The Road

Siasat Paradise Youth Club Membangun Imperium Streetwear di Indonesia

Clothing line berbasis di Jakarta yang berdiri empat tahun lalu ini berhasil menembus pasar global, padahal usaha sejenis berguguran. Berikut cara mereka membangun identitas lewat tema psikedelia dan utopia.
Semua foto dari arsip Paradise Youth Club.

Industri fesyen tak akan berhenti bergeliat. Selama ada anak muda yang terus bersemangat dan tak berhenti bereksplorasi, industri fesyen tak akan pernah mati. Tentu saja untuk bertahan dalam dunia fesyen adalah persoalan lain. Ketika tren fast fashion milik perusahaan besar asing menggempur pusat-pusat perbelanjaan dengan baliho raksasa dan model yang terus mengikuti tren, usaha pakaian lokal skala kecil kudu pintar memutar otak.

Iklan

Masih ingat bagaimana di awal 2000 hingga 2007, usaha clothing rumahan berjuluk distro begitu menjamur sampai ke pelosok daerah. Sayang, perlahan tapi pasti, hanya segelintir saja yang sampai sekarang bertahan mengikuti permintaan anak muda yang dinamis. Sisanya harus menghadapi kenyataan pahit: bangkrut.

Empat anak muda asal Jakarta, Andri Hasibuan, Fritz Yonathan, Vincentius Aditya, dan Hendrick Setioadithyo rupanya tak takut merespons kenyataan kerasnya bisnis fashion. Berbekal kreativitas yang membuncah, mereka penuh percaya diri meluncurkan lini pakaian anak muda Paradise Youth Club empat tahun lalu. Keempatnya memadukan segala unsur streetwear dan budaya anak muda dalam berbagai produk seperti kaos, jaket, topi dan kemeja. Berkat kerja keras mereka, kini Paradise Youth Club rutin berkolaborasi dengan brand luar, masuk dalam publikasi hypebeast, hingga menjadi salah satu brand yang dianggap cult di lanskap streetwear Indonesia.

Kepada VICE Indonesia, keempat sahabat itu bercerita soal konsep perusahaan mereka, suka duka menjalankan bisnis pakaian dengan berbagai hambatannya, dan bagaimana mereka akhirnya sukses membangun rasa percaya diri menembus pasar streetwear global.

VICE Indonesia: Halo. Buat yang belum akrab sama Paradise Youth Club, bisa diceritakan kapan dan bagaimana kalian memutuskan membuat bisnis pakaian?
Adit: Ceritanya di akhir 2014 gue dan Fritz memutuskan pengen bikin sesuatu yang sesuai dengan passion kita dan karena kita berdua juga sekantor di perusahaan retail. Lalu sebelum kita mulai jalan kita ajak Hendrick buat handle marketing-distribusi, sementara Fritz handle produksi dan gue yang mengembangkan konsep dan desain. Andri kemudian gabung karena ternyata kita butuh banget bantuan di sisi merchandising dan detail-detail pendataan lainnya. Andri: Kebetulan kita berempat kerja di kantor yang sama dulu dan punya visi yang sama dengan specialty-nya masing-masing, makanya kita bisa klop ngerjain ini. Alasan kenapa memutuskan bikin brand sendiri karena selama ini kita kerja nge-desain, membuat dan ngurusin brand yang enggak kita suka, tapi justru permintaan pasar ada. Itu pemicu awal kenapa pengin punya usaha dan brand sendiri, bikin sesuatu yang emang karena kami suka dan bisa kami pakai sendiri. Dan buat kami ini titik di mana kami enggak perlu melakukan market research, enggak perlu approval buat desain sebelum produksi. Kalaupun butuh approval dan kompromi itu antara kami berempat saja.

Iklan

Apa tantangan terbesar dalam industri fashion di Indonesia? Karena kita tahu bisnis fashion berbasis online juga harus menghadapi banyak pelanggan rese' dan sejenisnya
Fritz: Sourcing material bagus agak sulit pada awalnya. Adit: Support dari local customer-nya sendiri kurang, karena mungkin menurut mereka produk lokal enggak sebagus internasional. Andri: Kalo dibilang rese' ya kita sih engga begitu terpengaruh ya, karena gue dan Hendrick yang handle sendiri customer dan shipping, dan yang aneh-aneh walaupun ada tapi engga sebanyak itu, 1 berbanding 20 mungkin. Hendrick: Lagian customer kan kasarnya adalah “raja” nya, selama enggak ribet pasti kita masih ladenin kok.

