Seni Telah Merevolusi Festival Musik Masa Kini
Matthew Schreiber, Crossbow, 2016. Foto dari arsip pribadi seniman.
Seni Rupa

Seni Telah Merevolusi Festival Musik Masa Kini

Karya visual digital interaktif menyusup dan berbagi panggung dengan pertunjukan musik di berbagai negara. Menurut kalian, tren ini bagus buat pertunjukan musik atau justru mengganggu konsentrasi?
02 Agustus 2018, 8:08am

Di kebanyakan festival musik, seni visual antara tak ada sama sekali atau cuma muncul seadanya saja, Namun, seiring makin banyaknya festival musik, kesempatan untuk mencoba konteks visual yang baru makin terbuka. Seniman Houston, Omar Afra memanfaatkan kesempatan dengan menyelenggarakan festivalnya sendiri yang diberi nama Day for Night Festival pada 2015.

"Tujuannya adalah mengawinkan seni rupa dan musik hingga keduanya tak bisa dibedakan lagi," kata Afra kepada GARAGE.

(Afra juga merupakan pendiri Free Press Summer Fest dan Free Press Summer Fest yang baru-baru ini diluncurkan kembali sebagai In Bloom Music Festival).

"Dengan menggabungkan seni dalam bentuk media baru, kami berhasil menciptakan pengalaman yang unik," imbuhnya, merujuk poda fokus Day For Night pada karya-karya yang menggunakan teknologi baru untuk memanipulasi suara, cahaya dan ruang.

Hovver, Liminal Scope, 2017. Arsip milik Hovver

Felicie D'Estienne D'Orves, Satori, 2011. Foto dari arsip Felicie D'Estienne D'Orves

Sejak 2015 sampai sekarang, karya-karya yang terjalin dari musik dan seni visual dalam Day For Night dikurasi oleh Alex Czetwertynski. Adapun, pengarah kreatif dalam festival ini dipercayakan kepada Kiffer Keegan dari Studio Work-Order, New York. Tahun lalu, Björk menampilkan dua set "digital" dan memanggungkan pertunjukan VR sejumlah videoklipnya, sementara Philip Glass malah manggung di tengah sebuah pameran.

Seniman-seniman seperti Nanotak, Tundra dan Jesse Kanda membuat pengunjung festival berdecak karya instalasi experimental mereka yang disisip di antara panggung-panggung pertunjukan musik.

Kyle McDonald & Jonas Jongejan, Light Leaks, 2013. Foto dari arsip pribadi

Ryoichi Kurokawa, Octfalls, 2011. Foto dari arsip Ryoichi Kurokawa

"Salah satu hal yang paling keren dari festival ini adalah penonton datang sudah dengan kesiapan menikmati karya-karya yang ditampilkan, mereka ingin merasakan sesuatu yang secara emosional sangat kuat," tegas Czetwertynski, yang mengurasi dan merancang rencana denah festival Day for Night. Seperti Afra, Czetwertynski punya pengalaman panjang bekerja dalam pergelaran-pergelaran musik serta percaya bahwa pelibatan seni visual akan membuat Day for Night menonjol dari festival-festival musik sejenisnya.

"Kami sadar bahwa kami punya kesempatan luar biasa untuk memamerkan karya-karya yang sebelumnya tak bisa dinikmati orang di luar museum atau galeri," katanya.


Tonton dokumenter VICE soal bakat-bakat baru musik Indonesia:


Pada 2017, mayoritas karya seni yang ditampilkan punya referensi pada lokasi geografis tertentu. Karya Lina Dib, Ryoichi Kurokawa, dan The Mill merujuk pada lokasi Houston yang dekat laut dan kehancuran yang disebabkan badai Harvey musim panas lalu. Menurut Czetwertynski, susunan program Day For Night difinalisasi sebelum dan sesudah badai Harvey berkecamuk, makanya sejumlah karya mengangkat kaitan sebuah masyarakat pada alam dan bencana alam dengan sangat eksplisit.

Ryoji Ikeda, supercodex [live set], 2013. Foto dari arsip pribadi

Sam Cannon, Overflow, 2017. Foto dari arsip Sam Cannon

Dib., yang pernah tampil dalam Whitney Biennial, menyuguhkan sebuah instalasi video interaktif berjudul Threshold yang menampilkan ombak di lautan yang bergerak pelan atau sebaliknya tergantung sedekat apa pengunjung pada karya instalasi tersebut. “Karya ini merespon usaha konyol kita untuk melawan alam dan anggapan bahwa kita bisa mengontrol alam yang begitu besar ini,” jelas Dib. "Threshold adalah sebuah penghormatan sekaligus meditasi kekhususan sebuah tempat dan hubungan kita dengan cara alam bekerja.”

Eksperimen The Mill menggunakan visual augmented reality visualization berjudul UPROAR menggambarkan kekuatan sebuah badai dan memanfaatkan tagar #HoustonStrong untuk mensimulasikan palang yang diciptakan manusia sebagai perlindungan dari bencana alam. "UPROAR adalah sebuah penghormatan kepada kegigihan warga Houston menghadapi kehancuran yang ditinggalkan Badai Harbey," kata The Mill.

"Karya kami berusaha menghormati solidaritas sebuah komunitas dalam proses pemulihan pasca sebuah bencana terjad."

Karya Kurokawa, Octfalls, yang pertama kali dipamerkan Venice Biennale, juga sama reaktifnya. Kurokawa menggunakan delapan layar yang tersinkronisasi untuk menunjukan gerakan molekul—yang bergerak berdasarkan koreografi tertentu—diiringi deburan air.

James Clar, The New Sublime (rendering), 2017. Foto dari arsip James Clar

Vincent Moon & Priscilla Telmon, Hybridos, 2017. Foto dari arsip pribadi

Di tahun-tahun sebelumnya, program Day for Night sangat ramai dibicarakan di media sosial, meski demikian Czetwertynski menyarankan siapapun untuk datang sendiri ke lokasi festival untuk mendapatkan pengalaman yang unik dan spesifik: "Susah menggambarkan sensasi berada dalam lokasi pameran dan menikmati berbagai karya-karya instalasi ini bersama pengunjung lainnya. Kalian akan merasakan gabungan rasa kagum, penasaran dan keriangan."

Artikel ini pertama kali tayang di GARAGE