The VICE Guide to Right Now

Tas Berisi Debu Bulan Milik Neil Armstrong Akan Dilelang

Setelah pernah dicuri, hilang dan akhirnya ketemu lagi, artefak perjalanan perdana manusia ke bulan bakal dilelang dengan harga awal Rp26 miliar.
Drew Schwartz
Brooklyn, US
24.5.17
Foto dari arsip rumah lelang Sotheby's.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.

Dari semua barang-barang unik yang pernah dilelang oleh manusia—mulai dari abu jasad jurnalis Truman Capote sampai G-string milik Patrick Swayze—tas kecil yang pernah dipakai Neil Armstrong untuk mengumpulkan sampel debu bulan di tahun 1969 kemungkinan besar jadi item paling ikonik dan bersejarah dilelang. Setelah melewati perjalanan bolak balik dari bumi ke bulan, hilang tanpa jelas juntrungannya, disimpan di pengadilan negara, artefak yang tak ternilai harganya ini akhirnya berakhir di rumah lelang, sepert yang dilaporkan oleh surat kabar The Washington Post.

Iklan

Rumah lelang Sotheby's akan memberikan tas Armstrong pada penawar paling tinggi dalam sesi lelang 20 Juli mendatang di New York—bertepatan dengan hari ulang tahun pendaratan Apollo 11 di Bulan. Tas bersejarah ini diharapkan laku antara $2 juta (setara Rp26 miliar) sampai $4 juta (setara Rp52 miliar). Hampir semua relik dari perjalanan Apollo 11 ke bulan disimpan dengan baik di Smithsonian. Menurut keterangan yang dikeluarkan Sotheby's, tas ini adalah satu-satunnya barang yang dari momen-momen bersejarah itu yang dimiliki oleh warga sipil.

Armstrong menggunakan tas ini untuk mengumpulkan sampel pertama dari permukaan Bulan dan membawanya kembali ke Bumi di akhir misinya pada tahun 1969. Pemerintah Amerika Serikat kemudian meniliti spesimen yang dibawa pulang Armstrong. Tas penampung sampel itu sendiri kemudian dinyatakan sebagai harta nasional—sebelum akhirnya hilang. Tas itu baru diketahui lagi keberadaannya setelah FBI menemukannya di garasi rumah milik seorang pria pengelola musim luar angkasa di Kansas. Kembali ke tangan Pemerintah tak serta merta bikin nasib tas ini membaik. Tak lama berselang, Pemerintah AS keliru memberinya label dan melelangnya sebagai relik dari misi yang tak begitu penting. Nancy Carlson, seorang pengacara dari Chicago, berhasil memilikinya cuma dengan menggelontorkan uang sebanyak $995 (setara Rp13 juta) dalam sesi lelang yang digelar tahun 2015 lalu. Selepas mengirimkan benda berharga yang baru diperolehnya ke NASA untuk diperiksa, Carlson akhirnya tahu bahwa tas tersebut pernah digunakan Armstrong setelah melakukan "lompatan besar untuk manusia"—gampang ditebak, Pemerintah Negeri Paman Sam ingin tas itu kembali ke tangan mereka.

Setelah melewati peseteruan yang melelahkan di pengadilan, hakim memutuskan Carlson berhak menyimpan tas bersejarah itu. Namun, setelah menyadar nilai benda itu, dia memutuskan untuk kembali melelangnya. Carlson berencana menyumbangkan sebagaian hasil penjualan tas ke beberapa lembaga amal dan menggunakan sebagian lainnya untuk mendirikan dana beasiswa di alma maternya, Northern Michigan University.

Foto jejak kaki astronot di permukaan bulan dari arsip Rumah Lelang Sotheby's.

NASA masih tetap berharap tas tersebut tak berakhir di tangan warga sipil.

"Kami percaya artefak adalah milik semua warga negara Amerika Serikat dan seharusnya dipajang di ruang publik, seperti sediakala sebelum semua kejadian tak patut disayangka ini terjadi," ujar NASA dalam sebuah pernyataan.

Tak susah untuk bersimpati dengan permintaan NASA. Sayangnya, jika melihat rekam jejak perlakukan Pemerintah AS merawatnya, mungkin jauh lebih baik jika tas ini dimiliki pribadi berkantung tebal dan bisa mengenali tas bersejarah ini dengan akurat.

Follow Drew Schwartz di Twitter .