brit rock

Co-Creator Gorillaz Jamie Hewlett Awalnya Cuma Ingin Bikin Komik, Malah Hasilkan Band Sukses

Sepanjang Kiprahnya selama 25 tahun, dia pernah jadi zinemaker, bekerja di firma periklanan, bikin desain set tayangan anak hingga jadi pencipta personel band fiktif Gorillaz.
1.12.17

Tak banyak yang punya karir semantap Jamie Hewlett. Karir pria ini panjang, penuh cerita dan intens. Sepanjang kiprahnya, Jamie mengalami lonjakan karir dua kali: satu ketika masih belia dan satu lagi di saat umurnya sudah berkepala tiga.

Malah sebenarnya, sepak terjang Jamie selama 25 tahun tak jauh berbeda seperti kisah-kisah sosok tersohor yang punya banyak talenta. Di sepanjang kiprahnya, Hewlett pernah menjadi co-founder sebuah fanzine ketika masih jadi mahasiswa kampus seni, co-creator salah satu seri komik berpengaruh dan arsitek visual sebuah band yang punya nama besar di kancah global. Belum lagi, Jamie dikenal sebagai penulis naskah drama dan skenario film. Namun, perjalanan Hewlettt tak mulus-mulus saja. Ini jelas bukan sesuatu yang mengagetkan mengingat 25 tahun adalah waktu yang panjang. Pasti saja ada rencana-rencana dalam batok kepala Jamie yang berlangsung sesuai rencana.

Iklan

Karir Jamie bermula di sebuah kampus di West Sussex. Pada tahun 1980-an, saat sedang belajar di kota pesisir, Wothing, Hewlett bertemu teman dan calon kolaboratornya di masa depan Alan Martin. Bersama Phil Bond, kedua bakal menerbitkan fanzine Atomtan. “Kami menggambarnya di kampus seni kami, zinenya kami perbanyak di mesin fotokopi kampus dan kami menjualnya seharga 50 Poundsterling ke orang,” kenang Jamie. “Saya sangat menyukai format zine. Punk rock dan garage abis. Yang saya suka dari format itu adalah kita bisa melakukan apa saja dan zine ini jadi milikmu sepenuhnya.” Penciptaan Atomtan dan pertemuan dengan mendiang seniman komik legendaris Brett Ewins di kampus langsung memoncerkan perjalanan karir Jamie: “Kami ajak Ewins minum-minum setelah memberi kuliah di kampus kami dan kami terus berkomunikasi setelahnya,” jelas Jamie. “Beberapa waktu kemudian, Ewins mengontak kami dan mengatakan bahwa dirinya sedang menggagas sebuah majalah bersama [seniman komik] Steven Dillon. Ewins bertanya apakah kami tertarik bekerja dengannya?” Tentu saja, ketiga seniman komik di balik Atomtan langsung setuju dengan tawaran tersebut. “Itu sudah jadi impian saya sejak kecil, membuat buku komik,” kata Jamie. “Waktu saya punya simpanan beberapa gambar karakter perempuan. Saya beri anama ‘ Tank Girl.’ Kami perlihatkan gambar-gambar itu kepada Ewins dan Dillon. Mereka menyukainya. Mereka meminta kami untuk mengubah gambar itu jadi seri komik strip bulanan.” Majalah itu, Deadline, pertama kali terbit pada 1988 dan Tank Girl jadi bacaan favorit dari awal kemunculannya. Saat itu, Margaret Thacther sebentar lagi akan turun dari jabatannya dan anak muda Inggris sedang dalam puncak kekecewaannya. Jadi Rebbeca Buck, karakter utama perempuan agak ngepunk dalam komik tersebut, muncul di masa yang tepat. Dalam waktu singkat, perempuan muda di seluruh dunia merasa terwakili olehnya. “Kami selalu kecewa karena sebagian besar karakter perempuan dalam komik digambar oleh lelaki yang enggak pernah sekalipun ngobrol dengan seorang perempuan,” kata Jamie mengenai pandangannya dan Alan saat Tank Girl pertama kali keluar. “Akhinya, para komikus ini menggambar karakter perempuan berdada besar, tubuhnya penuh lekukan dan pakai kostum yang ketat. Terus, karakter perempuan mereka punya kekuatan super seperti bisa enggak kelihatan, apa bagusnya coba?”
Ide karakter dan arah cerita Tank Girl berasal dari perempuan-perempuan kuat betulan—seorang kawan Jamie di kampus. “Rebbeca Buck terilhami oleh gadis-gadis yang jadi teman kuliah saya dan pernah berbagi apartemen dengan saya,” katanya. “Saya sangat terinspirasi oleh mereka. Saya suka attitude: mereka ganas banget.”

