Budaya Pop

Plot 'American Horror Story' Gambarkan Obsesi Indonesia Pada Kekerasan dan Tragedi

Musim terbaru serial televisi itu menunjukkan problem sosial yang sangat relevan dengan kondisi di Tanah Air akibat rendahnya kemampuan literasi masyarakat.
10.11.17
Screenshot (AHS: Cult) 

*Ulasan ini mengandung spoiler

Serial televisi American Horror Story berulang kali menyajikan tokoh antagonis yang sulit dilupakan. Mulai dari keluarga Langdon yang mengerikan, Badut Twisty yang menciptakan mimpi buruk, dan The Butcher yang sadis. Sebetulnya karakter yang paling mengerikan musim ini adalah sosok reporter berita TV Beverly Hope (diperankan Adina Porter) musim ini. Dia bukanlah salah satu karakter utama, atau bahkan yang paling menarik—gelar ini disimpan untuk Kai Anderson (Evan Peters), seorang pemimpin sekte manipulatif. Cerita tentang Beverly dan Kai, siapa sangka, bisa menjelaskan gejala voyeurisme terpendam di bawah permukaan yang sekarang sedang dialami masyarakat Indonesia.

Iklan

Tema utama American Horror Story musim ini, yang diberi judul 'AHS:Cult', adalah perumpamaan gelap tentang “hilangnya komunikasi sebagai bangsa,” menurut salah satu aktor tetap serial tersebut, Sarah Paulson. Seri ini memanfaatkan momen pemilu presiden AS untuk menggambarkan perasaan teralienasi, kebingungan, dikhianati, dan kebahagiaan yang dirasakan warga Amerika sebelum, sesaat, dan setelah pemilu berakhir. Paulson memerankan Ally Mayfair-Richards, pemilik restoran berideologi liberal mengidap stres setelah Donald Trump memenangkan pemilu. Dia memainkan kebalikan dari Kai, seorang pria rumahan terganggu yang ingin menebarkan teror di kota suburban midwest AS. Di episode kelima AHS: Cult, kita menyadari kultus pimpinan Kai sudah menyebar luas, bahkan mempengaruhi keluarga tokoh utama. Dia mengubah semua orang di dalam kehidupan Kai, mulai dari babysitter, tetangga, dan bahwa istri/partner bisnisnya menjadi badut haus darah.

Kelompok pembunuh ini menyadari sesuatu semenjak awal—bahwa kejahatan mereka harus diatur sedemikian rupa dan dijual ke media apabila mereka ingin mencapai tingkat teror sesuai keinginan. Lalu apa peran Beverly? Dia adalah sosok pembawa berita stasuin TV lokal, tipe jurnalis yang berdiri di depan sebuah kamera dan melaporkan kecelakaan mobil atau kebakaran rumah. Posisinya memberikan akses yang dibutuhkan cult Kai untuk menyebarkan berita tentang brutalitas kelompok mereka. Tidak lama kemudian, Beverly mulai melakukan pembunuhan sendiri, menghabisi saingan kerja demi menjaga posisi pembawa acara, kemudian turut membunuh bosnya dalam seri pembantaian brutal yang terekam dalam kamera.

Beverly mengemas rangkaian pembunuhan tersebut sebagai berita aksi gang pembunuh misterius yang menandai rumah korban dengan cat semprot bergambar logo wajah tersenyum. Dia mengatakan kejahatan semacam ini tengah meningkat sebelum mulai berkotbah tentang teori konspirasi melibatkan truk kimia dan plot pemerintah. Dia membuat masyarakat paranoid dan menyebabkan mereka menginginkan “perubahan."

Propaganda sekaligus upaya Beverly menebar paranoia sukses karena penontonnya dihadapkan dengan imej pembantaian yang sadis. Ingat pepatah lama dalam dunia televisi? “Apabila ada darah, akan timbul reaksi.” Ada alasan mengapa pemeo ini masih akurat sampai sekarang. Sebab orang selalu tertarik dengan cerita tentang tragedi dan kekerasan.

Iklan

Mari kita lihat beberapa kasus yang baru terjadi di Indonesia, untuk melihat korelasinya. Ketika Jessica Wongso membunuh temannya, Wayan Mirna Salihin, memakai kopi yang diracun di sebuah restoran trendi di Jakarta Pusat, warga Indonesia yang penasaran mengerubungi restoran tersebut demi mencoba secangkir kopi Vietnam yang ditenggak korban—tanpa kandungan sianida, tentunya. “Sejak kasus tersebut, bisnis kami meledak,” kata seorang pramuniaga kafe terbunuhnya Mirna saat diwawancarai reporter New York Times.

