Perempuan Muslim

Mengintip Keseharian Perempuan Muslim yang Menjadi Petarung Profesional

Penulis sekaligus petarung Sara Kawthar merekam perjuangan sesama muslimah mendobrak stigma lewat instagramnya.
3.3.17

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia. Atlet judo Amerika Ronda Rousey mengalami masa kejayaannya sepanjang 2015. Media internasional terpana dan menyebutnya perempuan paling kuat di MMA. Kehadirannya dianggap sebagai sautan "fuck you" kepada banyak stereotipe mengekang perempuan di segala penjuru dunia. Di sisi lain, ketenaran Rousey masih berada dalam taraf kepatutan. Dia berada di tengah-tengah situasi aneh. Rousey adalah perpaduan idaman lelaki—cewek pirang idola semasa SMA—sekaligus mimpi buruk laki-laki brengsek. Tubuh Rousey yang dibalut bikin dirayakan sebagai bukti bahwa Sang Perempuan Sempurna benar-benar ada dan nyata: pejuang ramping berkulit putih dengan rambut panjang bernuansa terjemur matahari, menutupi sebagian payudaranya dengan tangan berbalut perban tinju pink, di sampul majalah Sports Illustrated. Tapi sejauh mana kita bisa mendobrak pengertian perempuan kuat? Bisakah, misalnya, seorang perempuan Muslim—yang seringkali dianggap penurut "karena agamanya"—dihargai serius sebagai petarung profesional? Ini adalah pertanyaan yang diajukan blogger sekaligus kickboxer Sara Kawthar. Melalui akun Instagram Muslim Female Fighters, Sara menampilkan potret perempuan Muslim yang jarang disorot media: perempuan-perempuan perkasa atas pilihannya sendiri.

"Media di Barat menjahit narasi bahwa perempuan-perempuan Muslim penurut. Jadi saya paham mengapa orang-orang langsung berasumsi begitu," ujar Sara. "Menurut tradisi, perempuan-perempuan Muslim tidak terlibat dalam banyak kegiatan olahraga, apalagi olahraga tarung." Di banyak negara Muslim, perempuan sulit mendapatkan akses ke sasana tarung. Selama pertandingan mancanegara, dampak dari situasi tersebut mencuat ke permukaan: Sara merujuk minimnya partisipasi perempuan muslim dalam cabang olahraga pertarungan di ajang Olimpiade, tempat berkumpulnya para petarung perempuan seluruh dunia. "Menyedihkan deh," ujar dia. "Kondisi di Olimpiade mengukuhkan stereotipe yang ada." Sara secara pribadi berkeinginan untuk menunjukkan komunitas petarung Muslim di seluruh dunia. Dia adalah perempuan Muslim yang bangga akan identitasnya, mengenakan jilbab, dan juga seorang kickboxer. "Dari dulu saya selalu berpartisipasi dalam liga-liga sepak bola, lalu menemukan minat di taekwondo, dan kini kickboxing," ujarnya sambil tertawa. "Saya rasa saya senang menggunakan kaki saya!" Pada kompetisi, Sara mengaku belum pernah mengalami diskriminasi karena agamanya, namun menyadari bahwa dia termasuk salah satu yang "beruntung." Dia bilang dia mengenal "banyak perempuan yang diberi ultimatum… antara mencopot jilbab mereka, atau terkena sanksi."

Organisasi-organisasi seperti AIBA (dan USA Boxing, hingga tingkatan tertentu) melarang pemakaian jilbab. "AIBA bilang mereka punya aturan soal 'keamanan' dan 'luka-luka yang telah ada sebelumnya.'" Namun jika kompetisi Muay Thai—olahraga yang amat mungkin menyebabkan luka dan cedera di bagian kaki dan lengan—bisa membuat penyesuaian pada aturan mereka dan mengakomodasi perbedaan budaya, mestinya boxing juga bisa," ujar Sara.
Muslim Female Fighters bermula karena Sara ingin melihat apakah ada "perempuan-perempuan lain yang seperti saya." Yang dia maksud adalah perempuan-perempuan Muslim berjilbab yang gemar kickboxing. "Ternyata, ada banyak," ujarnya. "Saya ingin menggunakan blog saya untuk berhubungan dengan mereka, yang tersebar di seluruh dunia." Petarung Muay Thai profesional Australia Carol Earl adalah perempuan pertama yang menarik perhatian Sara. Carol adalah satu-satunya petarung Australia yang mengenakan jilbab, dan dia mengaku melepas jilbabnya boleh jadi pilihan yang lebih mudah, mengingat reaksi tidak menyenangkan dari penonton ketika dia masuk ke ring pertarungan. Namun, reaksi penonton berubah menjadi kekaguman ketika mereka menyaksikan kecakapan Carol bertarung. Seperti Sara, dia memiliki misi untuk menantang bagaimana orang-orang memandang Islam; terutama asumsi keliru bahwa semua perempuan Muslim tunduk pada norma patriarkis.

Di blognya, Sara akan memposting wawancara-wawancara dengan perempuan-perempuan tersebut. Perlahan namun pasti, direktori petarung perempuan Muslim berkembang. Ketika dia memulai proyek ini, Sara berasumsi dia akan kehabisan orang untuk diposting. "Tapi nyatanya, keren banget, setelah tiga tahun laman Instagram ini semakin kuat," ujarnya. "Bahkan persepsi saya sendiri soal perempuan Muslim di jenis olahraga ini bergeser selama mengerjakan proyek. Ada lebih banyak penggemar tarung di kalangan perempuan Muslim dari yang mulanya saya sadari." Selama lima tahun belakangan, Sara bilang dia telah menyaksikan perkembangan signifikan soal bagaimana petarung perempuan Muslim dipandang. "Boxing perempuan tadinya tidak ada di Pakistan, namun kini telah ada penjuru negeri, dengan harapan Pakistan mengiring petarung perempuan ke Olympics selanjutnya. Mesir dan Malaysia sedang mempersiapkan banyak petarung perempuan Muslim MMA." ujarnya. "Turki dan Moroko memiliki perhelatan kickboxing dan Muay Thai perempuan yang giat. Maryam El Moubarik memenangkan medali emas mewakili Moroko di kompetisi mancanegara Muay Thai, dengan mengenakan hijab!"

Bagi Sara, kunci membongkar stereotipe dan stigma adalah "terus menceritakan kisah-kisah tentang perempuan Muslim inspiratif. Persepsi masyarakat akan berubah." Sara amat tersanjung dengan dukungan yang dia dapatkan untuk proyek ini. Bahkan ada sekumpulan perempuan Muslim yang mengikuti perkembangan dia, dengan harapan dapat menemukan motivasi untuk mengenakan sarung tinju dan bergabung ke gerakan ini.
"Amat menakjubkan bagi saya bisa bertemu dengan perempuan-perempuan yang mulanya takut pergi ke sasana, apalagi mengikuti kelas kickboxing, dan kemudian bertanding. Transformasinya gila banget sih." Dari blognya dia mengembangkan grup Facebook terbatas yang menonjolkan 500 perempuan Muslim yang menggemari berbagai olahraga tarung. "Kami mendukung satu sama lain, saling mengirimkan foto saat berkompetisi, untuk perbaikan diri masing-masing," ujar Sara.
Ketika ditanya soal hasil pemilu AS, dia berkata, "Perempuan-perempuan [Muslim] dipukuli; jilbab mereka dicopot secara paksa karena iklim politik kita saat ini. Ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat. Saat ini amat penting bagi setiap perempuan, terutama perempuan Muslim, untuk [merasa berdaya]."

Follow Madison di Instagram