ramadan

Mixtape Ramadan ala VICE

Kalian merindukan ramadan yang sebentar lagi berakhir? Kami memberi tawaran lagu-lagu yang bisa mengingatkan kalian pada bulan puasa kapanpun dibutuhkan.
22.6.17
Ilustrasi oleh Bambang Noer Ramadan.

Lagu-lagu reliji selama ramadan atau lebaran berpeluang bikin para pecinta musik batal puasa. Setiap mendengar lagu reliji yang beredar dalam bulan suci ini, saya jadi gampang keki dan ingin mendatangi si penyanyi sambil bilang: "bung dan nona boleh pensiun aja, makasih!"

Ada beberapa alasan yang kerap bikin saya gatal berkomentar negatif tentang lagu-lagu religi Ramadan. Pertama, playlist lagu rohani Ramadan di Indonesia begitu stagnan, sampai mungkin perlu dibikinkan simposium nasional "Quo Vadis Lagu Religi Islam Indonesia?" Apa buktinya stagnan? Dari zaman saya masih anak SD ingusan sampai usia saya lewat kepala tiga, playlist Ramadan berkutat di satu nama ini: Bimbo.

Iklan

Di mall, rumah tetangga, restoran, masjid-masjid dekat rumah, playlist ramadan dipastikan didominasi nomor-nomor dari grup folk tuir Bimbo (yang sudah ribuan kali saya dengar). Belakangan, daftarnya nambah panjang dengan masuknya Ungu dan Gigi. Tapi toh, kita tahu, membicarakan kualitas lagu Ungu semacam kemubaziran. Sementara Gigi lebih sering mengulang lagu-lagu rohani Islam lama dan hasilnya pun standar.

Kedua, lagu-lagu rohani Islam yang tersedia lebih doyan menyigi topik-topik "agung" tapi abai menyentuh permasalahan kekinian, entah itu yang serius ataupun sepele. Saya—sebagai seorang self-proclaimed hipster—mendambakan lagu-lagu rohani yang membela kaum minoritas seperti umat syiah dan ahmadiyah atau lagu yang bicara dengan kritis tentang persekusi warung yang buka di siang bolong. Tapi, kalau harapan saya terlalu muluk, oke deh, saya turunin. Bagaimana kalau lagu tentang pedihnya sahur dengan mie instan atau sedihnya buka puasa tanpa ditemenin pasangan? Engga ada juga kan.

Iya sih, tahun ini Raffi Achmad dan Gigi (istrinya Raffi bukan bandnya Arman Maulana) serta Ayu Tingting bikin lagu tentang buka puasa. Kualitasnya? Bisa dijabarkan dalam tiga kata: ya gitu deh!

Daripada saya batal puasa karena kedengaran seperti orator demo yang marah-marah ga jelas tentang kualitas lagu religi bernuansa Islam di Indonesia, saya memutuskan mengambil aksi sepihak: bikin mixtape Ramadan sendiri. Saya pilihkan beberapa lagu yang tak punya pretensi menjadi lagu religi tapi—dengan sedikit modifikasi—punya semangat bulan suci Ramadan. Sebab saya yakin hidayah bisa datang dari mana saja. Harapan saya sih lagu-lagu ini bisa menemani sidang pembaca semua mengarungi maupun mengingat indahnya bulan puasa kapanpun dibutuhkan.

Iklan

*NB: mixtape ini baiknya didengarkan lewat ponsel atau laptop pribadi saja. Jangan cari perkara dengan memasangnya di Toa mushola.

Homicide - Siti Jenar Cypher Drive

Aku katakan sabda batu kepada api
Di bawah tanah masih terdapat dataran tak berpijak
Di bawah tanah masih terdapat berlapis–lapis kerak neraka
Sehingga siapapun yang mengklaim dirinya pemimpin bumi adalah pendusta

Kamu enggak bakal nemu anjuran untuk tidak sombong ini dari toa mesjid yang mana pun. Lagu penuh nuansa tassawuf ini tak juga akan diputar di mall selama bulan puasa karena lagu ini adalah salah satu karya Homicide di ujung karirnya, ketika menyisakan Morgue Vanguard dan DJ E saja. Homicide yang pernah berteriak "lari dengan kont*l terbakar"? Yup. Homicide yang harga vinyl secondnya cepat naik harganya itu? benar! Homicide yang kalau ngerap kayak orang marah-marah itu? iyak!

Terus kenapa kok tiba-tiba lirik Homicide jadi dekat dengan Tuhan? Ya ga tahu lah. Namanya juga hikmah datangnya bisa ke siapa saja. Yang jelas, lagu ini layak menggantikan "Sajadah Panjang" milik Bimbo yang sudah keseringan diputar, selayak kita mengganti nama Morque Vanguard menjadi Mochamad Al-Fath-Gard.