Atau bagaimana cepatnya foto mengerikan korban serangan teroris, penembakan, atau kecelakaan lalu lintas disebar oleh grup WhatsApp kita. Ketika gerai Starbucks di Jakarta Pusat menjadi obyek serangan teroris ISIS, foto-foto penuh darah yang mengerikan langsung memenuhi WhatsApp kita. Kita tinggal dalam sebuah negara di mana pengemudi sepeda motor kerap berhenti di pinggir jalan hanya untuk menyaksikan kecelakaan lalu lintas. Negara di mana video dua kakak-beradik perempuan yang meloncat bunuh diri dari gedung apartemen diunggah ke Twitter oleh sebuah media besar tanpa peringatan apapun, negara di mana saluran berita TV pernah menayangkan footage live korban dari kecelakaan pesawat mengambang di lautan selama beberapa menit sebelum memotong tayangan.

Masyarakat Indonesia memiliki kebiasaan mengirimkan foto atau video mengerikan macam ini ke teman-temannya, lewaat Whatsapp atau media sosial, tanpa berpikir dua kali. Memang, beberapa imej ini muncul dengan peringatan agar semua orang berhati-hati, tapi kenapa juga kita harus mengirimkan video sadis hanya untuk mengingatkan teman dan sanak saudara menjaga diri?

Kenapa sih kita doyan banget sama hal-hal yang mengerikan? Apa kita perlu melihat imej-imej macam ini untuk mengerti peristiwa mengerikan di luar sana? Atau kita kekurangan empati? Atau karena orang Indonesia punya terlalu banyak empati? Apa kita kecanduan dengan rasa takut? Kecanduan misteri? Atau kita sudah terlalu terbiasa melihat foto-foto sadis saking seringnya dibagikan?

Penting untuk diingat betapa banyaknya informasi yang kita dapat setiap harinya. Melimpahnya informasi adalah gejala baru di negara ini. Indonesia memiliki salah satu tingkat perkembangan penetrasi internet tercepat di dunia. Pada 2016, penelitian melaporkan tingkat perkembangan koneksi internet di Tanah Air bertambah lebih dari 50 persen setiap tahunnya. Ada banyak sekali orang yang merasakan dunia online pertama kalinya, memasuki dunia di mana mereka dihujani informasi baru setiap detik. Tingkat literasi yang rendah di Indonesia bukan kombinasi yang bagus ketika ditambah kemudahan akses informasi lewat koneksi Internet murah.

Tidak heran bila akhirnya kisah atau berita sensasional yang menarik perhatian masyarakat Indonesia. Apa lagi yang lebih sensasional dari cerita kejahatan atau kecelakaan lalu lintas yang brutal? Dalam seri AHS:Cult, Beverly menyadari kecenderungan masyarakat seperti itu. Obsesi masyarakat pada sensasionalisme, yang dikompori terus oleh media, menjadi alasan kenapa berita palsu dan hoax sangat mudah dipercayai. Sementara berita akurat dan penting justru diabaikan. Cerita palsu bisa dibentuk untuk mengeksploitasi rasa penasaran kita sementara pengungkapan realita tidak bisa menimbulkan efek serupa.

“Warga Indonesia tidak suka membaca, jadi kita keras kepala,” kata Garcia Rahsti, pakar media sosial. “Kita membaca berita yang muncul duluan, bukan yang akurat. Kita tergila-gila dengan persaingan, siapa yang mengetahui berita paling cepat dipandang sebagai yang paling pintar. Tapi ketika beritanya ternyata palsu, mereka marah-marah.”

Manusia di manapun cenderung mudah diperdaya ataupun percaya bahwa sebuah cerita yang beredar di media selalu nyata. Tidak heran bila Beverly sanggup mengubah peristiwa pembunuhan—pembunuhan yang dia lakukan—menjadi berita menghibur. Jadi sebetulnya siapa yang harusnya kita takuti, cult pembunuh atau sang pembawa berita yang menyajikan mereka menjadi sebuah fenomena yang lantas memicu teror di masyarakat?