Film

'Bend it Like Beckham' Adalah Kisah Cinta Sejenis Paling Indah Sepanjang Masa

Bila ditonton lebih teliti, film Inggris ini bukan semata perjuangan perempuan yang menggilai sepakbola. Inti ceritanya justru kisah cinta karakter Jess dan Jules.
13.2.19
Cuplikan adegan film 'Bend it Like Beckham'
Cuplikan film 'Bend it Like Beckham' dari arsip Fox Searchlight Pictures 

Tahun ini, saya enggak merayakan Valentine. Saya ingin jadi seperti tokoh Jess di film Bend It Like Beckham. Seperti Jess, saya menemukan sosok Jules dalam kehidupan pribadi saya.

Ini mungkin akan mengagetkan sebagian orang. Sebetulnya, Bend It Like Beckham adalah film tentang hubungan lesbian. Lebih tepatnya, film bergenre olahraga ini—salah satu yang terbaik dalam genre ini selama dekade 2000an—berkisah tentang kehidupan perempuan penyuka sesama jenis dan tracksuit Adidas.

Iklan

Di sisi lain, film ini juga menyentuh tema-tema lainnya seperti kerja sama tim, pertemanan dan bagaimana keduanya bisa berkembang menjadi hubungan cinta sesama jenis. Film yang diedarkan pada 2002 ini bercerita tentang Jess (diperankan oleh Pardminder Nagra) dan Jules (diperankan oleh Kiera Knightley). Dua sejoli ini berjuang agar diterima keluarga masing-masing. Bukan sebagai perempuan queer tapi sebagai pesepakbola perempuan.

Seiring saya tumbuh dewasa, Jules dan Jess adalah pasangan idaman favorit saya dari dunia sinema. Saya mengidentifikasi diri saya mirip kedua karakter lesbi tersebut. Pendeknya, saya sudah menjiplak semua yang mereka lakoni. Saya menentang hegemoni push-up bra buat perempuan, blak-blakan mengutarakan ketidaksukaan terhadap konsep pacaran dengan lawan jenis, sampai menjalin pertemanan dengan anggota kelompok LGBTQ. Jadi, wajar kalau saya ingin mereka tetap jadi pasangan sampai akhir film. Sayang sekali, harapan itu tak pernah kesampaian (kalau udah nonton, pasti kalian tahu gimana ending filmnya).

Makanya, dibanding merayakan Valentine, tahun ini saya memilih merayakan film ini sebagai kanon film komedi romantis dengan tokoh lesbian. Kenapa? Karena memang begitu kenyataannya kok. Enggak percaya? Tonton lagi filmnya dan coba deh perhatikan baik-baik chemistry antara Jess dan Jules.

Masih belum yakin? Mari kita bahas satu persatu tanda-tandanya.

Pertama dan yang paling kentara, nyaris separuh percakapan dalam Bend It Like Beckham terjadi antara kerabat Jess yang terus menyindirnya agar mau pacaran dengan laki-laki. Reaksi Jess terhadap omongan-omongan miring ini beraneka rupa, dari pucat, tersedak sampai marah karena baper. Cuma, Jess memang harus menolak cowok manapun yang mengajaknya kencan bukan karena dirinya gay tapi karena dirinya dianggap beda “dari gadis-gadis sebayanya.”

Iklan

Terdapat begitu banyak metafora dalam film ini—yang sayangnya kelewat homofobik—tentang menerima diri dan anak-anak kita apa adanya. Makanya tak aneh, bila dua karakter paling tidak anti gay dalam film itu adalah Jess yang menerima (dan menyelamati) temannya setelah melela di hadapannya dan Jules yang dengan berani berkata kepada ibunya yang homofobik bahwa “menjadi lesbian itu bukan masalah besar” setelah dirinya dituduh gay.

Terlepas dari semua metafora itu, estetika khas perempuan dalam film ini sebenarnya lesbian banget kok. Dalam sebuah adegan Jess membentak ibunya, “Aku pakai tracksuit dan suka olahraga tapi itu bukan berarti aku lesbian.” Bener sih, tapi Jess melupakan bahwa dirinya juga menunjukkan indikasi kuat bahwa dirinya seorang lesbian. Contohnya—dan ini yang paling penting—dia jatuh cinta pada temannya yang secara eksklusif memakai “tracksuit” dan menghias kamarnya dengan altar khusus untuk Beckham. Lagi pula, obsesi adalah salah satu penanda kaum gay yang paling kentara.