Koleksi S/S 2018 kalian diberi judul Utopian Frequency, seperti apa konsep dalam lini koleksi ini?
Adit: Konsep ini lahir dari obrolan kita bareng-bareng tentang kolaborasi dan komunikasi kita selama ini ke beberapa partner internasional kita. Walaupun kami punya segudang perbedaan, kayak budaya dan bahasa, tapi ada kok hal yang ngebuat kita ada di frekuensi yang sama, mulai dari musik, desain, dan cara having fun. Mungkin terkesan mimpi utopis, tapi lebih ke pemikiran bahwa ada kok hal-hal yang bikin kita sejalan walau banyak yang pada dasarnya berbeda total.

Kalian belakangan sukses berkolaborasi dengan brand mancanegara, seperti Jungles dan PRMTVO. Bagaimana awalnya kalian membangun koneksi?
Andri: Instagram sendiri banyak banget ngebantu kita buat ngebuka channel internasional. Dari mulai kolaborasi, kerja bareng fotografer luar, sampai ke penjualan. Contohnya tema koleksi terbaru kami, media sosial jadi semacam jembatan buat frekuensi kita yang sebenernya beda-beda. Brand yang kolaborasi sama kami baru tiga. Jungles asal Australia, karena kami ngerasa secara desain grafis kami punya kesukaan sama. Kalau PRMTVO asal Amerika kolaborasi secara enggak sengaja. Waktu itu mereka datang ke Indonesia, terus sempet mau ketemuan dan akhirnya kolaborasi. Sementara dengan Alpha Industries ada faktor keberuntungan juga sih. Jadi principal Alpha Industries ngelihat produk kita di Korea dan akhirnya mereka ngajak kita kolaborasi untuk project-nya bertema “Hero of Alpha Industries” yang mengangkat daily heroes. Kalau pahlawan itu enggak melulu soal perang.

Iklan

Ada kolaborasi juga sama brand militer Alpha Industries, tapi sayang enggak ada di Indonesia, cuma ada di Korea. Kenapa bisa begitu?
Fritz: Karena jaket MA-1-nya Alpha Industries itu masuk winter collection sebetulnya. Jadi sangat engga cocok buat iklim di Indonesia. Setelah kita coba sample-nya di sini pun cukup panas. Tapi kebetulan di luar sana (Korea) yang ada winternya, jadi pas banget buat kolaborasi.

Andri: Juga ada concern di soal harga jaketnya juga, karena pajak bea cukai kita yang sangat mahal, harga jualnya juga bakal jadi naik jauh di sini.

Koleksi terbaru ini nantinya masih didominasi kaos, jaket, kemeja, crewneck, menurut kalian apa yang membuat koleksi ini berbeda dari koleksi sebelumnya?
Adit: Yang jelas konsep koleksi ini lebih lebar lah, kita sudah mulai menerapkan bentuk-bentuk baru dari yang basic-nya hanya kaos, crewneck, dan topi. Fritz: Sekarang kami ada kemeja, celana panjang dan pendek. Andri: Ke depannya akan banyak lagi tipe pakaian lainnya. Hendrick: Koleksi ini juga punya fitting pakaian yang kami naikan, agak sedkit lebih besar atau oversized.

Secara grafis PYC kayaknya banyak mengangkat psikedelia, drugs, perang, dan utopia. Apakah konsep desain ini memang benang merah yang ingin diangkat? Atau ada filosofi lainnya?
Adit: Sebetulnya tema-tema ini kita angkat karena emang sesuai aja dengan karakter kita masing-masing. Contoh ada koleksi kita di awal 2017 judulnya Mind Benders, kebanyakan orang-orang mikirnya itu hanya tentang drugs, padahal Mind Benders itu juga mengangkat keberadaan media modern, yang sering banget nge-feed audience nya dengan judul menarik sekedar untuk pancingan saja, tapi kontennya sebenernya enggak ada.

Iklan

Bertahan di industri fashion indonesia pastinya gampang-gampang susah. Banyak brand datang dan pergi dan akhirnya dilupakan. Bagaimana cara bertahan di tengah kerasnya persaingan?
Andri: Kami terus coba perbaikin kualitas kita agar lebih baik.

Hendrick: Mempertahankan koneksi yang baik dan komunikasi dengan customer ataupun stockist kita.


Seri 'The Road' adalah hasil kolaborasi VICE X Tokopedia menghadirkan profil orang-orang yang sekilas biasa, tapi berani mengejar mimpi, melawan keraguan, dan berbagai hambatan sampai akhirnya sukses memulai, berproses, hingga menjadi hebat di bidang masing-masing. #MulaiAjaDulu