Sheila On 7 – Sebuah Kisah Klasik

Selama Ramadan, selain persediaan vitamin dan dompet yang lebih tebal, yang wajib banget kita siapkan matang-matang adalah pasokan kenangan. Entah itu kenangan semasa kuliah, SMA, SMP, SD atau kalau perlu Playgroup. Kita semua mafhum bulan ramadhan sudah setali tiga uang dengan bulan reuni. Tiap akhir pekan pasti ada undangan bukber cum reuni yang mampir ke ponsel. Masalahnya, setiap reuni—dalam hal ini buka bersama—selalu kental dengan cerita pencapaian teman kita. Si anu udah jadi brand manager PT Anu. Mbak itu baru saja pulang dari Nepal dan besok mau melancong (lagi) Timbuktu. Cerita-cerita itu bakal jadi hidangan penutup yang manis…..kalau kita juga sama mujurnya dengan mereka.

Kalau kita belum seberuntung mereka, sabar! Ada dua cara yang bisa kita tempuh. Pertama, kita bisa membela diri dengan berkilah bahwa anggapan tiap orang punya kesempatan sama dalam meraih sukses adalah hoax. Kedua, giring pembicaraan menuju masa lalu karena di sana kita pernah senasib—pernah sama-sama bolos sekolah, pernah sama-sama suka dosen muda atau pernah sama-sama mengemplang bayaran kosan.

Iklan

Saran saya sih, pakai cara kedua saja. Lebih aman karena—seperti apa yang didendangkan Duta—selalu ada kisah klasik (di masa lalu) untuk masa depan.

Tool – Right In Two

Bulan puasa yang biasaya jadi bulan persekusi dan yang jadi korbannya adalah warung yang buka siang hari. Beruntung, tahun ini berita tentang pemilik warung dilabrak di siang bolong tergolong sepi. Dugaan saya, laskar-laskar penggeruduk punya kegiatan lain yang lebih bermakna, kebingungan karena bosnya kabur atau mari kita berbaik sangka, hati mereka sudah adem, seadem ubin mushola.

Tapi, kalau mereka kumat lagi, gampang! kita bisa setel lagu ini karena di dalamnya Maynard James Keynan bilang bikin klaim bahwa kita sudah merasa paling benar, punya kapling di surga dan karenanya boleh mempersekusi mereka yang belum itu konyol

"Don't these talking monkeys know that Eden has enough to go around?" kata Om Maynard. Nyelekit kan?

The Clash – Lost in The Supermarket

Joe Strummer menggubah lagu ini untuk menunjukkan rasa muaknya terhadap komersialisasi yang paling kentara terjadi di Supermarket. Tapi, bagi saya, lagu ini masih relevan banget sampai sekarang. Termasuk ketika kita kebingungan (dan akhirnya tersesat) di mall gara-gara tak kunjung nemu tempat makan yang masih lowong menjelang buka puasa.

Lagian, kalau pun lagu ini memang tentang komersialisasi, harusnya lagu ini jadi makin releban dong. Kita kan tahu, bulan ramadan adalah bulannya komersialisasi (dan komodifikasi agama), eh iya kan?

The Descendents - I Like Foods

Milo Jay Aukerman PhD adalah salah satu anak punk jenius yang kenyang makan bangku sekolahan. Kejeniusannya paling kentara di lagu I Like Foods. Dalam lagu berdurasi 16 detik itu, Milo merapal santapan kesukaannya dengan berapi-api. Di sinilah, letak kejeniusan Milo. Tanpa harus memamerkan kekaguman akan ajaran Islam seperti Lindsay Lohan, Milo dengan mudah mengarang sebuah anthem berbuka puasa bagi seorang yang ketinggalan sahur atau, kalaupun sempat, cuma bisa makan indomie goreng.

Nih liriknya kalau penasaran.

Iklan

Turkey legs and raw fish eyes
Teenage girls, with ketchup too!
Get out of my way, or I'll eat you
I like food, food tastes good!
I like food, food tastes good!
I'm going to turn dining back into eating.

Loh kok kolaknya mana? Plis deh bray, Milo Jay Aukerman Ph.D lahir dan besar di Lomita, California. Enggak ada yang jualan kolak di sana!

Chrisye Feat Achmad Dhani – Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada

Jika Surga dan Neraka Tak Pernah Ada (JSDNTPA) dirilis 13 tahun silam dan langsung jadi salah satu lagu religi yang paling criminally underrated. Padahal nih ya, kalau bener-bener disimak dengan seksama, lagu ini—saya haqul yakin—punya potensi jadi salah satu lagu religi paling keren sepanjang masa.

Baca deh liriknya. Terutama di bagian reffrainnya. Di sana, mendiang Chrisye dan Ahmad Dhani (yang waktu itu belum banyak berulah) berusaha meluruskan niat kita beribadah bray! [ Jika surga dan neraka tak pernah ada/Masihkan kau bersujud kepada-Nya/Jika surga dan neraka tak pernah ada/Masihkah kau menyebut nama-Nya]. Nonjok abis kan. Nah yang bikin lagu ini keren adalah alih-alih dibungkus dengan komposisi rock standar seperti lagu-lagu GIGI atau folk tuir macam Bimbo, JSDNTPA dibangun di atas komposisi trip-hop muram tapi mahal yang tak akan ganjil ditempatkan di album Massive Attack mana pun.

Intinya: Lagu ini keren abis.