Kamar Jules, sebaliknya, dipenuhi dengan poster Mia Hamm dan—mengutip perkataan ibunya—”cewek-cewek berbokong besar” lainnya. Dalam satu adegan, kedua orang tua Jess menuduhnya mencium seorang lelaki di halte bus (padahal sosok yang dimaksud Jules dan mereka enggak ciuman sama sekali). Menghadapi tuduhan ini, Jess balik meradang “Aku? Ciuman? Sama cowok? Kalian gila. Kalian semua benar-benar gila.” Lalu di adegan lainnya, ibu Jess yang homofobik mengajaknya belanja Bra, tapi Jess keukeuh hanya mau memakai sport bra. Satu lagi yang mungkin kalian lewatkan, Jess juga memakai sejumlah bandana sepanjang film. Kita tahu, sepanjang dekade 2000an, bandana adalah penanda kaum lesbian yang definitif.

Iklan

Penonton mudah menjumpai simbol-simbol khas kaum lesbian ke manapun Jules dan Jesse pergi. Ada adegan saat keduanya datang ke sebuah klub di Jerman. Jules dan Jesse memperebutkan pelatih (diperankan oleh Jonathan Rhys Meyers) sampai sengit. Lalu ketiganya menari threesome di lantai dansa. Coba tebak lagu apa yang dipakai untuk mengiringi mereka ngedance bertiga? “I Turn To You” yang dinyanyikan Melanie C alias Sporty Spice, personal girlband Spice Girl yang jadi ikon gay pada era 90'an.

Ngomong-ngomong tentang Sporty Spice, Paula—ibu Jules—sempat berkomentar nyinyir, “aku cuma mau bilang ada alasan kenapa Sporty Spice jadi satu-satunya anggota Spice Girls yang enggak punya pacar." Duh gusti, gini loh tante Paula. Mel C itu gay. Ya iyalah dia enggak pacaran sama cowok seperti rekan-rekannya. (Oh ya satu lagi, ada dua lagu Mel C yang dimainkan dalam Bend It Like Beckham, tapi kalian pasti enggak sadar kan?).

Bukti selanjutnya adalah gay gazing, alias cara memandang khas kaum gay. Bahkan sebelum Jules memperkenalkan diri kepada Jess agar ditarik ikut serta dalam liga sepakbola khusus perempuan, dia sudah lebih dulu menatap Jess dua kali dari seberang sebuah taman dan mengerlingi Jess saat duduk di bangku taman. Asal kalian tahu, cara menatap orang seperti ini adalah fondasi 90 persen hubungan lesbian—semacam mating call kami. Percayalah, saya sendiri berulang kali melakukannya.

Di akhir cerita, setelah Jess dan Jules ribut tentang Joe, Jess mendapat ciuman mesra dan romantis dari Joe. Adegan ini jelas bikin penonton—apalagi yang lesbian—bingung. Ada dua alasannya: pertama, chemistry Joe dan Jess terlampau dipaksakan dan kedua, Jess menarik diri dan naik pesawat ke Amerika Serikat bersama Jules yang mengenakan jaket kulit. Maksud saya begini: okelah Jonathan Rhys Meyers itu keren dan saya menyukainya seperti saya menyukai aktor ganteng lainnya. Tapi, ayolah, di film ini, Joe cuma sad-boi yang punya masalah dengan ayahnya dan jatuh cinta pada salah satu pemainnya. Jelas bukan pasangan yang pantas bagi Jess.

Dalam konferensi Pers filmnya yang super queer Collete (2018), Kiera Knightley mengatakan kepada PrideSource bahwa seherusnya ada sekuel Bend it Like Beckham yang lebih lesbian dan mengamini bahwa karakter Jess dan Jules harusnya berakhir sebagai pasangan gay.

Nah itu dia yang penting saudara-saudara. Dari pernyataan Knightley, kita bisa menarik dua kesimpulan: 1) jatuh cinta pada teman dekat itu sampai kapanpun bukan sebuah kesalahan. Kebanyakan perempuan queer pernah mengalaminya. 2) Jika kamu dan pasanganmu suka kabur dari kantor untuk membeli sepakbola, nongkrong di pub ketawa-ketiwi ngobrolin sneakers dan akhirnya terbang keluar negeri untuk sama-sama jadi pemain sepakbola profesional..kalian berdua tak cuma jatuh cinta. Kalian adalah jodoh sehidup semati.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly