budaya bergosip

Kiat Menghentikan Kebiasaan Bergosip Menurut Beberapa Pakar

Lain kali kalau bergosip, fokuslah pada gosip-gosip positif, kalau memang ada tentunya. Eh tapi, kalau ngomongin kebaikan orang enggak sesuai sama faedah gosip dong ya?
12.7.18
Dua orang wanita uzur yang hidup bertetangga tengah ngobrol di Lower East Side, New York City, Juni 1983. Photo: Barbara Alper/Getty Images

Saban kali kita ngumpul—baik di tempat kerja, di sekolah, bersama keluarga atau teman-teman, gosip selalu jadi pemantik percakapan yang seru. Pasalnya, gosip sejatinya adalah percakapan tentang sekelompok orang; siapa yang dianggap masuk kelompok tertentu dan siapa pula yang dianggap berada di luar kelompok itu. Tiap kali ada gosip yang panas, percakapan akan makin intens dan orang-orang enggan mengakhiri obrolan, meski menggunjingkan orang lain selalu dianggap sebagai perbuatan yang kurang terpuji di seluruh penjuru dunia.

Sejak dulu, manusia memang tak bisa tidak mencampuri urusan orang lain. Malah, sejumlah peneliti mengatakan bahwa gosip selalu punya peranan penting dalam memajukan masyarakat di mana kita tinggal. Masalahnya, gosip bisa bergeser dari percakapan ringan tentang kehidupan pribadi orang lain menjadi kebiasaan destruktif kalau kita tak berhati-hati memilah informasi yang kita gunjingkan.

Nah, kalau kamu merasa kamu mulai jadi orang yang gampang menghakimi dan tak bisa mengerem diri dari mencampuri urusan orang lain lantaran keseringan bergosip, kamu masih belum terlalu terlambat untuk bertobat dan membenahi kebiasaan jelekmu yang satu itu. Atau sebaliknya, kalau kamu merasa terlalu sering terjerumus pada obrolan yang didasari “denger-denger” atau “eh ada yang bilang si anu,” kamu sebenarnya bisa menutup atau menarik diri percakapan ini dengan cara yang terhormat.

Iklan

Kami bertanya pada pakar etiket, pelatih bisnis dan terapis tentang cara menghentikan kebiasaan bergosip. Di bawah ini, kami sajikan jawaban yang mereka berikan. Tentu saja, jawaban pakar-pakar ini sudah kami ringkas biar lebih enak dibaca.

Pahami apa yang bikin kamu doyan bergosip

Apakah gosip membantumu melepaskan tekanan dalam dirimu? jika iya, alih-alih ngobrolin orang lain, pastikan kamu terus membicarakan dirimu sendiri. Apakah gosip sebenarnya cara kamu meminta tolong? jika begitu, maka bingkai percakapannya menjadi seperti ini “Aku lagi ada masalah dengan pasanganku nih, kamu punya kiat buat menghadapi pasanganku dengan lebih efektif?” Apakah gosip membantumu melewati hari-hari yang membosankan? jika begini kasusnya, sebisa mungkin temukan topik percakapan yang menarik dan konstruktif. kamu, misalnya, bisa ngomongin tentang proyek terbaru yang akan kamu pegang atau acara keren yang ingin sekali kamu ikuti.

Atau, jangan-jangan bergosip caramu mendapatkan banyak teman dan memengaruhi mereka? Sayangnya, gosip memang pada awalnya terlihat seperti membantumu mendapatkan banyak teman dan memenangkan hati mereka. Namun,sedikit demi sedikit kebiasaan jelek ini akan mengikis nama baikmu. Malah, kamu akan dijauhi orang lain. Jadi alih-alih bergunjing, kamu sebaiknya memberikan kontribusi positif pada orang lain. Misalnya, kamu bisa memberikan feedback positif dan menawarkan bantuan mengerjakan proyek yang sedang mereka kerjakan.[ Liane Davey](http://www.facebook.com/DrLianeDavey), Ph.D., penulis buku You First: Inspire Your Team to Grow Up, Get Along, and Get Stuff Done

Tetapkan batasan dan tetap selalu bicara tentang kebaikan orang

Saya menemukan fakta bahwa banyak orang, khususnya mereka yang baik dan gampang merasa kasihan, tak pernah belajar membuat batasan yang sehat. Mereka umumnya mengambil peran sebagai “pendengar yang baik,” tapi tanpa sengaja terseret dalam drama. Bila kamu bernasib seperti ini, segeralah belajar menarik batas dengan orang-orang pasif agresif yang doyan bergunjing dan mulailah bersikap tegas agar kamu bisa undur tiap kali obrolan yang kamu ikuti mulai dicampuri gosip. Niatan dalam ngobrol sangat penting. Dari keasikan bergunjing tentang keburukan orang lain, fokuskan obrolan pada gosip-gosip yang positif. Pastikan kamu hanya membicarakan kebaikan orang lain. Hormati orang lain dengan mengenang sifat-sifatnya yang positif. Kagumi pencapaian mereka. Jika kamu melakukan semua itu, suasana obrolan menyenangkan dengan teman akan kembali kamu rasakan.[ Melody Wilding](http://melodywilding.com/), pelatih dan pekerja sosial berlisensi.

Pikirkan matang-matang sebelum bergosip

kalau kamu merasa sudah keseringan bergosip, coba deh pikirkan pertanyaan-pertanyaan ini?

1. Yang dibicarakan bener enggak sih?
2. Gosipnya membantu atau cuma menyakiti orang lain?
3. Apakah yang gosipnya menginspirasi orang lain atau berpengaruh negatif bagi orang lain? jika memang menginspirasi maka yang dibicarakan bisa disebut gosip positif. Sebaliknya, jika bersifat negatif dan berpeluang menyakiti orang lain, kamu harus segera berhenti membicarakan gosip ini?
4. Perlu enggak sih orang lain mendengar gosip yang kamu dapatkan?
5. Pantas enggak sih membagi gosip dengan orang yang kenal atau malah tak mengenal obyek gosipnya sama sekali?

Iklan

Intinya sih, kalau kamu merasa terlalu sering bergunjing, sudah pasti kamu sedang menghadapi sebuah masalah tentang kebiasaan kamu ngobrol. Mungkin kamu harus menulis gol kamu setiap hari: Aku enggak akan ngegosip, aku enggak akan bohong. Lalu, cari teman yang selalu bisa mengecek keabsahan gosip yang kamu terima. Lebih baik lagi, kalau temanmu ini bisa memperingatkan kamu dengan cara yang sangat halus jika kamu mulai bergosip. Dengan demikian, kamu akan selalu tahu kapan kamu bergosip dan sesering apa kamu melakukannya.

Jacqueline Whitmore, Pakar Etiket Bisnis dan Pendiri The Protocol School of Palm Beach

Tempatkan dirimu di posisi orang lain

Tanyakan pada dirimu sendiri bagaimana rasanya kalau dirimu digosipkan oleh rekan kerjamu saat makan siang dan kamu tak sengaja mendengarnya? pasti pedih dan kamu dijamin pengin ngamuk. Pasalnya, gosip dibangun di atas potongan fakta dan berakhir menjadi sebuah informasi yang belum tentu benar. Jadi, kalau kamu tak mau menggosipkan orang lain karena kamu tahu pedihnya digosipkan, ganti guilty pleasure-mu dari bergosip menjadi makan es krim seminggu sekali atau beli jumpsuit yang kamu idam-idamkan. Julie Jansen, penulis dan pelatih karir.