukses. Bukan hanya sebagai unit bisnis, namun juga dalam usaha membuat skateboard menjadi tontonan yang menyenangkan untuk semua orang.

Afandy mengatakan bahwa Maree dengan Pretty Poison-nya telah berhasil membawa popularitas skateboard ke tingkat yang lebih tinggi di Bali. "Awalnya, saat kami sedang membangun bowl, Maree sudah tahu apa yang hendak dia buat," jelas Afandy. "Aku bilang ke dia 'anak-anak sini cuma main skate di lintasan yang biasa saja lho'. Maree menimpalinya dengan bilang 'Ah bodo amat, aku bakal membuat bowl yang keren dan susah buat main Skate."

Hasilnya bisa saja tak seperti yang Maree harapkan. Untungnya, ada sekelompok pecinta skateboard, dari kancah lokal atau internasional, merasa tertantang melihat bentuk bowl Pretty Poison yang terbilang rumit. Afandy meyakini itulah kunci sukses perkembangan pesat budaya skateboard di Bali dua tahun belakangan. "Salut untuk Maree, dia membangunnya seperti apa yang dia mau. Menurutku, semua skater yang sudah melihat Pretty Poison akan langsung gatal ini ingin menjajal kerumitannya."

Follow Nat di Twitter. Semua foto di artikel ini oleh Batax