Seiring makin kinclong bintang Tank Girl, karir Jamie juga makin moncer. Tak butuh waktu lama hingga akhirnya semerbak popularitas Tank Girl sampai ke Hollywood. MGM mendekati Jamie cs. dan mengutarakan ketertarikan mereka untuk mengangkat komik itu menjadi film. “Umur kami baru 22 tahun dan tiba-tiba saja kami dapat telepon dari MGM yang bilang ‘Kami suka sekali Tank Girl dan kami ingin membuat sebuah film blockbuster Hollywood’—kami bukan main senangnya mendengarnya.”

Sayangnya, film adaptasi Tank Girl buatan Hollywood itu jauh melenceng dari arah diinginkan oleh Jamie dan Alan. Film yang beredar pada 1995 itu jeblok di pasaran. "MGM cuma memainkan jurus lama: mereka mencari sesuatu yang keren, membelinya dan mengubah
jadi suatu yang lain,” jelas Jamie. “Tapi begitulah kelakuan Hollywood. Kalau MGM mau setiap pada alur cerita asli Tank Girl, kita semua pasti dapat film x-rated. Sayangnya, mereka ingin sebuah film keluarga yang bisa mereka luncurkan dan jadi box office di akhir pekan. Mereka membuat segala esensi—semua bahan penting—dan mengubah Tank Girl jadi sesuatu yang lain.” Setelah Tank Girl hancur lebur dipasaran dan Deadline gulung tikar pada 1995, Jamie seperti kehilangan nafsu menggambar komik. “Saya tak bisa menggambar lagu—padahals saya sudah melakukannya selama sepuluh tahun,” kenang Jamie. “Sudah gitu, saya ogah bekerja bagi Marvel atau DC. saya enggak tertarik komik superhero.” Sebaliknya, dia malah memilih bekerja mendesain set acara anak SMTV: Live – "ujung-ujungnya enggak dipakai sih karena kelewat aneh.” Jamie kemudian mencoba peruntungan di bidang periklanan yang akhirnya dia “benci” dan mengerjakan beberapa ilutrasi untuk beberapa majalah seperti Just Seventeen dan Smash Hits. Khusus yang terakhir ini, Jamie mengingatnya sebagai "kerjaan bego buat dapat duit doang."

Animasi buatan Jamie di opening credit SM:TV Jamie pun mengenang masa itu sebagai tahun-tahun yang liar. "Dari akhir seri Tank Girl, Saya kebingungan seperti ikan yang diambil dari air. Saya mencoba…" Kalimatnya terhenti di tengah jalan. Lalu, memasuki 1998, datanglah Gorillaz. "Damon [Albarn] mulai ngoceh tentang Gorillaz. Bagi saya idenya segar sekali,” Jamie mengingat pembicaraannya dengan Damon. “Setelah keluar dari dunia komik dan ditawari membuat band fiktif, saya langsung bersemangat. Dan ini sudah terjadi selama 18 tahun.” Kisah tentang Gorillaz memang bertebaran di mana-mana tapi tak ruginya kembali mengulang cerita lahir band kartun ini secara singkat: setelah Jamie mewawancarai Blur untuk Deadline, Damon dan dirinya menyewa sebuah flat di London Barat. Suatu saat mereka sedang menonton TV dan sampai pada kesimpulan kalau satu-satunya cara menambal kekurangan dari apa yang mereka tonton adalah bikin band fiktif. Pembagian tugasnya seperti ini: Jamie menggambar anggota bandnya dan Damon menulis musiknya. Hampir 20 tahun setelah itu, Gorillaz tetap moncer dan baru saja masuk nominasi Grammy. Poster orisinil opera kontemporer Monkey. Selain Gorillaz, ada banyak proyek yang sedang dikerjakan Jamie—termasuk pertunjukan teater di akhir dekade 2000-an Monkey: A Journey to the West, satu kolaborasi lain dengan Damon, dan pameran seni murni yang terpengaruh tarot The Suggestionists, di 2015. Dari semua proyek-proyeknya di luar Gorillaz, yang paling membekas baginya adalah perjalanan ke Bangladesh pada 2009 yang dibiayai Oxfam untuk menyelidiki dampak perubahan iklim. “Itu perjalanan yang luar biasa, tapi juga sangat menyedihkan,” ujarnya. “Melihat desa-desa yang tersapu habis setahun sekali—penduduk desa kehilangan anak, rumah dan segalanya.” Sekembalinya ke Inggris, Jamie menghasilkan serangkaian lukisan. “Lukisan-lukisan itu laku,” jelasnya. “Saya cuma minta semua uang hasil penjualannya dikirim ke desa-desa yang pernah saya kunjungi biar penduduknya bisa kembali membangun rumah mereka.”

