Perubahan Iklim

Muncul Kata Baru Buat Menggambarkan Planet Bumi di Ambang Kehancuran

Perubahan iklim sebenarnya buruk, tapi kita tidak pernah benar-benar tahu seberapa buruk. Istilah baru ini bisa membantu manusia menyadari betapa bahayanya kerusakan planet kita.
17.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE magazine edisi Maret. Klik tautan ini untuk berlangganan.

Anggaplah ada kawan bilang kiamat sudah dekat. "Tapi engga tahu juga sih kapan," ujarnya. "Skenario terburuknya? Ya, mungkin 100 tahun lagi Planet Bumi sudah tidak ada lagi." Lantas, apa yang akan kamu lakukan? Meninggalkan kota dan mencari ketenangan di pondok kayu dalam hutan? Membangun kapsul waktu untuk cucu-cucumu yang belum lahir? Atau, kamu akan tetap menjalani keseharian dan mencoba melupakan bahwa suatu hari di masa depan yang cukup dekat, tidak ada lagi kopi karena tidak ada tumbuhan, atau bahkan manusia. Kita sudah sering dengar soal perubahan iklim. Kita tahu perubahan iklim itu buruk, tapi kita tidak benar-benar tahu seberapa buruk. Para ilmuwan menjelaskan berkali-kali kondisinya buruk, tapi mereka juga tidak terlalu yakin. Akhirnya kita (orang-orang yang ngeh dan ngeri bahwa bumi akan segera hancur tapi tidak yakin bisa berbuat apa) kesulitan meyakinkan orang-orang yang tidak percaya bahwa perubahan iklim nyata banget. Banget. Sebuah laporan terakhir dari Yale Program on Climate Communication menemukan bahwa, meski 61 persen warga Amerika secara pribadi menganggap isu perubahan iklim penting, 67 persen warga Amerika "jarang" atau "tidak pernah" mendiskusikannya dengan keluarga dan kawan-kawan mereka. Hal ini terjadi karena kita takut dikucilkan jika mulai membicarakan isu lingkungan, menurut psikoanalis Sally Weintrobe yang delapan tahun terakhir menulis relasi emosional manusia dengan perubahan iklim. Menurut Weintrobe, "budaya dominan kita secara aktif bekerja untuk mendelegitimasi kesedihan kita. Budaya dominan ini mendorong kita untuk menyangkal, menyalahkan orang lain, dan terus-menerus marah; tahapan-tahapan awal di proses berduka," ujarnya. "Karena kita merasa sedih atas apa yang terjadi, itu adalah emosi yang amat manjur. Kita terhubung dengan bagian diri kita yang peduli." Fenomena ini juga telah dideskripsikan sebagai "spiral kesunyian"—sebuah teori Jerman pasca-Holocaust yang berkata bahwa saksi atau pengamat tidak melakukan apa-apa karena itulah norma sosial yang ada. Heidi Quante dan Alicia Escott memiliki teori lain. Kita tidak membicarakan perubahan iklim karena kita tidak punya kata-kata yang tepat untuk membicarakannya. Perubahan iklim bukan kiamat; melainkan semacam orang asing tidak jelas. Nah, kita masih mengira-ngira apakah lebih baik membunuh atau berkawan dengan si orang asing ini. Yang jelas, kita membutuhkan bahasa baru yang khusus untuk monster ini sebelum kita bisa mengukur cara-cara mengatasinya. Kira-kira dua tahun lalu, Quante dan Escott mendirikan apa yang mereka sebut sebagai Bureau of Linguistical Reality, sebuah agensi yang mendaftarkan kata-kata baru untuk menggambarkan perubahan iklim dan dampak tragisnya. Sejak 2015, para seniman ini telah menjalankan apa yang mereka sebut "penelitian lapangan" di AS dan Eropa—acara-acara yang terbuka untuk publik di mana mereka mengundang orang-orang untuk berbagi pengalaman mereka soal perubahan iklim—serta mengelola "salon-salon" untuk menciptakan kata-kata baru yang mulai dapat menjabarkan sisi-sisi dari konsep perubahan iklim yang menyeramkan. "Kita kehabisan kata-kata," ujar Escott.

"Kita tidak membicarakan perubahan iklim karena kita tidak punya kata-kata yang tepat untuk membicarakannya. Perubahan iklim bukan kiamat; melainkan semacam benda asing tidak jelas."

Quante, komunikator iklim yang berpengalaman meyakinkan pemburu dan nelayan Republican bahwa pemanasan global nyata, menggambarkan momen di mana dia dan Escott memulai agensi tersebut di tahun 2014. "Kamu akhirnya bisa pakai dress musim panas di bulan Januari—badanmu mungkin gembira, tapi pikiranmu tahu bahwa ini parah banget dan tidak seharusnya terjadi," ujar dia. "Kita mikir, Ya Gusti, harusnya ada istilah untuk itu." Dan akhirnya mereka menciptakannya. "Disonasi korpus psikis," yang berarti kenikmatan tubuh karena cuaca hangat sekaligus khawatir soal pola iklim yang salah. Escott bilang dia "cukup lega" ketika dia dan Heidi menemukan bahwa mereka memiliki perasaan-perasaan sama yang tidak ada namanya. "Kita sadar begitu banyak orang merasakan hal yang sama tapi terisolasi," ujarnya. Kata-kata yang sudah ada seperti "Anthropocene" (periode yang disebabkan oleh kehadiran manusia) dan "solastalgia" (keresahan yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan) amat menginspirasi mereka berdua. Selain kata-kata tersebut, ada "kelangkaan" kosakata. Dicetuskan oleh filsuf lingkungan Glenn Albrecht di tahun 2003, "solastalgia" pertama kali digunakan untuk menggabarkan keputusasaan emosional orang-orang yang hidup berdekatan dengan pertambangan batubara terbuka di Australia—sejenis nostalgia yang terjadi ketika orang-orang "menetap" di bumi sambil menyaksikan bumi perlahan-lahan keropos. "Mereka mengisahkan cerita yang sama terus-menerus," ujar Albrecht. "Mereka adalah orang-orang desa, yang menikmati langit cerah yang indah, bintang-bintang di kala malam, kicauan burung, dan sungai-sungai jernih… setiap aspek kehidupan yang mereka hargai perlahan-lahan direnggut oleh industri raksasa." Sebelumnya tidak ada kata dalam Bahasa Inggris mendeskripsikan kepedihan macam itu. Lembaga mereka menyadari betapa sulitnya memasukkan kata-kata baru ke dalam kamus (atau bahkan komunikasi sehari-hari), sehingga mereka berkata bahwa bahasa itu sendiri bukanlah tujuan akhirnya. Pencetus istilah ini hanya ingin orang-orang mulai memikirkan, dan yang terpenting, membicarakan perubahan iklim. Idealnya, semua orang perlu berhenti sejenak berhenti mengkhawatirkan aspek ilmiah dan tindakan-tindakan yang bisa dilakukan (atau tidak bisa dilakukan), dan mulai meresapi apa yang kita rasakan soal kerusakan lingkungan. "Seringkali kami jadi orang pertama yang akan bilang, 'Ceritakan apa yang kamu rasakan soal perubahan iklim,'" ujar Quante. "Kita sering mendampingi orang-orang yang kemudian menangis dan berkata, 'Belum ada yang menanyakan apa yang saya rasakan.'"