Singapura

Singapura Mengalami Problem Akut Penyelundupan Anak Anjing

Anjing rupanya menjadi komoditas menguntungkan bagi penyelundup, gara-gara langkanya jumlah hewan peliharaan itu di Negeri Singa.
Alice .
oleh Alice .
12.6.17
Foto ilustrasi anak anjing oleh Cyril Lookin/ Flickr CC License

Kota Singa punya masalah yang tak disangka-sangka: perdagangan gelap anak anjing.

Petugas imigrasi Singapura terus menggagalkan penyelundupan anak anjing ke dalam Singapura. Seorang lelaki asal Malaysia tertangkap tangan di pos pemeriksaaan imigrasi di Woodland, kawasan dekat perbatasan degan Johor Baru. Guna mengelabui para petugas imigrasi, pelaku memasukkan anak-anak anjing malang—jumlah totalnya 11—dalam tangki bensin palsu.

Iklan

Lelaki asal Malaysia itu digelandang dan menerima hukuman 30 minggu di penjara lantaran berusaha menyelundupkan anak anjing dan bertindak kejam terhadap hewan. Ini adalah kasus termutakhir dari serangkaian penyelundupan anak-anak anjing yang jadi berita utama surat kabar Singapura. Tahun lalu, seorang pria ditangkap ketika tengah berusaha menyelundupkan tiga ekor anak anjing dari pos pemeriksaan imigrasi yang sama. Kali ini, anak-anak anjing itu disembunyikan dalam kotak speaker yang ditempatkan dalam bagasi. Dalam kasus lainnya, seorang lelak lainnya tertangkap tangan hendak menyelundupkan 23 anak anjing lewat kapal pesiar pribadinya.

Lantas, apa yang bikin orang rela mengambil risiko mendekam di penjara hanya untuk menyelundupkan hewan-hewan berwajah manis ini ke Singapura?

Apalagi sih kalau bukan uang. Singapura jauh lebih makmur dari tetangga-tetangganya di kawasan Asia Tenggara. Produk Domestik Bruto per kapita Singapura mencapai angka $52.888 USD (angka ini bakal turun jadi $9.766 USD orang kalau anda berkendaraan lewat jembatan jalan lintas Johar. Mau naik feri ke Indonesia? Boleh! Tapi GDP langsung anjlok jadi $3.346 USD per penduduk).

Penduduk pulau makmur ini rela merogoh dalam-dalam untuk membayar anak anjing karena, apalagi kalau bukan, mereka punya uang untuk melakukan. Harga seekor anak anjing dari Malaysia misalnya naik tiga kali lipat setelah melewati selat Johar dan masuk kawasan Singapura, jelas Richard Yeo, presiden Actions for Singapore Dogs (ASD), lembaga nirlaba yang mendedikasikan diri untuk meningkatkan keselamatan anjing jalanan di Singapura.

Iklan

"Harga seekor anak anjing di Singapura memang sangat tinggi," ujar Yeo pada VICE Indonesia. "Satu anak golden retriever bisa dihargai SGD 500 [Rp4.8 juta] di Thailand atau Malaysia. Anak anjing yang sama bisa dijual dengan harga SGD 2000 [Rp19.2 juta] di Singapore."

Warga Singapura memang memiliki pendapatan yang jauh lebih tinggi dari penduduk negara tetangganya. Namun, di sisi lain, mereka harus rela hidup berhimpitan satu sama lain. Saat ini, tercatat 80,1 persen penduduk Singapura hidup di apartemen HBD yang dibangun oleh pemerintah.

Lalu, kenapa harga anak anjing begitu tinggi di Singapura? Apa Singapura sudah kekurangan stok anak anjing? "Tidak juga," ujar Yeo. "cuma masalahnya, anjing dianggap peliharaan mewah di Singapura. Lantaran sempitnya lahan hidup urban di Singapura, bisa dipastikan pemilik anjing adalah mereka hidup di rumah tapak tanah atau kondominium luas dan mewah. Kebanyakan dari mereka ada ekspatriat bergaji di atas rata-rata yang kebetulan suka anjing. Ini yang membuat para penjual anak anjing menaikkan harga gila-gilaan."

Setiap anjing di negeri singa harus didaftarkan dan diberi nomor microchip oleh Otoritas Pangan dan Hewan Singapura (AVA). anak anjing yang didatangkan dari negara bebas rabies masih perlu melewati masa karantina selama 72 jam sebelum dinyatakan bersih dan diperkenankan berkeliaran di jalanan. Dalam kasus anak anjing ilegal, setelah berhasil melewati perbatasan, tak akan ada yang bisa melacak dari mana anak anjing itu berasal. Pemilik baru dengan sangat mudah mendaftar hewan selundupan itu sebagai anak anjing setempat.

Rupanya, permintaan akan anak anjing ilegal—semahal apapun itu—masih tinggi di Singapura sehinga masih banyak yang rela melanggar hukum dan menggadaikan rasa malunya karena berani menyakiti hewan-hewan tak berdosa. Impor hewan atau burung hidup tanpa izin AVA tergolong tindakan kriminal. Pelaku bisa dikenai hukuman denda maksimal sebesar S$10.,000 dan/atau hukuman satu tahun kurungan.

Denda besar itu memang lumayan bikin gentar. Tapi siapa bisa menolak jika barang selundupannya seimut anak anjing? Masalah lain adalah soal melacak keasilan anak anjing itu. Seperti sudah disebut sebelumnya, ketika masuk ke Singapura, anjing-anjing tadi diasumsikan sebagai anjing lokal. Makin sulit jadinya menaksir seberapa parah tingkat penyelundupan anjing di negara kota tersebut.

Warga asing sekarang mencakup populasi yang cukup besar di Singapura beberapa tahun terakhir. Kemungkinan besar, jumlah anak anjing dari luar negeri juga bertambah tiap tahun tak terkendali.