Gambar hitam putih dari seri 'Pines'

Beberapa tahun ini, Kami terus menyempurnakan gaya gambar grafisnya. Dia melakukan perbaikan di sana-sini dengan berbagai perangkat. “Saya bisa menganggambar dan lukis dengan banyak gaya dan beragam medium,” ungkapnya. “Saya juga pernah bikin lukisan minyak. Bagi saya, ini cuma gambar biasa. Saya suka menggamar dan melukis—ini yang bikin saya bahagia. Begitu satu lukisan selesai dikerjakan, saya enggak peduli lagi: saya mulai melanjutkan dengan karya selanjutnya. Pines, contohnya—gambar-gambar hitam putih dengan obyek pohon-pohon pinus yang dijumpai Jamie di Semenanjung Cap Ferret, Perancis. Ini adalah obsesi terbarunya. “Pohon-pohon pinus itu jadi obsesi tersendiri,” jelasnya. “Saya waktu itu sedang liburan di Perancis dan saya mulai saja menggambar pohon-pohon pinus di sore hari, saat matahari begitu rendah hingga bayangan pohon pinus menimba batangnya sendiri. Saya melakukan ini karena ini memuaskan.” Poster fiktif untuk film 'Honey' Hubungan antara Jamie dengan karya-karyanya hanyalah salah satu dari sekian hubungan penting dalam hidupnya. Kolaborasi-kolaborasi—termasuk dengan Alan Martin, Brett Ewins, Steve Dillon, Richard Benson, Damon Albarn dan banyak lainnua—sangat krusial dalam perkembangan karya dan karir Jamie. Tak ayal, Jamie begitu terpukul ketika baru-baru ini Ewins dan Martin wafat. Kedua orang ini punya andil yang tak sedikit dalam mengangkat karir Jamie. Perempuan-perempuan dalam hidupnya juga tak kurang berjasa: istrinya, Emma de Caunes, aktris asal Perancis, tak bisa disepelekan begitu saja. Dia punya peranan yang penting dalam seri poster film eksploitasi ‘70an Suggestionists. Lalu, seperti sempat disinggung sebelumnya, ada rekan-rekan perempuan Jamie semasa kuliah yang jadi dasar karakter Tank Girl. "Saya kenal banyak perempuan cerdas, kuat, mengesankan dan menginspirasi. Tak ada lelaki dalam tim yang mengurus pertunjukan saya, kecuali saya dan Damon. Semua yang mengurus pertunjukan dan membuatnya terjadi adalah perempuan. Kerja mereka sangat bagus. Lalu, apa dong proyek Jamie berikutnya: pastinya ada hubungan caranya menafsirkan dunia, tebaknya. “Saya terobsesi dengan bagaimana sebuah benda terlihat?” katanya. “Saya visual person. Ngerti kan?”

Buku restropektif karya-karya Jamie Hewlett kini sudah diterbitkan oleh TASCHEN .